Bukan Malas, Tapi Otak Kita Sudah Lupa Cara Bosan
Gaya Hidup | 2026-06-15 20:17:05Bukan Malas, Tapi Otak Kita Sudah Lupa Cara Bosan
“Cuma scrolling sebentar aja kok.” Kalimat ini mungkin sering kali dilontarkan di kalangan Gen Z. Awalnya hanya ingin melihat satu atau dua video, tetapi tanpa sadar waktu terus berlalu hingga hampir satu atau dua jam. Tidak sedikit dari kita yang awalnya hanya ingin membuka ponsel untuk membalas pesan atau mencari materi pelajaran, namun justru tanpa sadar berakhir bergulirnya media sosial tanpa tujuan. Baru beberapa menit fokus mengerjakan sesuatu, tangan justru refleks membuka media sosial tanpa alasan yang jelas. Tanpa disadari, kebiasaan seperti ini semakin sering terjadi, terutama di era digital saat video pendek menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari generasi muda.
Kehadiran platform digital seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts sangat memudahkan masyarakat dalam menerima informasi secara cepat dan singkat. Dalam hitungan detik, pengguna dapat menonton berbagai macam berita, tips belajar, hiburan, hingga informasi kesehatan secara bergantian. Berdasarkan laporan DataReportal tahun 2024, masyarakat Indonesia rata-rata menghabiskan lebih dari tiga jam per hari menggunakan media sosial. Selain itu, survei Jakpat yang dipublikasikan Katadata pada tahun 2025 menunjukkan bahwa TikTok menjadi salah satu platform yang paling sering digunakan terutama oleh Gen Z Indonesia. Tingginya penggunaan media sosial berbasis video pendek membuat generasi muda semakin terbiasa mengonsumsi informasi secara cepat dan praktis.
Penelitian di bidang psikologi digital menunjukkan bahwa paparan singkat secara terus-menerus dapat mempengaruhi kemampuan seseorang dalam mempertahankan perhatian. Video pendek memang dirancang untuk menarik perhatian pengguna sejak detik pertama. Algoritma media sosial juga terus menampilkan konten baru yang sesuai dengan minat pengguna sehingga seseorang dapat bergulir tanpa sadar dalam waktu lama. Ketika seseorang terus-menerus menerima hiburan singkat dari media sosial, otak menjadi terbiasa mendapatkan rangsangan cepat dalam waktu pendek. Akibatnya, aktivitas yang membutuhkan proses lebih lama seperti membaca buku atau belajar sering terasa lebih membosankan dibandingkan menggulir video singkat.
Pelan-pelan, dampaknya mulai terasa dalam kehidupan sehari-hari. Banyak pelajar merasa cepat bosan ketika membaca tulisan panjang atau sulit fokus saat mengikuti pelajaran di kelas. Menonton video berdurasi lama pun sering terasa membosankan dibandingkan video singkat kurang dari satu menit. Tidak sedikit siswa yang awalnya membuka TikTok hanya untuk “istirahat sebentar” saat belajar, tetapi akhirnya lupa kembali mengerjakan tugas. Menurut penulis, masalah terbesar bukan hanya durasi penggunaan media sosial, melainkan kebiasaan otak yang mulai sulit diam tanpa hiburan. Banyak orang kini tidak benar-benar kehabisan waktu untuk fokus, tetapi terlalu terbiasa memecah perhatian setiap beberapa menit. Akibatnya, suasana sepi atau sedikit rasa bosan saja sering membuat seseorang refleks membuka media sosial meskipun sebenarnya tidak ada hal penting yang ingin dicari.
Meski sering dianggap mengganggu fokus, video pendek sebenarnya juga punya sisi positif jika digunakan dengan benar. Saat ini banyak kreator membagikan konten edukatif seperti tips belajar, pengetahuan sains, kesehatan mental, motivasi, hingga pembahasan materi pelajaran dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Bahkan sebagian pelajar merasa lebih mudah memahami materi melalui video singkat yang visual dibandingkan membaca penjelasan panjang. Bagi Gen Z yang akrab dengan teknologi digital, video pendek dapat menjadi media belajar yang praktis dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Masalah yang sebenarnya bukan video pendek itu sendiri, tetapi bagaimana cara penggunanya dapat mengontrol kebiasaan bermedia sosial. Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat membuat seseorang sulit mengatur waktu dan mudah terganggu. Oleh karena itu, Gen Z perlu mulai membatasi penggunaan media sosial, misalnya dengan memanfaatkan fitur screen time, membuat jadwal belajar tanpa gangguan ponsel, atau mencoba metode belajar seperti pomodoro agar konsentrasi lebih terjaga. Selain itu, membiasakan diri membaca buku, berdiskusi secara langsung, dan melakukan aktivitas tanpa gadget juga dapat membantu melatih fokus dalam jangka panjang. Hal sederhana seperti meletakkan ponsel jauh dari meja belajar ternyata juga dapat membantu mengurangi keinginan membuka media sosial secara refleks.
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, video pendek kini sudah menjadi bagian yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari Gen Z. Di satu sisi media sosial memang membantu banyak orang mendapatkan hiburan dan informasi dengan cepat. Namun, kebiasaan menerima informasi secara instan juga dapat mempengaruhi cara seseorang berkonsentrasi dan memproses informasi. Jika generasi muda semakin terbiasa menerima hiburan dalam hitungan detik, apakah kemampuan untuk fokus dalam waktu lama perlahan akan hilang? Pertanyaan itu menjadi pengingat bahwa teknologi seharusnya membantu manusia, bukan hanya mengendalikan perhatian dan kebiasaan hidup manusia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
