Mengapa Mahasiswa Lebih Nyaman Bercerita kepada AI daripada kepada Manusia?
Teknologi | 2026-06-23 03:42:08
Setiap kali muncul kabar mahasiswa yang mengakhiri hidupnya, respons masyarakat hampir selalu serupa. Ada yang mengatakan bahwa korban kurang mendekatkan diri kepada Tuhan. Ada yang beranggapan bahwa ia terlalu menutup diri dari lingkungan sekitar. Tidak sedikit pula yang menyimpulkan bahwa semua itu terjadi karena korban terlalu lama memendam masalah dan tidak mencari bantuan.
Berbagai pendapat tersebut mungkin lahir dari kepedulian. Namun, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: bagaimana jika seseorang sebenarnya ingin bercerita, tetapi tidak memiliki tempat yang membuatnya merasa aman untuk didengar?
Pertanyaan ini penting karena persoalan kesehatan mental tidak selalu sesederhana keberanian untuk berbicara. Penelitian Kosyluk et al. (2021) menunjukkan bahwa keengganan mencari bantuan sering kali bukan disebabkan oleh kurangnya keberanian, melainkan karena adanya ketakutan terhadap stigma dan pelabelan sebagai orang yang memiliki masalah mental. Dalam situasi seperti ini, seseorang dapat memilih diam bukan karena tidak membutuhkan bantuan, tetapi karena khawatir terhadap respons yang akan diterimanya setelah berbicara.
Sebagai mahasiswa Universitas Airlangga, saya sering melihat teman-teman di sekitar saya berusaha terlihat baik-baik saja meskipun sedang menghadapi banyak tekanan. Tekanan tersebut tidak hanya berasal dari tugas dan nilai, tetapi juga dari persoalan ekonomi, tuntutan keluarga, persaingan prestasi, hingga kecemasan mengenai masa depan. Di tengah berbagai tuntutan itu, banyak mahasiswa merasa harus tetap kuat dan mampu menyelesaikan semuanya sendiri.
Masalahnya, tidak semua mahasiswa memiliki ruang yang nyaman untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Ketika seseorang mencoba bercerita tentang kelelahan, kecemasan, atau kesulitan yang sedang dihadapi, respons yang muncul tidak selalu memberikan rasa aman. Keluhan kerap dibalas dengan nasihat yang terburu-buru, perbandingan dengan orang lain, atau anggapan bahwa masalah tersebut hanyalah bentuk kurang bersyukur dan kurang berusaha. Kosyluk et al. (2021) menemukan bahwa semakin besar stigma terhadap gangguan mental di lingkungan seseorang, semakin besar pula kecenderungannya untuk menghindari pengungkapan masalah dan pencarian bantuan.
Pada akhirnya, tidak sedikit mahasiswa yang memilih memendam apa yang mereka rasakan. Mereka mungkin sudah mengetik pesan panjang kepada teman atau keluarga, lalu menghapusnya kembali sebelum dikirim. Bukan karena tidak membutuhkan bantuan, tetapi karena takut dianggap lemah atau menjadi beban bagi orang lain.
Hal ini dapat dipahami melalui konsep psychological safety, yaitu perasaan aman untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan tanpa takut dihakimi, dipermalukan, atau diremehkan. Ketika rasa aman tersebut tidak tersedia, seseorang cenderung memilih diam meskipun sebenarnya membutuhkan dukungan.
Yoseppin et al. (2025) menjelaskan bahwa banyak individu merasa lebih nyaman membicarakan masalah pribadi kepada chatbot AI karena mereka tidak perlu khawatir membebani orang lain maupun menerima penilaian negatif. Penelitian yang mereka ulas juga menunjukkan bahwa individu yang merasa terisolasi atau mengalami kecemasan sosial cenderung memilih berkomunikasi dengan chatbot karena sifatnya yang anonim dan bebas dari tekanan sosial.
Bagi mahasiswa, persoalan ini sering kali menjadi lebih rumit ketika melibatkan keluarga. Banyak mahasiswa menyadari bahwa pendidikan yang mereka tempuh membutuhkan biaya, waktu, dan pengorbanan yang besar dari orang tua. Kesadaran tersebut membuat sebagian dari mereka enggan mengungkapkan kesulitan yang sedang dihadapi karena takut menambah beban pikiran keluarga.
Saya tidak menulis ini untuk mengatakan bahwa orang tua tidak peduli terhadap anaknya. Sebaliknya, banyak orang tua justru sangat peduli. Namun, kepedulian tidak selalu membuat seseorang merasa aman untuk bercerita. Terkadang seseorang memilih diam karena tidak ingin mengecewakan orang yang paling ia sayangi.
Temuan Luo et al. (2025) menggambarkan kondisi ini dengan jelas. Dalam penelitian terhadap pengguna ChatGPT dari berbagai negara, sejumlah partisipan mengaku menggunakan chatbot untuk meluapkan kesedihan, kemarahan, maupun perasaan depresi karena tidak ingin membuat orang-orang terdekat mereka khawatir. Bagi mereka, chatbot menjadi ruang untuk mengekspresikan emosi yang sulit disampaikan kepada keluarga atau lingkungan sekitar.
Dalam beberapa tahun terakhir, sebagian mahasiswa mulai memilih mencurahkan kegelisahannya kepada chatbot berbasis kecerdasan buatan seperti ChatGPT. Pilihan ini bukan berarti teknologi mampu menggantikan hubungan antarmanusia. Sebaliknya, fenomena ini menunjukkan adanya kebutuhan akan ruang yang terasa aman untuk mengekspresikan perasaan.
Luo et al. (2025) menemukan bahwa banyak pengguna merasa nyaman dan aman secara emosional ketika berinteraksi dengan ChatGPT. Sementara itu, Yoseppin et al. (2025) mencatat bahwa ketersediaan chatbot selama 24 jam serta respons yang terasa empatik membuat sebagian pengguna menganggapnya sebagai teman berbicara yang mudah diakses kapan saja.
Menurut saya, fenomena ini bukan berarti chatbot lebih baik daripada manusia. Justru fenomena ini menunjukkan bahwa masih banyak orang yang kesulitan menemukan ruang aman untuk bercerita di lingkungan sekitarnya. Ketika sebuah teknologi dapat memberikan rasa aman yang tidak ditemukan dalam hubungan sehari-hari, mungkin yang perlu kita pertanyakan bukan teknologinya, melainkan kualitas ruang sosial yang kita miliki.
Luo et al. (2025) juga menemukan bahwa sebagian pengguna merasa malu karena bergantung pada chatbot untuk mendapatkan dukungan emosional. Temuan ini menunjukkan bahwa chatbot bukan solusi yang sepenuhnya bebas dari persoalan; ia hanya menghadirkan bentuk tantangan yang berbeda.
Karena itu, respons terhadap persoalan kesehatan mental mahasiswa tidak cukup berhenti pada kalimat "jangan dipendam sendiri" atau "cobalah lebih terbuka". Ajakan untuk bercerita harus diiringi dengan kesediaan untuk mendengarkan tanpa menghakimi. Sebagaimana ditegaskan Yoseppin et al. (2025), teknologi seharusnya berperan sebagai pelengkap, bukan pengganti hubungan interpersonal manusia.
Pada akhirnya, persoalan ini bukan hanya tentang kesehatan mental mahasiswa. Persoalan ini juga tentang bagaimana masyarakat memandang kerentanan. Selama seseorang masih takut dicap kurang beriman, kurang bersyukur, lemah, atau gagal ketika mengungkapkan kesulitannya, maka tidak semua orang akan berani berbicara meskipun mereka sangat ingin didengar.
Mungkin persoalannya bukan karena mahasiswa tidak mau bercerita.
Mungkin persoalannya adalah karena kita terlalu sering mengajarkan pentingnya berbicara, tetapi terlalu jarang belajar mendengarkan.
Referensi
Kosyluk, K. A., Conner, K. O., Al-Khouja, M., Bink, A., Buchholz, B., Ellefson, S., Fokuo, K., Goffin, J., Hover, S., Kuhn, L., Mathew, S., Mitchell, J., Schmidt, A., Vu, T., & Corrigan, P. (2021). Factors predicting help seeking for mental illness among college students. Journal of Mental Health, 30(3), 300–307.
Luo, X., Wang, Z., Tilley, J. L., Balarajan, S., Bassey, U. A., & Cheang, C. I. (2025). Seeking emotional and mental health support from generative AI: Mixed-methods study of ChatGPT user experiences. JMIR Mental Health, 12, e77951.
Yoseppin, G., Dewi, P. A. M. N., & Purba, Y. K. (2025). Fenomena chatbot AI sebagai teman curhat: Implikasi pada hubungan antarpribadi di era digital. CALATHU: Jurnal Ilmu Komunikasi, 7(1), 45–53.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
