Daging Qurban Menghangatkan Hari Para Pengungsi di Bumi Syam
Filantropi | 2026-06-10 10:57:35
Matahari siang itu, Rabu (27/5/2026), bersinar terik di atas Kamp Deir Ballouth, sebuah kawasan gersang di ujung utara Suriah yang berbatasan langsung dengan Turki. Debu-debu beterbangan ditiup angin, menyelinap di antara ribuan tenda yang berjejer kaku.
Di sana, di balik lembaran-lembaran terpal putih yang mulai koyak dan memudar warnanya, ribuan jiwa bertahan hidup. Mereka adalah para pengungsi Palestina dan Suriah. Mereka yang terusir dari tanah kelahiran, meniti hari demi hari dalam ketidakpastian yang melelahkan.
Bagi para pengungsi di Deir Ballouth, juga di kamp-kamp lain seperti Handarat, Annairab, Yarmouk, Khan Syih, Jaramana, hingga Esbena, jangankan memikirkan makanan mewah, untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari pun mereka harus memeras keringat di tengah segala keterbatasan.
Di tempat ini, daging adalah kemewahan yang teramat langka. Sesuatu yang barangkali hanya hadir dalam ingatan masa lalu, sebelum bom-bom menghancurkan rumah mereka di Kamp Yarmouk, Damaskus, dan memaksa mereka berlari ke utara mencari perlindungan.
Sedekah Daging Hadirkan Bahagia
Suasana muram itu perlahan mencair ketika deru mobil logistik membelah keheningan kamp. Di dalamnya, ada amanah besar dari masyarakat Indonesia yang disalurkan melalui Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) Darut Tauhid (DT) Peduli, berkolaborasi dengan Lembaga Kemanusiaan Persahabatan Indonesia-Syam (PISY).
Sebanyak 10 ekor domba dan 1 ekor sapi disembelih di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Athma, Idlib, serta wilayah Duma, Rif Damaskus. Daging-daging segar itu kemudian dikemas rapi ke dalam kantong-kantong distribusi, siap diantarkan langsung ke tangan mereka.
"Alhamdulillah, DT Peduli berbagi daging sedekah untuk saudara-saudara Palestina kita di daerah perbatasan Suriah dan Turki, yaitu daerah Atma. Sebanyak 10 ekor daging sedekah DT Peduli," ujar KH. Zulkifli Ali, Pembina PISY, saat mendampingi langsung proses pengemasan daging dengan penuh syukur.
Ia menambahkan, setiap potong daging yang masuk ke dalam kantong berlogo DT Peduli ini membawa doa dan harapan dari tanah air.
"Mudah-mudahan amalan dari saudara-saudara kita yang mempercayakan harta mereka melalui DT Peduli mendapatkan pahala yang berlapis-lapis dan berkali-kali lipat di sisi Allah. Kami dari PISY, mudah-mudahan Allah terima amal saleh kita. Besar pahala kita, mulia kita di dunia dan akhirat," tuturnya tulus.
Potret di Pengungsian
Perjalanan dari RPH menuju kamp-kamp pengungsian bukanlah perkara mudah. Medan berdebu menjadi tantangan tersendiri bagi para relawan di lapangan. Salah seorang relawan PISY menggambarkan betapa menyayat hatinya kondisi tenda pengungsian yang mereka kunjungi.
"Siang ini, kita sudah di kamp pengungsi di daerah Deir Ballouth. Di dalamnya ada pengungsi dari Palestina, ada juga pengungsi dari Suriah. Kondisi di sini, alhamdulillah jalanan mulai diberi batu-batu, tapi atapnya tetap pakai kain terpal. Banyak yang sudah hancur juga," kisahnya seraya menunjuk deretan tenda rapuh di sekelilingnya.
Relawan tersebut mengisahkan bahwa para pengungsi Palestina ini awalnya menetap di Kamp Yarmouk, sebuah kota kecil yang cukup hidup di pinggiran Damaskus. Namun, kekejaman konflik dan kehancuran total akibat tindakan rezim memaksa mereka mengalami pengungsian ganda. Mereka terlempar hingga ke pelosok Atma dan Deir Ballouth, hidup di bawah atap plastik dan terpal yang panas memijar saat musim panas dan membeku kaku saat musim dingin tiba.
Kepedihan itu seolah memudar berganti binar bahagia saat kantong-kantong daging qurban mulai dibagikan. Sekitar 460 keluarga pengungsi menerima paket tersebut dengan mata berkaca-kaca. Bagi mereka, kiriman ini bukan sekadar bantuan pangan pengganjal lapar, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan yang dirindukan di tengah kesulitan.
"Alhamdulillah, kami sangat bersyukur menerima daging qurban ini. Sudah lama keluarga kami tidak menikmati daging karena keterbatasan yang kami hadapi. Bantuan ini bukan hanya memenuhi kebutuhan pangan kami, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan di tengah kondisi yang sulit," ucap salah seorang kepala keluarga penerima manfaat penuh haru.
Doa yang tulis ia panjatkan untuk para muqarib dan donatur yang telah menitipkan qurbannya kepada DT Peduli.
"Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada saudara kami dari Indonesia. Semoga Allah membalas kebaikan kalian dan Allah terima amal ini di sisi-Nya."
"I love Indonesia"
Kebahagiaan yang paling murni terpancar dari wajah anak-anak pengungsian. Dengan pakaian yang lusuh, mereka berkumpul di sekitar relawan. Senyum lebar terukir di wajah-wajah polos mereka yang biasa dilingkupi trauma perang.
Secara spontan dan serentak, suara cempreng anak-anak itu memecah kesunyian kamp, menyuarakan kalimat yang menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya, "I love Indonesia!"
Kepedulian dari donatur DT Peduli hari itu telah menjembatani jarak ribuan kilometer antara Indonesia dan Suriah. Sepotong daging qurban mungkin akan habis dalam sehari atau dua hari, namun kehangatan kasih sayang dan harapan yang ditinggalkan di hati para pengungsi akan bertahan lama, menguatkan mereka untuk terus bertahan hidup di bawah naungan langit Suriah. (Agus ID)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
