Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Siti Fatul zahrani

Saat Isu Penting Tenggelam di Tengah Banjir Konten Viral

Edukasi | 2026-06-17 17:32:20

Oleh : Siti Fatul Zahrani, Mahasiswi Teknik Informatika, Universitas Pamulang yang memiliki minat pada teknologi, pengembangan diri, dan dunia kreatif digital.

Fenomena ini bukan kebetulan. Di balik setiap konten yang muncul, terdapat algoritma yang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Media sosial kini bukan sekadar sarana komunikasi dan hiburan — ia telah berubah menjadi arena perebutan perhatian manusia. Akibatnya, masyarakat lebih cepat mengetahui tren yang sedang viral daripada memahami persoalan yang tengah dihadapi negeri. Pertanyaannya, apakah kita benar-benar memanfaatkan teknologi untuk memperluas kesadaran, atau justru sedang terjebak dalam infinite scroll yang membuat kita makin acuh terhadap masalah bangsa?

Di balik layar, algoritma bekerja dengan mengumpulkan berbagai data perilaku pengguna: video yang ditonton, konten yang disukai, komentar yang ditulis, hingga durasi seseorang berhenti pada sebuah unggahan. Data itu kemudian diolah untuk menyajikan konten yang dianggap paling relevan. Hasilnya, pengguna merasa nyaman karena selalu menemukan hal yang sesuai minatnya. Namun kenyamanan itu justru sering menjebak seseorang dalam lingkaran konsumsi konten yang tidak berujung.

Ironisnya, ketika teknologi semakin memudahkan akses terhadap informasi, perhatian masyarakat justru semakin sulit diarahkan ke isu-isu yang lebih penting. Persoalan kualitas pendidikan, pengangguran, kemiskinan, kerusakan lingkungan, korupsi, hingga tantangan pembangunan bangsa kerap kalah menarik dibandingkan tren viral, gosip selebriti, atau hiburan sesaat. Tidak sedikit orang yang hafal tantangan viral terbaru di TikTok, tetapi buta terhadap kebijakan publik yang secara langsung memengaruhi kehidupan mereka.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa masalah utama di era digital bukan lagi soal kurangnya informasi, melainkan soal perebutan perhatian. Perhatian manusia telah menjadi komoditas yang sangat berharga. Semakin lama seseorang bertahan di sebuah platform, semakin besar keuntungan yang diraup perusahaan teknologi melalui iklan dan berbagai bentuk monetisasi lainnya. Tidak heran jika berbagai fitur dirancang agar pengguna terus terpaku di dalam aplikasi.

Dari sudut pandang ilmu komputer, kondisi ini menjadi pengingat bahwa teknologi bukan semata soal kecanggihan sistem dan algoritma — ia juga berkaitan erat dengan dampaknya terhadap perilaku manusia. Bhargava dan Velasquez (2021) dalam Business Ethics Quarterly mencatat bahwa sistem rekomendasi berbasis algoritma dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna (user engagement) dengan memanfaatkan kerentanan psikologis manusia, sehingga menciptakan putaran umpan balik dopamin yang menyerupai mekanisme mesin judi. Sebuah fitur yang berhasil meningkatkan jumlah pengguna belum tentu meningkatkan kualitas hidup mereka. Begitu pula algoritma yang mampu mempertahankan perhatian pengguna berjam-jam belum tentu memberikan manfaat yang sebanding bagi masyarakat.

Media sosial tentu memiliki banyak manfaat. Platform-platform ini memungkinkan penyebaran informasi secara cepat, membuka peluang ekonomi digital, menjadi sarana edukasi, bahkan membantu masyarakat menyuarakan berbagai persoalan sosial. Namun manfaat itu bisa berkurang drastis ketika pengguna kehilangan kendali atas waktu dan perhatian mereka. Ketika sebagian besar energi mental habis untuk mengonsumsi konten tanpa arah, ruang untuk berpikir kritis dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial pun menyempit.

Sebagai generasi yang tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kita perlu menyadari bahwa perhatian adalah sumber daya yang terbatas. Setiap menit yang dihabiskan untuk menggulir layar adalah pilihan tentang apa yang kita anggap penting. Jika seluruh perhatian hanya tersedot oleh hiburan yang tiada putus, berbagai persoalan nyata yang tengah dihadapi bangsa berisiko terabaikan begitu saja.

Pada akhirnya, teknologi bukanlah musuh yang harus dijauhi. Yang perlu ditumbuhkan adalah kesadaran dalam menggunakannya. Media sosial semestinya menjadi alat untuk memperluas wawasan dan mempertajam kepedulian sosial, bukan sekadar mesin hiburan yang membuat kita lupa terhadap realitas di sekitar. Jangan sampai kita terlalu sibuk menggulir layar hingga gagal melihat persoalan negeri yang menuntut perhatian, pemikiran, dan kontribusi nyata dari generasi muda.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image