Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Shfwan

Katanya Ekonomi Membaik, Tapi Mengapa Dompet Tetap Sesak?

Guru Menulis | 2026-06-18 18:16:33


Sultan Muhammad Shofwan, UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Akhir-akhir ini, ada keluhan yang tampaknya semakin sering terdengar: "Uang cepat habis akhir-akhir ini." Baik itu dalam obrolan di kedai kopi, grup keluarga, atau bahkan media sosial. Harga makanan tampaknya naik, kebutuhan meningkat, sementara pendapatan terasa stagnan. Ironisnya, di tengah keluhan-keluhan ini, kita sering mendengar laporan bahwa ekonomi Indonesia sedang baik-baik saja. Jadi, sebenarnya siapa yang salah: dompet kita atau kondisi ekonomi?

Jika dipikir-pikir, pertumbuhan ekonomi tidak selalu langsung dirasakan di rumah. Sederhananya, suatu negara mungkin mengalami pertumbuhan ekonomi, tetapi manfaatnya belum tentu sampai kepada semua orang. Beberapa sektor tumbuh pesat, beberapa bisnis menghasilkan keuntungan besar, tetapi masyarakat biasa belum tentu merasakan dampaknya secara langsung. Seperti hujan, beberapa daerah diguyur hujan lebat, sementara daerah lain hanya sedikit diguyur. Oleh karena itu, ketika pemerintah atau media mengatakan ekonomi membaik, itu tidak secara otomatis berarti semua orang merasa lebih baik.

Masalah lain yang dapat menguras dompet Anda adalah perubahan harga barang-barang kebutuhan pokok yang terus-menerus. Meskipun inflasi di Indonesia relatif terkendali, kenyataannya beberapa kebutuhan pokok tetap mahal bagi banyak orang. Ketika harga makanan, transportasi, listrik, atau biaya hidup lainnya meningkat secara bertahap, pengeluaran membengkak tanpa kita sadari. Lebih buruk lagi, pendapatan seringkali tidak seimbang dengan peningkatan kebutuhan. Akibatnya, banyak orang merasa uang mereka cepat habis, meskipun pendapatan mereka tampaknya tetap sama. Menurut data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan di Indonesia terus terjadi dan memengaruhi harga barang dan jasa yang digunakan sehari-hari.

Belum lagi perubahan gaya hidup saat ini. Era digital memang telah mempermudah banyak hal—berbelanja hanya dengan sekali klik, makanan diantar ke rumah, pembayaran hanya melalui ponsel. Namun tanpa disadari, kemudahan ini juga membuat pengeluaran terasa "lebih mudah." Di masa lalu, orang mungkin berpikir dua kali sebelum membeli sesuatu karena mereka harus pergi ke toko secara langsung. Sekarang? Diskon, pengiriman gratis, dan promosi seringkali membuat orang membeli barang-barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Pada akhirnya, uang tidak hanya dihabiskan untuk kebutuhan pokok, tetapi juga untuk kebiasaan baru.

Ada satu hal lagi yang sering terabaikan ketika membahas dompet yang terasa semakin ketat: kebiasaan mengambil utang kecil, yang kini semakin umum. Di masa lalu, jika orang ingin membeli sesuatu tetapi tidak memiliki cukup uang, mereka biasanya memilih untuk menundanya. Sekarang, situasinya berbeda. Hanya dengan beberapa klik, barang dapat dikirim langsung ke rumah Anda melalui sistem "beli sekarang, bayar nanti" atau "paylater". Awalnya, terasa membantu, terutama ketika ada kebutuhan mendesak. Tetapi tanpa disadari, tagihan yang tampaknya kecil itu dapat menumpuk bulan demi bulan. Tidak heran banyak orang mendapati gaji mereka cepat habis, bahkan sebelum akhir bulan. Data dari Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan bahwa penggunaan layanan paylater di Indonesia terus meningkat, dengan nilai transaksi tumbuh signifikan setiap tahunnya.

Di sisi lain, perubahan pola konsumsi masyarakat juga berdampak pada situasi keuangan sehari-hari mereka. Kehidupan digital membuat segalanya terasa cepat dan nyaman. Promosi, diskon besar, pengiriman gratis, dan iklan terus-menerus di media sosial seringkali membuat orang membeli bukan karena benar-benar membutuhkannya, tetapi karena takut ketinggalan. Tanpa disadari, pengeluaran kecil yang berulang dapat menjadi beban yang signifikan di akhir bulan. Inilah mengapa orang terkadang merasa bingung: "Meskipun saya tidak banyak berbelanja, mengapa uang saya cepat habis?" Masalahnya mungkin bukan satu pengeluaran besar, melainkan banyak pengeluaran kecil yang tidak disadari. Fenomena ini juga menarik perhatian regulator karena pertumbuhan pesat kredit konsumen digital, seperti sistem bayar tunda (paylater), di masyarakat.

Pada akhirnya, permasalahannya mungkin bukan sekadar apakah ekonomi membaik, tetapi apakah perbaikan tersebut benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas. Pertumbuhan ekonomi tentu penting, tetapi orang juga ingin merasa lebih nyaman: harga yang stabil, pekerjaan yang aman, dan pendapatan yang cukup untuk bertahan hingga akhir bulan. Karena bagi kebanyakan orang, ukuran ekonomi yang sehat sebenarnya sederhana—bukan angka-angka di layar berita, tetapi apakah masih ada cukup uang di dompet mereka setelah semua kebutuhan mereka terpenuhi. Jadi, jika banyak orang saat ini merasa kekurangan meskipun ekonomi konon membaik, mungkin pertanyaannya bukanlah "apakah ekonomi tumbuh?", tetapi "siapa yang benar-benar merasakan pertumbuhan itu?”

Sumber bacaan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2025. Jakarta: BPS.

Perkembangan Inflasi Indonesia Tahun 2025. Jakarta: BPS. 2026.

Laporan Perekonomian Indonesia dan Stabilitas Inflasi. Jakarta: BI. Diakses 25 Mei 2026.

Perkembangan Layanan Buy Now Pay Later (BNPL)/PayLater di Indonesia.

Jakarta: OJK. “OJK Sebut Utang Melalui PayLater Perbankan Mencapai Rp22,99 Triliun.” 2026.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image