Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Terbit Mahardika Herlambang

Seni Komunikasi pada Buku Bicara Itu Ada Seninya Karya Oh Su Hyang

Sastra | 2026-06-11 00:31:47

Pada kehidupan sehari-hari, kita sebagai manusia tidak akan pernah lepas dari sebuah komunikasi. Berbicara atau komunikasi menjadi salah satu cara utama untuk menyampaikan pikiran, perasaan, serta membangun hubungan dengan orang lain. Akan tetapi, pada kenyataannya, tidak semua orang mampu berkomunikasi dengan baik. Banyak orang yang sebenarnya memiliki ide yang cerdas dan pengetahuan yang luas, namun kesulitan dalam menyampaikannya secara efektif dan jelas. Ada pula orang yang tanpa sadar melukai perasaan orang lain hanya karena sepatah kata yang kurang tepat. Hal inilah yang membuat kemampuan berbicara menjadi keterampilan yang sangat penting untuk dipelajari. Pada buku Bicara Itu Ada Seninya karya Oh Su Hyang hadir sebagai salah satu buku pengembangan diri yang menawarkan panduan tentang bagaimana berbicara dengan baik, percaya diri, dan mampu memberikan pengaruh positif kepada orang lain.

Oh Su Hyang merupakan seorang pakar komunikasi dan motivator terkenal asal Korea Selatan yang telah lama menekuni bidang komunikasi interpersonal dan public speaking. Melalui buku ini, beliau menyampaikan bahwa kemampuan berbicara bukanlah bakat asli yang hanya dimiliki oleh sebagian orang, melainkan sebuah keterampilan yang dapat dilatih dan dikembangkan. Penulis ingin menunjukkan bahwa berbicara bukan hanya tentang mengeluarkan kata-kata, tetapi juga tentang bagaimana menyampaikan pesan dengan empati, ketulusan, dan strategi yang tepat agar dapat diterima dengan baik oleh lawan bicara.

Secara luas, buku ini membahas berbagai aspek penting dalam komunikasi. Penulis menjelaskan mengenai bagaimana cara membangun rasa percaya diri saat berbicara, mengatasi rasa gugup, memilih kata-kata yang tepat, menggunakan intonasi suara yang meyakinkan, serta pentingnya bahasa tubuh sebagai pendukung pesan yang disampaikan. Selain itu, buku ini juga mengajarkan bagaimana menjadi pendengar yang baik, karena komunikasi yang efektif tidak hanya bergantung pada kemampuan berbicara, tetapi juga kemampuan memahami dan menghargai lawan bicara.

Salah satu gagasan utama yang sangat menarik dalam buku ini ialah pentingnya empati dalam komunikasi. Oh Su Hyang menekankan bahwa berbicara yang baik bukan berarti mendominasi percakapan atau selalu ingin didengar dan menjadi pusat perhatian, namun juga harus mampu memahami perasaan dan sudut pandang orang lain. Dalam beberapa kasus, konflik dan kesalahpahaman sering kali terjadi bukan karena perbedaan pendapat, namun karena kurangnya empati dalam menyampaikan atau menerima pesan dalam berkomunikasi. Penulis mengajak pembaca untuk lebih teliti dalam memilih kata-kata, karena ucapan yang sederhana sekalipun dapat meninggalkan kesan yang mendalam bagi lawan bicara, baik positif maupun negatif.

Buku ini juga memberikan perhatian besar pada kekuatan kata-kata positif. Penulis menjelaskan bahwa kata-kata seperti pujian, apresiasi, dukungan, dan ucapan terima kasih memiliki kekuatan besar dalam mempererat hubungan antar individu. Sebaliknya, kata-kata yang kasar, meremehkan, atau penuh emosi negatif juga dapat melukai hati seseorang dan merusak hubungan yang telah dibangun. Melalui berbagai contoh nyata dan ilustrasi kehidupan sehari-hari, pembaca diajak untuk menyadari bahwa berbicara dengan baik bukan hanya tentang teknik komunikasi, tetapi juga tentang membangun karakter yang penuh penghargaan terhadap orang lain.

Adapun kelebihan utama buku Bicara Itu Ada Seninya terletak pada cara penyampaiannya yang ringan, sistematis, dan mudah dipahami. Meskipun membahas topik komunikasi secara mendalam, penulis menggunakan bahasa yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh semua kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga pekerja profesional. Setiap bab dan sub bab disusun dengan runtut dan dilengkapi dengan realisasi nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini membuat pembaca tidak hanya memahami teori, namun juga dapat langsung merealisasikannya dalam kehidupan nyata.

Meski demikian, buku ini juga memiliki beberapa kekurangan. Beberapa pembahasan terasa sedikit berulang karena penulis beberapa kali menekankan pentingnya komunikasi yang positif dalam konteks yang berbeda. Selain itu, sebagian contoh yang digunakan berasal dari budaya Korea Selatan yang dasarnya berbeda dengan budaya Indonesia, sehingga beberapa pembaca mungkin merasa kurang dekat dengan kondisi yang mereka alami. Namun, secara keseluruhan, kekurangan tersebut tidak mengurangi nilai penting dari isi buku karena pesan-pesan yang disampaikan tetap relevan secara umum.

Menurut saya pribadi, buku Bicara Itu Ada Seninya merupakan salah satu buku pengembangan diri yang sangat bermanfaat, terutama bagi mereka yang ingin meningkatkan kualitas komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Buku ini dapat mengajarkan bahwa berbicara bukan hanya soal menyampaikan informasi, tetapi juga tentang bagaimana membangun hubungan yang sehat, menciptakan kenyamanan antar individu, dan memberikan pengaruh positif kepada orang lain.

Secara keseluruhan, Bicara Itu Ada Seninya merupakan buku yang sangat layak dibaca oleh semua kalangan, terutama oleh pelajar, mahasiswa, dan semua khalayak yang ingin meningkatkan kemampuan komunikasi serta membangun rasa percaya diri. Buku ini tidak hanya memberikan teori, tetapi juga panduan dan contoh praktis yang dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui buku ini, pembaca akan dapat memahami bahwa berbicara memang memiliki seni tersendiri, dan seni tersebut dapat menjadi kunci penting untuk membangun hubungan yang harmonis, mencapai kesuksesan, serta menjadi pribadi yang lebih bijaksana dalam berkomunikasi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image