Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image prayudisti s pandanwangi

Muharram 1448 H: Saatnya Umat Berhijrah?

Agama | 2026-06-19 10:44:32

Tahun Baru Islam kembali hadir. Pada 1 Muharram 1448 H, kaum Muslim di seluruh dunia memasuki lembaran baru dalam hitungan kalender Hijriah. Namun di tengah datangnya momentum yang seharusnya membangkitkan semangat perubahan itu, realitas umat Islam justru makin memperlihatkan kondisi yang memprihatinkan.

Di dalam negeri, berbagai persoalan terus membelit rakyat tanpa tanda-tanda penyelesaian yang mendasar. Kemiskinan masih menjadi problem struktural yang menghimpit jutaan keluarga. Praktik judi online terus merusak kehidupan masyarakat hingga menjerat berbagai lapisan usia. Kasus prostitusi anak, eksploitasi seksual, perundungan (bullying), hingga kekerasan yang melibatkan anak dan remaja silih berganti menghiasi pemberitaan media. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kerusakan sosial tidak lagi bersifat insidental, melainkan telah menjadi masalah sistemik yang merambah hampir seluruh aspek kehidupan.

Sementara itu, di tingkat global, tragedi kemanusiaan yang menimpa Palestina terus berlangsung. Rakyat Gaza menghadapi pembunuhan massal, blokade, penghancuran fasilitas publik, serta ancaman kelaparan yang semakin parah. Berbagai lembaga internasional telah berkali-kali memperingatkan kondisi kemanusiaan yang memburuk, tetapi dunia tetap gagal menghentikan penderitaan yang dialami kaum Muslim di sana. Yang lebih menyakitkan, negeri-negeri Muslim yang jumlahnya puluhan dan memiliki sumber daya besar belum mampu menghadirkan perlindungan nyata bagi rakyat Palestina.

Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa umat Islam hari ini masih jauh dari predikat khairu ummah sebagaimana yang Allah Swt. firmankan:

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar serta beriman kepada Allah." (QS Ali Imran: 110).

Pertanyaannya, mengapa kondisi ini terus berulang? Apakah semua ini sekadar takdir yang harus diterima? Ataukah ada akar persoalan yang lebih mendasar?

Jika dicermati secara mendalam, berbagai kerusakan yang terjadi saat ini tidak lahir secara tiba-tiba. Semua itu merupakan buah dari penerapan sistem sekularisme-kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Dalam sistem ini, ukuran benar dan salah tidak lagi didasarkan pada halal dan haram, melainkan pada manfaat materi dan kepentingan ekonomi.

Akibatnya, segala sesuatu diukur dengan keuntungan. Industri perjudian berkembang karena dianggap menghasilkan uang. Konten-konten yang merusak moral diproduksi karena mendatangkan keuntungan ekonomi. Eksploitasi perempuan dan anak terus berlangsung karena tubuh manusia dipandang sebagai komoditas yang dapat diperjualbelikan. Bahkan kebijakan negara pun sering kali ditentukan oleh pertimbangan pasar dan kepentingan pemilik modal, bukan oleh hukum Allah Swt.

Allah Swt. telah memperingatkan bahaya berpaling dari aturan-Nya. Firman-Nya:

"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit." (QS Thaha: 124).

Ayat ini menunjukkan bahwa kesempitan hidup tidak hanya berbentuk kesulitan ekonomi, tetapi juga kerusakan sosial, hilangnya ketenteraman, dan berbagai krisis yang menimpa manusia ketika mereka menjauh dari petunjuk Allah.

Di sisi lain, lemahnya posisi umat Islam di panggung internasional juga memiliki akar masalah yang jelas. Sejak runtuhnya Khilafah Utsmaniyah pada tahun 1924, umat Islam kehilangan institusi politik yang menyatukan dan melindungi mereka. Negeri-negeri Muslim kemudian terpecah menjadi puluhan negara bangsa yang dibatasi oleh sekat nasionalisme.

Akibatnya, ketika Palestina diserang, penderitaan umat Islam dianggap sebagai urusan negara tertentu, bukan urusan seluruh kaum Muslim. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

"Perumpamaan kaum Mukmin dalam saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh turut merasakan sakit dengan tidak tidur dan demam." (HR Muslim).

Hadis ini menggambarkan bahwa umat Islam sejatinya adalah satu kesatuan. Namun realitas politik saat ini justru menjadikan umat tercerai-berai dan kehilangan kekuatan untuk melindungi saudara-saudaranya.

Momentum Muharram semestinya menjadi saat yang tepat untuk melakukan refleksi mendalam. Hijrah yang diperingati setiap tahun bukan sekadar perpindahan waktu dalam kalender, melainkan simbol perubahan besar yang dilakukan Rasulullah ﷺ dan para sahabat demi tegaknya Islam dalam kehidupan.

Hijrah Nabi ﷺ dari Makkah ke Madinah bukanlah pelarian dari tekanan kaum Quraisy. Hijrah merupakan bagian dari perjuangan politik dan dakwah untuk membangun masyarakat yang diatur oleh hukum Allah secara menyeluruh. Dari Madinah itulah kemudian lahir negara Islam yang menerapkan syariat, menyatukan umat, dan membawa Islam menjadi kekuatan peradaban dunia.

Karena itu, hijrah hakiki pada masa kini bukan sekadar memperbaiki ibadah individual, meskipun hal itu penting. Hijrah yang sesungguhnya adalah berpindah dari kerelaan hidup di bawah sistem sekularisme-kapitalisme menuju perjuangan menegakkan Islam kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.

Allah Swt. berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah) dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan." (QS Al-Baqarah: 208).

Ayat ini menjadi penegasan bahwa Islam tidak diturunkan hanya untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, tetapi juga mengatur ekonomi, pendidikan, pergaulan, politik, hukum, hingga hubungan internasional.

Perubahan besar semacam ini tentu tidak dapat terwujud secara instan. Rasulullah ﷺ sendiri menempuh perjuangan panjang selama bertahun-tahun. Beliau membina para sahabat, membangun kesadaran umat, menghadapi berbagai tantangan, dan melakukan dakwah secara terorganisir hingga akhirnya Islam tegak sebagai sistem kehidupan.

Karena itu, umat Islam hari ini tidak cukup hanya mengeluhkan kerusakan yang terjadi. Umat wajib mengambil peran dalam perjuangan dakwah yang terarah dan ideologis, bersama jamaah dakwah yang berpegang teguh pada Al-Qur'an dan As-Sunnah serta meneladani metode perjuangan Rasulullah ﷺ.

Muharram 1448 H hendaknya menjadi titik kebangkitan kesadaran umat. Sudah saatnya kaum Muslim memahami bahwa berbagai kenestapaan yang terjadi bukanlah takdir yang harus diterima tanpa ikhtiar. Semua itu merupakan akibat dari jauhnya manusia dari aturan Allah. Karena itu, solusi hakiki bukanlah sekadar pergantian pemimpin atau tambal sulam kebijakan, melainkan perjuangan sungguh-sungguh untuk menghadirkan kembali kehidupan Islam secara kaffah dalam naungan institusi yang menerapkan syariat Allah dan mempersatukan umat.

Inilah makna hijrah yang sesungguhnya: berpindah dari sistem buatan manusia menuju aturan Allah, dari keterpecahan menuju persatuan umat, serta dari berbagai krisis menuju kemuliaan Islam yang pernah menerangi dunia selama berabad-abad.

Sumber: Islami.com/ Lisa Aditia Putra (https://islami.co/salah-kaprah-makna-hijrah/)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image