Muharam dan Rehijrah Peradaban : Kembali kepada Al Quran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW
Agama | 2026-06-14 12:56:38
Opini – 1 Muharam 1448 H. bertepatan jatuh pada Selasa 16 juni 2026. Untuk itu penulis Mengucapkan Selamat kepada Umat Islam khususnya Indonesia dan umumnya Umat Islam seluruh Dunia. Lebih lanjut saya mencoba menghadirkan sebuah tulisan terkait pergantian Tahun dalam Islam, sebagai Hijrah waktu dan Hijrah Tahun.
Tahun Baru Islam bukan sekadar penanda pergantian angka dalam kalender Hijriah. Ia adalah momentum spiritual yang mengajak umat Islam untuk melakukan perenungan mendalam tentang makna hijrah yang sesungguhnya. Peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah bukan hanya perpindahan geografis, melainkan transformasi akidah, akhlak, peradaban, dan tata kehidupan yang berlandaskan wahyu Allah SWT.
Dalam konteks kekinian, hijrah tidak lagi dimaknai sebagai perpindahan fisik, melainkan perpindahan kesadaran. Hijrah adalah perjalanan meninggalkan kebodohan menuju ilmu, meninggalkan perpecahan menuju persaudaraan, meninggalkan hawa nafsu menuju ketaatan, serta meninggalkan kehidupan yang jauh dari petunjuk Allah menuju kehidupan yang dibimbing oleh Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.
Di tengah kemajuan teknologi, derasnya arus informasi, dan kompleksitas tantangan zaman, umat Islam menghadapi paradoks yang tidak sederhana. Di satu sisi, akses terhadap ilmu keislaman semakin mudah. Namun di sisi lain, muncul kecenderungan menjauh dari sumber utama ajaran Islam. Tidak sedikit umat yang lebih mudah menerima opini, narasi media sosial, atau pandangan tokoh tertentu daripada merujuk langsung kepada Al-Qur'an dan Sunnah sebagai pedoman hidup.
Padahal Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur'an bahwa petunjuk terbaik bagi manusia adalah wahyu-Nya. Al-Qur'an bukan sekadar kitab bacaan ritual, melainkan pedoman hidup yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Demikian pula Sunnah Nabi Muhammad SAW merupakan penjelas sekaligus implementasi nyata dari nilai-nilai Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, Tahun Baru Islam seharusnya menjadi momentum "rehijrah" atau hijrah kembali. Bukan hijrah menuju sesuatu yang baru, melainkan kembali kepada sumber yang asli. Kembali menjadikan Al-Qur'an sebagai pusat orientasi berpikir, dan Sunnah Nabi sebagai teladan dalam bertindak.
Peran ulama dalam proses ini menjadi sangat penting. Ulama bukan hanya pewaris ilmu para nabi, tetapi juga penjaga arah moral dan spiritual umat. Di tengah maraknya polarisasi, ujaran kebencian, dan pertentangan yang mengatasnamakan agama, ulama dituntut untuk menghadirkan dakwah yang mencerahkan, mempersatukan, dan menghidupkan nilai-nilai rahmat bagi seluruh alam.
Ulama memiliki tanggung jawab untuk mengembalikan perhatian umat kepada substansi ajaran Islam, bukan sekadar pada perdebatan-perdebatan yang menguras energi. Dakwah yang berakar pada Al-Qur'an dan Sunnah harus mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan kemurnian prinsip-prinsip Islam.
Sementara itu, umat Islam juga perlu melakukan evaluasi diri. Sudahkah Al-Qur'an menjadi bacaan harian sekaligus pedoman dalam mengambil keputusan? Sudahkah Sunnah Nabi menjadi acuan dalam berinteraksi, bermuamalah, dan membangun kehidupan sosial? Ataukah keduanya hanya hadir dalam simbol-simbol keagamaan tanpa benar-benar mewarnai perilaku sehari-hari?
Secara filosofis, hijrah adalah perjalanan kembali menemukan jati diri manusia sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi. Krisis yang banyak terjadi saat ini—krisis moral, krisis kejujuran, krisis kepemimpinan, hingga krisis kemanusiaan—pada hakikatnya berakar pada semakin jauhnya manusia dari nilai-nilai wahyu. Ketika orientasi hidup hanya berpusat pada materi, kekuasaan, dan kepentingan duniawi, maka manusia kehilangan kompas moral yang membimbing langkahnya.
Tahun Baru Islam mengingatkan bahwa peradaban besar yang dibangun Rasulullah SAW di Madinah lahir dari fondasi iman, ilmu, keadilan, persaudaraan, dan akhlak mulia. Perubahan sosial yang dilakukan Nabi tidak dimulai dari pembangunan fisik, melainkan dari pembinaan hati dan karakter manusia. Inilah pelajaran penting yang tetap relevan sepanjang zaman.
Oleh karena itu, memasuki tahun Hijriah yang baru, ulama dan umat Islam perlu menjadikan hijrah sebagai gerakan kolektif untuk kembali meneguhkan hubungan dengan Al-Qur'an dan Sunnah. Bukan sekadar membacanya, tetapi memahami, menghayati, dan mengamalkannya dalam seluruh aspek kehidupan.
Jika hijrah Nabi telah melahirkan peradaban yang menerangi dunia, maka rehijrah umat kepada Al-Qur'an dan Sunnah hari ini diharapkan mampu melahirkan kebangkitan spiritual, moral, dan peradaban yang sangat dibutuhkan oleh umat Islam dan kemanusiaan secara keseluruhan. Sebab pada akhirnya, hijrah yang paling hakiki adalah berpindah dari kehidupan yang jauh dari petunjuk Allah menuju kehidupan yang diridhai-Nya.
"Muharram bukan sekadar pergantian tahun, melainkan panggilan untuk kembali menjadikan wahyu sebagai kompas kehidupan dan peradaban."
Penutup : Bulan Muharram mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian untuk memperbaiki diri. Hijrah Rasulullah SAW bukanlah pelarian dari kesulitan, melainkan langkah visioner untuk membangun peradaban yang berlandaskan iman, ilmu, dan akhlak. Semangat itulah yang semestinya dihidupkan kembali oleh ulama dan umat Islam pada setiap pergantian tahun Hijriah.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh berbagai kepentingan, informasi yang berseliweran tanpa batas, dan godaan materialisme yang kian kuat, umat Islam membutuhkan kompas yang tidak pernah kehilangan arah: Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Keduanya bukan warisan masa lalu yang hanya dikenang, melainkan sumber inspirasi yang selalu relevan untuk menjawab tantangan zaman.
Tahun Baru Islam hendaknya menjadi momentum muhasabah bersama. Saatnya ulama memperkuat dakwah yang mencerahkan dan mempersatukan. Saatnya umat memperdalam pemahaman agama, memperbaiki akhlak, dan menghidupkan nilai-nilai Islam dalam keluarga, masyarakat, dan kehidupan berbangsa.
Hijrah sejati bukanlah sekadar berpindah tempat, melainkan berpindah arah: dari lalai menjadi sadar, dari terpecah menjadi bersatu, dari mengikuti hawa nafsu menuju ketaatan kepada Allah SWT. Jika semangat itu mampu dihidupkan kembali, maka Tahun Baru Islam tidak hanya menjadi pergantian kalender, tetapi juga awal kebangkitan ruhani dan peradaban umat.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
