Hilangnya Identitas pada Desain Antarmuka Video Game Modern
Agama | 2026-06-22 13:24:53Pernahkah kita menyadari ada sesuatu yang berubah ketika mencoba memainkan beberapa video game modern secara berurutan. Setelah beberapa jam, kita merasa seperti sedang membuka game yang berbeda dengan menu yang sama. Peta berada di sudut yang familiar, ikon misi memiliki bentuk yang mirip, dan inventaris disusun dengan pola yang sudah sering kita lihat sebelumnya.
A. Mengapa Menu Video Game Modern Terasa Identik dan Membosankan
Jika kita lihat dari beberapa video game rilisan tahun 2018 seperti God of War, dan Spiderman atau versi terbaru mereka yaitu God of War Ragnarok dan Spiderman 2. Bisa dilihat bahwa kedua game tersebut memiliki UI yang menarik, namun dipenuhi dengan informasi yang tidak diperlukan seperti, Map dunia dipenuhi logo-logo aktivitas dan misi, ada menu skill tree, kustomisasi senjata dan armor, yang pada seri sebelumnya tidak diperlukan. Entah mengapa industri game modern sangat terobsesi untuk memasuki elemen RPG dalam gamenya yang tidak memerlukannya, terutama sistem progresinya yang hanya membuat ruang kreativitas desain UI semakin sempit dikarenakan informasi-informasi yang sebelumnya tidak diperlukan, dimasukkan
B. Remake vs Original, Soulless vs Soul
Apa yang terjadi jika video game yang kalian mainkan waktu kecil mendapatkan update berupa grafis lebih bagus dan gameplay baru? Hal itu disebut remake. Perubahan style UI dari zaman ke zaman pada sebuah games dapat mudah diketahui dari membandingkan versi remake dan originalnya. Saya ambil Resident Evil 4 (2005) dan Resident Evil 4 Remake (2023) sebagai contoh. Ada video youtube berjudul “RE4 is timeless, RE4 Remake is a product of its time”, Berdasarkan video tersebut sang creator mengambil beberapa kritik dari beberapa youtuber mengatakan bahwa UI versi remake menjadi terlalu minimalis dan bersih dibanding versi originalnya yang kotor dan berkarat untuk mendukung latar tempat dan atmosfer horor gamenya. Dari sini terjadilah perpecahan antar fans tentang versi mana yang memiliki “jiwa”. UI yang baru dikatakan terlalu bersih dibandingkan dengan versi asli yang lebih kotor didukung oleh tekstur berkarat mendukung elemen horornya. Pada versi original, UI memiliki lebih banyak tekstur seperti, penunjuk berapa peluru yang masih dimiliki diberi tekstur besi berkarat didampingi dengan nama sang karakter di sebelahnya. Sedangkan pada versi remake hal ini diganti dengan garis tipis dan ikon senjata putih standar, lebih minimalis dibanding versi originalnya yang jika dilihat dari tampangnya saja bisa saja dikira game-game lain
Dikarenakan muaknya pemain dengan UI yang identik dan membosankan, bersinarlah studio game kecil. Saat Triple-A perlahan kehilangan keunikan UI mereka, muncullah video game dengan budget dan tenaga kerja yang lebih rendah memberikan keunikan pada UI mereka. Game buatan Studio Atlus seperti seri Persona yang terkenal karena UI yang sangat menarik dimata dan interaktif menjadikan Atlus raja dalam desain UI game. Lalu ada Ultrakill yang dikembangkan oleh satu orang bernama ‘Hakita’ dimana UI pada game ini cukup minimalis namun masih memiliki seni agar terlihat seperti bagian pada dunianya. Salah satu bagian yang menarik yaitu ketika pemain membeli senjata melalui menu utama berbentuk terminal komputer dengan tampilan teks berkedip-kedip seperti layar CRT monitor.
Pada akhirnya UI sebuah game bukan hanya sekedar tombol untuk ditekan, tapi juga bentuk artistik dari tema, latar, dan pesan game tersebut. Sebuah UI baik adalah UI yang dapat menyeimbangkan bagian seni dengan fungsi, karena masing-masing genre pasti memiliki kepentingan tersendiri dalam informasi yang perlu disampaikan melalui UI mereka
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
