Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Kaylaa Zaenab Arafah

Perceraian Menjadi Awal Tantangan Kesehatan Mental

Agama | 2026-06-21 13:55:07

Program Studi Psikologi

Fakultas Psikologi

Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Qayla Putri Pratistha (2508015054)

Kayla Zaenab Arafah (2508015054)

Perceraian Bukan Hanya Urusan Hukum

Perceraian bukan lagi fenomena yang asing di tengah masyarakat Indonesia. Data dari berbagai lembaga menunjukkan bahwa angka perceraian terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Di balik setiap putusan perceraian, terdapat kisah tentang harapan yang kandas, konflik yang tak terselesaikan, dan keluarga yang harus beradaptasi dengan realitas baru. Namun, satu hal yang sering luput dari perhatian publik adalah dampak perceraian terhadap kesehatan mental seluruh anggota keluarga.(Januari, 2023)

Masyarakat umumnya memandang perceraian sebagai persoalan hukum atau urusan pribadi pasangan suami istri. Padahal, dampak yang ditimbulkan jauh lebih luas daripada sekadar berakhirnya ikatan pernikahan. Perceraian dapat meninggalkan luka emosional yang tidak terlihat, baik bagi pasangan yang berpisah maupun bagi anak-anak yang berada di tengah situasi tersebut.

Permasalahan Mental Pasca Perceraian

Bagi pasangan suami istri, perceraian merupakan pengalaman hidup yang sarat dengan tekanan emosional. Berakhirnya sebuah pernikahan sering menimbulkan berbagai perasaan yang bercampur, mulai dari kehilangan, kekecewaan, kemarahan, hingga kesedihan yang mendalam. Selain menghadapi dampak emosional, mereka juga harus beradaptasi dengan perubahan kondisi ekonomi, pola kehidupan sehari-hari, serta pandangan negatif yang terkadang muncul dari lingkungan sosial. Jika tidak dikelola dengan baik, situasi tersebut dapat memengaruhi kesehatan mental dan memicu masalah psikologis.(Istiqamah et al., 2022)

Pada hubungan yang dipenuhi konflik terus-menerus atau kekerasan dalam rumah tangga, perceraian terkadang menjadi jalan untuk mengakhiri tekanan psikologis yang selama ini dirasakan. Namun, berpisah secara hukum tidak serta-merta menghapus luka emosional yang telah terbentuk selama bertahun-tahun. Proses pemulihan tetap membutuhkan waktu dan dukungan dari berbagai pihak.

Dampak Perceraian Bagi Kesehatan Mental Anak

Anak sering kali menjadi pihak yang paling rentan. Mereka belum memiliki kemampuan emosional yang cukup untuk memahami alasan di balik perpisahan orang tua. Akibatnya, banyak anak yang merasa bingung, sedih, bahkan menyalahkan dirinya sendiri atas perceraian yang terjadi. Tidak sedikit pula yang mengalami penurunan prestasi akademik, perubahan perilaku, hingga kesulitan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

Dampak psikologis akibat perceraian tidak selalu berhenti pada masa kanak-kanak, tetapi dapat terus terbawa hingga seseorang memasuki usia dewasa. Pengalaman hidup di tengah konflik orang tua atau kehilangan keutuhan keluarga berpotensi membentuk cara pandang mereka terhadap hubungan sosial dan pernikahan di masa depan. Sebagian individu menjadi lebih selektif dan berhati-hati dalam menjalin hubungan, sementara yang lain cenderung merasa ragu untuk berkomitmen karena masih menyimpan luka emosional dari pengalaman masa kecilnya.(Kasenda et al., 2025)

Selain itu, perceraian dapat menimbulkan perasaan tidak aman pada anak. Ketika struktur keluarga yang selama ini menjadi sumber kenyamanan berubah, anak dapat merasa cemas terhadap masa depannya. Mereka khawatir kehilangan kasih sayang orang tua atau takut ditinggalkan oleh salah satu pihak. Dalam beberapa kasus, anak bahkan menyalahkan dirinya sendiri atas perceraian yang terjadi, terutama jika orang tua sering bertengkar di hadapan mereka.

Dalam jangka panjang, perceraian dapat memengaruhi perkembangan kepercayaan diri dan kemampuan anak dalam membangun hubungan sosial. Anak yang tumbuh dengan pengalaman konflik keluarga berisiko mengalami kesulitan mempercayai orang lain, memiliki rasa takut terhadap penolakan, atau merasa kurang percaya diri dalam berinteraksi. Pengalaman tersebut juga dapat membentuk pandangan negatif terhadap pernikahan dan hubungan jangka panjang. Jika tidak mendapatkan dukungan emosional yang memadai, anak berpotensi mengalami gangguan kesehatan mental seperti kecemasan kronis, stres berkepanjangan, hingga depresi. Maka setelah perceraian terjadi, kebutuhan emosional anak harus tetap menjadi prioritas utama. Komunikasi yang baik, perhatian dari kedua orang tua, serta lingkungan yang suportif sangat penting untuk membantu anak beradaptasi dan menjaga kesehatan mentalnya.

Peran Keluarga dan Lingkungan dalam Proses Pemulihan

Selain itu keluarga besar dan lingkungan sosial memiliki peran yang sangat penting. Dukungan emosional, komunikasi yang sehat, serta sikap yang tidak menghakimi dapat membantu individu yang mengalami perceraian untuk bangkit kembali. Anak-anak juga membutuhkan ruang yang aman untuk mengekspresikan perasaannya tanpa merasa harus memilih salah satu pihak. Selain dukungan dari keluarga, sekolah dan lingkungan sekitar juga memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental anak. Guru, teman sebaya, maupun tokoh masyarakat dapat membantu menciptakan lingkungan yang positif sehingga anak tidak merasa terisolasi atau berbeda dari teman-temannya.

Tekanan Emosional dan Ekonomi Setelah Perceraian

Dari sisi psikologis, suami maupun istri dapat mengalami berbagai gejolak emosi seperti sedih, kecewa, marah, merasa gagal, hingga kesepian. Tidak jarang muncul perasaan bersalah, terutama jika perceraian melibatkan konflik yang berdampak pada anak. Kondisi ini dapat menyebabkan stres yang berkepanjangan dan mengganggu kesehatan mental apabila tidak dikelola dengan baik.(Adofo & Etsey, 2025)

Selain dampak emosional, perceraian juga sering menimbulkan tekanan ekonomi. Mantan pasangan harus menyesuaikan diri dengan kondisi keuangan yang baru, terutama jika sebelumnya bergantung pada pendapatan bersama. Bagi sebagian orang, perubahan ini dapat menimbulkan kecemasan mengenai kebutuhan hidup, biaya pendidikan anak, maupun perencanaan masa depan.

Namun tidak semua dampak perceraian bersifat negatif. Pada hubungan yang dipenuhi konflik berkepanjangan, kekerasan, atau ketidakbahagiaan, perceraian dapat menjadi titik awal untuk memperbaiki kesehatan mental. Setelah terbebas dari situasi yang tidak sehat, sebagian individu justru mampu menemukan kembali ketenangan, meningkatkan kualitas hidup, serta membangun masa depan yang lebih baik

Daftar Pustaka

Adofo & Etsey. (2023). Dampak Perceraian Orangtua Terhadap Kondisi Psikologis Remaja. Humanistik’45, November 2025, 67–76. https://univ45sby.ac.id/ejournal/index.php/humanistik/article/view/411

Istiqamah, N., Meizara Puspita Dewi, E., & Nurhidayat Nurdin, M. (2022). Dinamika Post Traumatic Growth pada Wanita Pasca Bercerai. Jurnal Psikologi Talenta Mahasiswa, 1(2), 117–127.

Januari, N. (2023). MENGGALI AKAR MASALAH: Analisis Kasus Perceraian di Indonesia. AKADEMIK: Jurnal Mahasiswa Humanis, 3(3), 120–130. https://doi.org/10.37481/jmh.v3i3.613

Kasenda, R. Y., Direno, C. I., Desanta, E., Thomas, C., Kere, K., Pongrangga, R., & Runtunuwu, E. (2025). Pengalaman Trauma Anak Akibat Perceraian Orang Tua dan Dampaknya Terhadap Fokus Belajar. Jurnal Pengabdian Masyarakat Dan Riset Pendidikan, 4(2), 14305–14312.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image