Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Abu Shaffa

Ketika Masjid Menjemput: Pelajaran dari Ngabita Taman Yasmin

Agama | 2026-06-18 09:18:47

Oleh: Abu Shaffa

Di balik megahnya bangunan dan deru kendaraan di komplek perumahan, ada sosok-sosok pejuang nafkah yang sering kali luput dari pandangan kita: para pedagang keliling, tukang sapu, hingga penyedia jasa cuci mobil. Mereka bekerja keras dari fajar hingga petang, namun ironisnya, dalam proses mencari rezeki tersebut, mereka sering kali terasing dari masjid dan luput dari kewajiban ibadah utama. Fenomena inilah yang melatarbelakangi lahirnya Ngabita: Ngaji dengan (bi : Bahasa Arab) taqwa. Dalam bahasa Sunda, “ngabibita” berarti menggoda untuk ingin, sehingga Ngabita pun dapat dimaknai sebagai keinginan untuk menjadi insan bertaqwa—suatu inisiatif yang merupakan hasil kolaborasi antara Masjid Attaqwa dan Masjid Raya Taman Yasmin. Sinergi dua masjid ini membuktikan bahwa masjid harus hadir sebagai oase dan solusi kesejahteraan nyata bagi umat.

Dakwah Bil Hal: Menyentuh Akar Rumput

Inti dari program Ngabita adalah penerapan strategi dakwah bil hal (dakwah melalui perbuatan nyata). Strategi ini tidak hanya mengedepankan lisan melalui ceramah, tetapi mengintegrasikan bimbingan spiritual dengan aksi nyata yang menyentuh kebutuhan paling mendasar. Para pengurus dari kedua masjid tersebut menyadari bahwa mengajak seseorang menuju takwa menjadi lebih bermakna ketika beban perut dan kekhawatiran ekonomi mereka turut diperhatikan.

Pendekatan ini dilakukan secara strategis melalui manajemen waktu. Kegiatan dimulai 45 menit sebelum waktu Dhuhur agar para pedagang dapat beristirahat sejenak untuk mendapatkan siraman rohani, yang kemudian ditutup dengan shalat berjamaah dan makan siang bersama di masjid. Inilah cara Masjid Attaqwa dan Masjid Raya Taman Yasmin merangkul mereka kembali tanpa harus mengorbankan waktu kerja mereka yang berharga.

Sesi "Curhat" sebagai Jantung Kemanusiaan

Salah satu inovasi paling humanis dalam Ngabita adalah penyediaan sesi "curhat". Sesi ini memberikan ruang bagi para pedagang untuk menceritakan persoalan hidup, mulai dari masalah keluarga hingga hambatan bisnis. Bagi pedagang kecil yang sering merasa "tidak dilihat", ruang dialog ini memberikan dukungan emosional yang luar biasa—mereka merasa dirangkul dan diperhatikan oleh komunitas masjid.

Lebih dari sekadar dukungan moral, sesi curhat ini berfungsi sebagai alat pemetaan masalah yang akurat. Melalui interaksi inilah, pengelola dapat mengidentifikasi peserta yang benar-benar mengalami kekurangan modal usaha untuk kemudian diberikan bantuan modal langsung secara tepat sasaran agar usaha dagang atau jasa mereka dapat terus berjalan.

Belajar Kemandirian Finansial

Ngabita melangkah lebih jauh dari sekadar pemberian bantuan konsumtif yang bersifat sementara. Untuk memastikan keberlanjutan ekonomi, para peserta dibekali dengan edukasi manajemen dan pemasaran sederhana. Selain itu, mereka diajak untuk membangun kemandirian melalui Tabungan SIAR (Simpanan IkhtiAR) bekerja sama dengan salah satu Koperasi Syariah.

Mekanismenya bertujuan memberdayakan: pedagang menyisihkan sebagian kecil keuntungan mereka, sementara program Ngabita memberikan subsidi tabungan untuk memperkuat saldo mereka. Dana ini menjadi cadangan berharga untuk kebutuhan mendesak seperti biaya sekolah anak atau modal tambahan. Bahkan, sejak tahun 2025, kolaborasi kedua masjid ini telah menyertakan program asuransi syariah keluarga guna memberikan perlindungan finansial jangka panjang bagi para jamaahnya.

Harapan untuk Masa Depan

Perjalanan Ngabita yang dimulai sejak Oktober 2021 dengan hanya 5 peserta hingga kini terus berkembang menjadi bukti efektivitas model dakwah yang menyatu dengan pemberdayaan ekonomi. Tantangan tentu ada, mulai dari fluktuasi pendapatan pedagang hingga terbatasnya literasi manajemen. Namun, dengan dukungan penuh dari Masjid Attaqwa dan Masjid Raya Taman Yasmin, tantangan tersebut dapat dihadapi secara kolektif. Ngabita juga menunjukkan bahwa kolaborasi atau sinergi masjid untuk kebaikan ummat sangat dimungkinkan.

Sebagai penutup, Ngabita di Taman Yasmin atau apapun nama programnya adalah panggilan bagi setiap pengurus masjid untuk meninjau kembali peran lembaga mereka. Harapan besarnya adalah agar model dakwah bil hal hasil kolaborasi dua masjid ini dapat diduplikasi secara masif di masjid-masjid lainnya. Ketika masjid mampu menjadi tempat berteduh bagi kaum duafa, baik secara spiritual maupun finansial, saat itulah keberadaan masjid benar-benar memberikan maslahat yang nyata bagi ummat.

Kini, pertanyaannya kembali kepada kita: beranikah masjid kita menjemput mereka yang selama ini hanya berlalu di depan pintunya?

Wallahu’alam

penulis adalah salah satu pendamping jamaah ngabita

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image