Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhammad Naufal Rayyan Romadhoni

Cacat Logika dalam Perdebatan di Ruang Publik

Politik | 2026-06-13 19:37:05

Pada Jumat, 5 Juni 2026 terjadi perdebatan mengenai pemilihan kepala BGN (Badan Gizi Nasional) antara Tiyo Ardianto yang merupakan eks Ketua BEM UGM dengan juru bicara Partai Gerindra Astrio Feligent, dalam acara Bola Liar di Kompas TV. Perdebatan ini menyoroti tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan penunjukan Nanik Sudaryati Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).

Dalam acara tersebut Tiyo memberikan statement ekstrem yang menyatakan bahwa pejabat era prabowo tidak memiliki kompetensi dan moralitas yang cukup untuk menjabat. Spesifik terhadap kasus kepala BGN Tiyo menganggap Bu Nanik tidak memiliki latar belakang pendidkan yang linier untuk pantas mendapatkan jabatan tersebut.

“Syarat pejabat itu kan ada dua, kompetensi dan moralitas. Tetapi di zamannya Pak Prabowo komeptensinya gaada, moralitasnya tidak ada, yang penting loyalitasnya. Bu Nanik itu kalau ngomongin kompetensi, kompetensinya apa? Beliau hanyalah seorang wartawan...”

Sebagai kontra pendapat, Astrio berargumen bahwa untuk menjabat Kepala BGN tidak diperukan kompetensi spesifik ahli gizi. Kepimimpinan seseorang dipandang melalui keampuannya mengelola instansi sesuai prosesdur agar program tetap berjalan dengan baik.

“ Tidak perlu menjadi backgroundnya adalah ahli gizi, yang diperlukan adalah bagaimana mejalankan program ini agar program ini tepat sasaran me manage supply chain-nya mengelola tata kelola-nya agar program ini tetap bermanfaat..”

Perdebatan antara Tiyo dan Astrio mengenai kelayakan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) memang memantik diskursus publik yang menarik. Namun, jika dibedah menggunakan pisau analisis logika, argumen dari kedua belah pihak sebenarnya tidak lepas dari jebakan logical fallacy (sesat pikir) yang mengaburkan esensi permasalahan.

Kritik yang dilontarkan Tiyo, meskipun berangkat dari keresahan yang valid mengenai standar kompetensi, mengandung beberapa sesat pikir yang melemahkan objektivitasnya. Pertama, ia terjebak dalam Hasty Generalization (generalisasi yang terburu-buru). Pernyataan Tiyo yang mengklaim bahwa secara keseluruhan pejabat di era pemerintahan saat ini tidak memiliki kompetensi dan moralitas, melainkan hanya loyalitas, merupakan bentuk simpulan sapu jagat. Ia mengambil preseden spesifik penunjukan Kepala BGN untuk memukul rata seluruh pejabat tanpa landasan atau data evaluasi yang komprehensif. Selanjutnya, Tiyo juga melakukan Ad Hominem Circumstantial saat membedah kelayakan sosok Bu Nanik. Alih-alih membuktikan secara konkret kelemahan rekam jejak manajerialnya, Tiyo justru menyerang dan mendiskreditkan latar belakang profesinya melalui pernyataan, "Beliau hanyalah seorang wartawan". Kesesatan logika ini secara keliru mengasumsikan bahwa seorang jurnalis secara otomatis pasti tidak memiliki kapasitas tata kelola institusi.

Di sisi seberang, pembelaan yang diberikan oleh Astrio Feligent sebagai representasi partai juga tidak sepenuhnya solid. Argumen Astrio mengandung Oversimplification (penyederhanaan yang berlebihan) ketika ia menyatakan bahwa kompetensi ahli gizi tidak diperlukan karena fokus utamanya hanyalah kemampuan menjalankan program, mengelola supply chain, dan tata kelola yang tepat sasaran. Argumen ini mereduksi kompleksitas posisi Kepala BGN seolah-olah hanya menjadi urusan manajerial logistik dan distribusi semata. Padahal, BGN adalah lembaga yang juga harus merumuskan kebijakan dan standar gizi nasional yang mutlak membutuhkan pemahaman fundamental keilmuan terkait. Pembelaan tersebut pada akhirnya melahirkan False Dichotomy (dikotomi palsu), di mana Astrio membangun narasi seakan-akan seorang pemimpin hanya memelukan kepemimpinan prosedural dan tidak butuh kompetensi spesifik. Pandangan ini mengabaikan idealitas bahwa pemimpin lembaga yang spesifik seharusnya merupakan perpaduan antara kapasitas kepemimpinan manajerial dan pemahaman substansial di bidang yang dipimpinnya.

Pada kesimpulannya, perdebatan tersebut lebih banyak mempertontonkan retorika dibandingkan adu argumen yang terstruktur. Tiyo menyerang dengan generalisasi luas dan sentimen profesi , sementara Astrio bertahan dengan menyederhanakan fungsi strategis lembaga gizi sebatas manajemen operasional. Untuk mengawal program krusial seperti MBG, publik sesungguhnya membutuhkan diskusi esensial tentang bagaimana tata kelola dan sistem pengawasan dibangun, sehingga program dapat berjalan lancar secara manajerial sekaligus tepat secara keilmuan gizi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image