Indonesia Cinta Herbal, Tapi Buta Literasi
Edukasi | 2026-06-17 18:29:52
Indonesia dan jamu ibarat dua sisi mata uang. Sudah berabad-abad nenek moyang kita minum kunyit asam, beras kencur, atau wedang jahe untuk tetap segar dan sembuh dari penyakit. Sampai sekarang, di pasar tradisional maupun toko modern, produk herbal tetap laris. Ini bukan sekadar tren, tapi sudah menjadi bagian dari budaya.
Tapi, pernahkah kita bertanya: sebenarnya seberapa paham kita terhadap apa yang kita minum?
Kenyataannya, banyak orang mengonsumsi herbal karena kebiasaan atau iklan, bukan karena tahu kandungan dan bukti ilmiahnya. Padahal, pemerintah sudah membagi obat bahan alam ke dalam tiga tingkatan: jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT), dan fitofarmaka. Bedanya? Jamu hanya berdasarkan pengalaman turun-temurun. OHT sudah diuji di laboratorium. Fitofarmaka sudah diuji pada manusia. Kualitasnya jelas berbeda.
Sayangnya, informasi ini hampir tidak pernah sampai ke masyarakat umum. Yang lebih sering kita dengar adalah testimoni dari tetangga atau klaim di media sosial. "Minum ini, besok langsung enakan." Tanpa verifikasi, tanpa tahu apakah produk itu sudah terdaftar di BPOM atau belum. Akibatnya, keputusan membeli lebih didasarkan pada kepercayaan buta daripada pengetahuan.
Masalah ini makin penting ketika kita bicara soal lansia. Jumlah penduduk tua di Indonesia terus bertambah. Mereka adalah konsumen herbal paling setia. Banyak yang minum jamu setiap hari, kadang bersamaan dengan obat dokter. Tapi, tanpa pemahaman yang cukup, bisa terjadi interaksi yang berbahaya.alnya, herbal tertentu bisa mengganggu kerja obat tekanan darah atau diabetes.
Di era digital, tantangan literasi herbal justru makin berat. Informasi palsu menyebar lebih cepat dari fakta. Satu pesan WhatsApp yang mengklaim "ramuan ini menyembuhkan kanker" bisa dibaca ribuan orang dalam sehari. Padahal, belum tentu benar. Sayangnya, kemampuan untuk memilah informasi yang benar masih rendah.
Jadi, apa yang harus dilakukan?
Kita tidak perlu memulai dari hal yang muluk. Edukasi tentang tiga tingkatan obat herbal bisa dilakukan dengan cara sederhana. Misalnya, memasang label yang mudah dibaca pada kemasan: "Jamu – berdasarkan pengalaman tradisional", "OHT – telah diuji praklinik", "Fitofarmaka – telah diuji pada manusia". Ini akan membantu konsumen awam membedakan mana produk yang benar-benar teruji mana yang tidak.
Selain itu, perlu ada gerakan literasi di komunitas. Bisa lewat arisan, posyandu, atau grup WhatsApp keluarga. Topiknya ringan saja: bagaimana membaca kemasan, bagaimana memahami klaim yang masuk akal. Tidak perlu istilah rumit. Cukup dengan bahasa sehari-hari.
Pemerintah dan produsen juga punya peran. Iklan jangan hanya menonjolkan khasiat, tapi juga harus menyebutkan kategori dan tingkat pembuktiannya. Jangan sampai konsumen tertipu oleh janji yang berlebihan.
Intinya, masyarakat Indonesia sudah sangat mencintai herbal. Itu warisan yang patut kita jaga. Tapi cinta saja tidak cukup. Kalau kita ingin herbal benar-benar bermanfaat, kita juga harus pintar dan kritis. Kecintaan harus dibarengi dengan pengetahuan. Jangan sampai, di negeri yang kaya akan jamu, kita justru buta dengan apa yang kita minum.
Literasi herbal bukan sekadar soal tahu atau tidak tahu. Ini soal keselamatan dan kesehatan kita bersama. Sudah saatnya kita tidak hanya rajin minum jamu, tapi juga rajin belajar tentang jamu.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
