Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image gracela yolanda

Obat Herbal Tidak Selalu Aman: Mengenal Risiko di Balik Jamu dan OHT

Edukasi | 2026-06-12 07:22:42
Obat Bahan Alam

Banyak masyarakat Indonesia percaya bahwa obat herbal pasti aman karena berasal dari bahan alami. Anggapan ini membuat jamu dan berbagai produk herbal sering dikonsumsi tanpa aturan yang jelas. Padahal, dalam dunia kesehatan, obat herbal tetap memiliki risiko apabila digunakan secara tidak tepat.

Di Indonesia, obat herbal dibagi menjadi tiga golongan utama, yaitu jamu, obat herbal terstandar (OHT), dan fitofarmaka. Ketiga kategori tersebut memiliki tingkat pembuktian ilmiah yang berbeda, mulai dari penggunaan empiris hingga uji klinis pada manusia (Sapitri et al., 2026).

Perbedaan tingkat pembuktian ini menjadi penting karena tidak semua produk herbal memiliki jaminan keamanan dan efektivitas yang sama.

Jamu: Tradisional dan Populer, Tetapi Tetap Memiliki Risiko

Jamu merupakan bentuk obat herbal paling dikenal di Indonesia. Khasiatnya umumnya didasarkan pada pengalaman turun-temurun masyarakat. Karena itulah banyak orang merasa aman mengonsumsinya dalam jumlah besar atau jangka panjang.

Namun, penelitian menunjukkan bahwa beberapa produk jamu ternyata mengandung senyawa alami tertentu yang berpotensi menimbulkan risiko kesehatan apabila dikonsumsi terus-menerus. Salah satunya adalah pyrrolizidine alkaloids(PA), senyawa alami yang ditemukan pada beberapa tanaman dan diketahui dapat bersifat toksik terhadap hati serta berpotensi karsinogenik (Suparmi et al., 2020).

Penelitian lain juga menemukan adanya senyawa alkenylbenzenes pada sejumlah produk jamu Indonesia. Paparan jangka panjang terhadap senyawa tersebut dinilai memiliki potensi risiko genotoksik dan karsinogenik sehingga perlu pengawasan lebih lanjut (Suparmi et al., 2020).

Hal ini menunjukkan bahwa bahan alami tidak selalu identik dengan aman, terutama bila digunakan tanpa dosis dan pengawasan yang tepat.

Risiko Campuran Bahan Kimia Obat pada Herbal

Salah satu masalah terbesar dalam penggunaan obat herbal adalah ditemukannya campuran bahan kimia obat (BKO)secara ilegal pada beberapa produk jamu. Bahan seperti parasetamol, dexamethasone, sildenafil, hingga obat antiinflamasi tertentu kadang ditambahkan agar efek produk terasa lebih cepat (Yuri Pradika, 2025).

Padahal, penggunaan bahan kimia obat tanpa pengawasan dapat menyebabkan berbagai efek samping serius seperti kerusakan ginjal, gangguan hati, hipertensi, hingga gangguan hormonal.

Fenomena ini juga sering dibahas masyarakat di internet. Dalam salah satu diskusi di Reddit, pengguna menyebutkan bahwa banyak orang menganggap jamu pasti aman, padahal beberapa kasus gagal ginjal dikaitkan dengan penggunaan herbal yang tidak jelas kandungannya.

Karena itu, masyarakat dianjurkan memilih produk herbal yang memiliki izin edar resmi dari BPOM dan tidak mudah tergiur klaim “alami tanpa efek samping”.

OHT dan Fitofarmaka Dinilai Lebih Aman, Mengapa?

Berbeda dengan jamu biasa, obat herbal terstandar (OHT) telah melalui proses standarisasi bahan baku dan pengujian praklinik. Sementara itu, fitofarmaka merupakan kategori tertinggi karena telah melewati uji klinis pada manusia sehingga keamanan dan efektivitasnya lebih terukur (Nugraha et al., 2026).

Dengan adanya proses penelitian tersebut, risiko penggunaan dapat diminimalkan karena dosis, kandungan aktif, serta efek samping telah dipelajari lebih lanjut.

Walaupun demikian, OHT dan fitofarmaka tetap harus digunakan sesuai aturan. Penggunaan berlebihan atau kombinasi dengan obat lain tanpa konsultasi tetap dapat menimbulkan interaksi obat yang berbahaya.

Interaksi Herbal dengan Obat Modern Sering Diabaikan

Banyak masyarakat mengonsumsi herbal bersamaan dengan obat dokter tanpa mengetahui adanya kemungkinan interaksi. Padahal, beberapa tanaman herbal dapat memengaruhi kerja obat tertentu di dalam tubuh.

Penelitian mengenai penggunaan herbal di Indonesia menunjukkan bahwa interaksi antara obat herbal dan obat konvensional masih sering terjadi dan kurang disadari masyarakat.

Sebagai contoh, herbal tertentu dapat meningkatkan atau menurunkan efektivitas obat tekanan darah, diabetes, maupun pengencer darah. Akibatnya, terapi menjadi tidak optimal bahkan dapat membahayakan pasien.

“Herbal” Tidak Sama dengan “Tanpa Risiko”

Popularitas obat herbal meningkat karena dianggap lebih alami dan mudah diperoleh. Namun, penggunaan herbal tetap memerlukan pengetahuan yang benar, terutama terkait dosis, kualitas produk, serta kondisi kesehatan pengguna.

Keberadaan jamu, OHT, dan fitofarmaka menunjukkan bahwa obat herbal memiliki tingkatan ilmiah yang berbeda. Semakin tinggi tingkat pembuktian ilmiahnya, semakin besar pula jaminan keamanan dan efektivitasnya.

Karena itu, masyarakat perlu lebih kritis dalam memilih produk herbal dan tidak langsung percaya bahwa semua produk alami pasti aman untuk dikonsumsi setiap hari.

Referensi:

Nugraha, A. S., Kintoko, K., Putri, C. P. Z. S., Az-Zahra, F., Firli, L. N., Rani, D. M., Purnomo, Y. D., Nguyen, P. T. V., Puspitasari, R. M., Hartati, T., Triatmoko, B., Pratama, A. N. W., Wahyuni, D. S. C., Muliasari, H., Keller, P. A., & Wangchuk, P. (2026). Antidiabetic medicinal plants of Indonesia: their in silico, in vitro, in vivo and clinical trial studies. Phytochemistry Reviews, 25(2), 1581–1619. https://doi.org/10.1007/s11101-025-10173-y

Sapitri, A., Marbun, E. D., Suryani, M., Fikri, N. N., Anggraini, R. U., & Ningtia, A. C. (2026). Jurnal Review: Pengaruh Suatu Zat Terhadap Sistem Dalam Tubuh Dari Jamu, Obat Herbal Terstandar, Dan Fitofarmaka Serta Manfaatnya Sebagai Antiinflamasi. Jurnal Farmasi SYIFA, 4(1), 80–88. https://doi.org/10.63004/jfs.v4i1.986

Suparmi, S., Mulder, P. P. J., & Rietjens, I. M. C. M. (2020). Detection of pyrrolizidine alkaloids in jamu available on the Indonesian market and accompanying safety assessment for human consumption. Food and Chemical Toxicology, 138, 111230. https://doi.org/10.1016/j.fct.2020.111230

Yuri Pradika. (2025). Bahan Kimia Obat dalam Jamu Tradisional: Tinjauan Risiko Klinis dan Deteksi Laboratorium. Jurnal Medical Laboratory, 5(1), 10–21. https://doi.org/10.57213/medlab.v5i1.369

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image