Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Yosef Budiman

Saat Kepercayaan Mengalahkan Sekat Organisasi

Guru Menulis | 2026-06-21 00:31:29

Selama bertahun-tahun, sekolah yang berafiliasi dengan organisasi keagamaan tertentu identik dengan kelompok masyarakat yang memiliki latar belakang yang sama. Sekolah Muhammadiyah dianggap sebagai pilihan warga Muhammadiyah, sekolah yang dekat dengan tradisi Nahdlatul Ulama dipilih warga NU, dan pola serupa juga ditemukan pada berbagai lembaga pendidikan berbasis agama lainnya.

Pandangan tersebut tidak sepenuhnya keliru. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kesesuaian nilai antara keluarga dan sekolah merupakan salah satu faktor penting dalam pemilihan sekolah. Oplatka dan Hemsley-Brown (2007) menjelaskan bahwa selain kualitas akademik, orang tua juga mempertimbangkan kesesuaian budaya dan nilai yang dikembangkan sekolah dengan nilai yang mereka yakini.

Namun, apakah pola tersebut masih berlaku pada masyarakat saat ini?.

Pertanyaan itu muncul ketika saya mengunjungi MA Muallimien Muhammadiyah Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Secara historis, Muallimien merupakan sekolah kader Muhammadiyah yang didirikan untuk menyiapkan kader persyarikatan, guru, dan dai. Hingga kini identitas tersebut tetap dipertahankan melalui berbagai mata pelajaran dan program pembinaan karakter yang menjadi ciri khas sekolah.

Secara logis, banyak orang akan menduga bahwa mayoritas siswanya berasal dari keluarga Muhammadiyah. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan fenomena yang menarik. Menurut pengelola sekolah, sekitar separuh peserta didik pada jenjang Madrasah Aliyah berasal dari keluarga yang tidak memiliki afiliasi organisatoris dengan Muhammadiyah. Fenomena yang sama mulai terlihat pula pada jenjang MI dan MTs.

Temuan ini menjadi menarik karena terjadi di Bogor Barat, wilayah yang dikenal memiliki tradisi Islam yang kuat melalui pesantren, madrasah, dan majelis taklim. Muhammadiyah berkembang di wilayah tersebut, tetapi bukan organisasi masyarakat dengan basis terbesar. Selain itu, masyarakat juga memiliki banyak pilihan pendidikan, mulai dari madrasah negeri, madrasah swasta, pesantren, sekolah umum, hingga sekolah Islam terpadu.

Jika demikian, mengapa masyarakat tetap memilih sekolah yang secara organisatoris berbeda dengan latar belakang mereka?.

Jawabannya tampaknya terletak pada kepercayaan yang berhasil dibangun sekolah.

Dalam berbagai percakapan dengan pengelola sekolah dan peserta didik, alasan yang paling sering muncul bukanlah kesamaan organisasi, melainkan mutu pembelajaran, budaya disiplin, pembinaan karakter, aktivitas organisasi siswa, dan peluang pengembangan diri. Program kepemimpinan, kegiatan dakwah, praktik mengajar, hingga pengalaman berorganisasi dianggap memberikan bekal yang berguna bagi masa depan peserta didik.

Salah satu program yang menjadi ciri khas adalah Praktik Kerja Lapangan (PKL). Dalam kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga terlibat langsung dalam aktivitas pendidikan dan kemasyarakatan. Mereka belajar mengajar, berinteraksi dengan masyarakat, dan mengembangkan kemampuan kepemimpinan. Pengalaman seperti ini sulit diperoleh hanya melalui pembelajaran formal di kelas.

Menariknya, daya tarik tersebut tetap bekerja meskipun biaya pendidikan di sekolah ini relatif lebih tinggi dibandingkan sebagian madrasah swasta reguler non-pesantren di sekitarnya. Fakta ini menunjukkan bahwa orang tua tidak selalu mencari sekolah yang paling murah. Mereka mencari sekolah yang dipercaya mampu memberikan nilai terbaik bagi perkembangan anak-anak mereka.

Hal lain yang menarik adalah bagaimana siswa dari luar Muhammadiyah memandang pelajaran Kemuhammadiyahan yang diajarkan di sekolah. Mereka umumnya menganggap materi tersebut sebagai bagian dari wawasan keislaman yang perlu dipelajari. Mempelajari pemikiran Muhammadiyah tidak serta-merta membuat mereka meninggalkan tradisi keagamaan yang berkembang dalam keluarga dan lingkungan sosialnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi ruang perjumpaan berbagai latar belakang keislaman. Sekolah tidak harus menjadi ruang yang menyeragamkan, tetapi dapat menjadi tempat untuk saling mengenal dan memahami perbedaan. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk, pengalaman seperti ini memiliki nilai yang sangat penting.

Pengalaman Muallimien juga memperlihatkan adanya perubahan cara masyarakat memilih sekolah. Pada jenjang pendidikan dasar, keputusan biasanya masih didominasi oleh orang tua. Pertimbangan mengenai lingkungan keagamaan, kesesuaian nilai, kedekatan lokasi, dan biaya pendidikan sering menjadi faktor utama.

Namun ketika memasuki jenjang pendidikan menengah, terutama Madrasah Aliyah, peserta didik mulai memiliki pengaruh yang lebih besar dalam proses pengambilan keputusan. Remaja tidak lagi sekadar mengikuti pilihan orang tua. Mereka mulai mempertimbangkan reputasi sekolah, kegiatan siswa, lingkungan pergaulan, peluang melanjutkan pendidikan, dan kesempatan mengembangkan potensi diri.

Dalam situasi seperti ini, kualitas yang dirasakan siswa sering kali lebih menentukan dibandingkan identitas organisasi yang menaungi sekolah. Masyarakat tentu masih memperhatikan latar belakang lembaga pendidikan, tetapi faktor tersebut tidak lagi menjadi satu-satunya pertimbangan.

Fenomena yang terjadi di Muallimien sesungguhnya bukan hanya cerita tentang satu sekolah di Bogor Barat. Ini dapat dibaca sebagai bagian dari perubahan yang lebih luas dalam dunia pendidikan Indonesia. Di tengah semakin banyaknya pilihan sekolah, masyarakat menjadi lebih rasional dalam mengambil keputusan. Reputasi, kualitas layanan, budaya sekolah, dan prospek masa depan lulusan semakin menentukan pilihan yang diambil orang tua maupun peserta didik.

Tentu identitas organisasi tetap memiliki peran penting. Identitas menjadi sumber nilai, budaya, dan karakter yang membedakan sebuah lembaga pendidikan dari lembaga lainnya. Namun identitas saja tidak cukup. Kepercayaan publik hanya dapat dibangun melalui kualitas yang dirasakan secara nyata oleh masyarakat.

Oleh karena itu, tantangan lembaga pendidikan saat ini bukan sekadar menjaga identitas yang dimiliki, melainkan menerjemahkan identitas tersebut menjadi layanan pendidikan yang relevan dan bermutu. Pada akhirnya, masyarakat tidak memilih sekolah hanya karena nama organisasi yang berada di belakangnya. Mereka memilih sekolah yang dipercaya mampu memberikan pendidikan terbaik bagi masa depan anak-anak mereka.

Ketika kepercayaan berhasil dibangun, sekat-sekat organisasi menjadi semakin tidak menentukan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image