Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image laura alifvia kendo

Di Tengah Scroll Tanpa Henti, Masih Adakah Ruang Untuk Membaca?

Pendidikan dan Literasi | 2026-06-18 11:33:37
Berbagai perangkat digital kini menjadi pintu utama generasi muda dalam mengakses informasi, menggantikan peran media cetak yang perlahan mulai ditinggalkan. Sumber -Pinterest Suzu Key.

Buka ponsel, scroll sebentar, lalu tiba-tiba satu jam sudah berlalu. Tidak ada yang benar-benar dibaca, tidak ada yang benar-benar dipahami. Hanya layar yang terus bergulir dan jempol yang terus bergerak. Kebiasaan ini bukan lagi pengecualian, ini sudah jadi rutinitas harian sebagian besar anak muda Indonesia.

Survei Jakpat 2026 mencatat bahwa 63% Gen Z memilih scrolling media sosial sebagai aktivitas utama di waktu luang. Sementara itu, hanya 30% yang mengisi waktu dengan membaca buku. Angka ini seolah membenarkan asumsi lama, bahwa generasi sekarang malas membaca. Tapi benarkah sesederhana itu?Kebiasaan scroll membuat otak terbiasa berpindah dari satu informasi ke informasi lain tanpa jeda. Akibatnya, konsentrasi menurun dan kemampuan memahami bacaan yang kompleks ikut terpengaruh. Otak yang sudah terlatih menerima informasi dalam hitungan detik akan kesulitan bertahan membaca satu halaman penuh. Ini bukan soal malas, ini soal bagaimana kebiasaan membentuk cara kerja pikiran kita.Namun di balik angka yang tampak mengkhawatirkan itu, ada sisi lain yang menarik.

Gen Z sebenarnya masih tertarik membaca, hanya saja definisi "membaca" kini telah bergeser. Buku fisik bukan lagi satu-satunya tolok ukur. Artikel berita online, thread panjang, hingga esai digital sudah masuk hitungan. Bahkan sekitar 50% Gen Z mengaku rutin membaca artikel berita lewat internet. Perubahan ini juga didorong oleh media sosial itu sendiri. Komunitas BookTok di TikTok dan Bookstagram di Instagram berhasil mengubah citra membaca, dari aktivitas akademik yang membosankan menjadi tren sosial yang relevan dan menarik bagi anak muda.

Algoritma media sosial yang selama ini dianggap musuh literasi, justru ikut mendorong minat baca dengan cara yang tidak terduga.Jadi, ruang untuk membaca masih ada. Yang berubah bukan minatnya, tapi caranya. Tantangan kita sekarang bukan melawan teknologi, tapi belajar menggunakannya dengan lebih sadar. Scroll boleh, tapi sesekali berhenti dan baca sampai selesai.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image