Kembang Api Bisnis Kuliner Kita
UMKM | 2026-06-10 05:09:35Beberapa tahun lalu, di banyak sudut kota orang rela mengantre panjang demi segelas Es Kepal Milo. Tidak lama berselang, giliran Dalgona Coffee membanjiri linimasa saat pandemi, lalu croffle memenuhi etalase kafe. Hari ini nama-nama itu nyaris terlupakan. Pola yang sama terus berulang. Sebuah menu melonjak populer dalam hitungan minggu berkat media sosial, diserbu pelaku usaha baru, lalu meredup secepat kemunculannya. Fenomena ini menyenangkan untuk diikuti, tetapi menyimpan jebakan serius bagi siapa pun yang ingin menjadikan kuliner sebagai usaha jangka panjang.
Banyak usaha kuliner lahir bukan dari perhitungan matang, melainkan dari rasa takut ketinggalan tren. Begitu satu menu viral, ribuan orang ramai-ramai menjualnya tanpa bekal apa pun selain resep yang sedang ramai. Padahal tren viral itu ibarat kembang api, indah dan cepat meledak, tetapi sama cepatnya padam. Usaha yang dibangun hanya di atas hype akan ikut padam ketika perhatian publik berpindah. Maka pertanyaan terpenting bagi calon pelaku bisnis kuliner bukanlah menu apa yang sedang viral, melainkan apa yang membuat usahanya tetap hidup setelah viral berlalu.
Pasar Besar Umur Pendek
Sektor kuliner memang menggoda. Modal awalnya relatif terjangkau dan pasarnya selalu ada karena semua orang butuh makan. Tidak heran usaha mikro, kecil, dan menengah tumbuh subur hingga menembus lebih dari 65 juta unit dan menyumbang sekitar 61 persen Produk Domestik Bruto. Namun kemudahan masuk inilah yang justru membuat persaingan menjadi sangat sesak. Daya beli rumah tangga yang sedang melemah turut menekan omzet usaha kuliner, sehingga margin yang semula tipis menjadi makin rapuh. Sebagian orang bahkan membuka usaha bukan karena strategi, melainkan karena terdesak sempitnya lapangan kerja, sehingga fondasinya rapuh sejak awal. Dalam kondisi seperti ini, modal nekat mengikuti tren tanpa perhitungan hampir pasti berujung gulung tikar.
Persoalannya, banyak pelaku usaha keliru membaca apa yang sebenarnya mereka jual. Mereka mengira sedang menjual produk, padahal hanya menumpang sebuah momen. Ketika momen itu lewat, tidak ada lagi yang bisa ditawarkan. Es Kepal Milo dan Donat Indomie meredup bukan karena rasanya buruk, melainkan karena terlalu mudah ditiru dan minim inovasi lanjutan. Begitu semua orang menjual hal yang sama, keunikan hilang dan harga ikut terjun. Lebih jauh, media sosial mendorong banyak menu dikejar bukan karena enak, melainkan karena layak tampil di kamera. Tidak sedikit orang rela mengantre demi konten, bukan demi rasa, sehingga begitu sorotan padam, alasan untuk kembali pun ikut hilang. Tren yang awalnya peluang berubah menjadi jebakan karena pasar dibanjiri penjual yang seragam.
Fondasi Yang Membedakan
Lalu apa yang membuat sebagian usaha tetap bertahan saat yang lain berguguran? Jawabannya bukan keberuntungan, melainkan fondasi. Usaha kuliner yang awet umumnya memiliki keunikan produk yang tidak mudah ditiru, pencatatan keuangan yang disiplin dengan kontrol biaya bahan yang ketat, kehadiran digital yang kuat, serta pelanggan setia yang dibangun perlahan. Mengikuti tren sebenarnya tidak salah, asalkan dijadikan pintu masuk untuk menarik perhatian, bukan satu-satunya tumpuan. Pelaku usaha yang cerdas memakai tren sebagai umpan, lalu menahan pelanggan dengan kualitas dan pengalaman yang konsisten. Lihat saja warung kopi atau rumah makan yang sudah puluhan tahun bertahan. Mereka jarang bergantung pada tren, tetapi punya pelanggan yang datang berulang kali karena rasa dan layanan yang bisa diandalkan.
Pada akhirnya, viral hanyalah perhatian sesaat, sedangkan bisnis adalah perkara bertahan dalam waktu panjang. Bagi mahasiswa dan calon wirausaha kuliner, godaan untuk ikut arus tren akan selalu ada, dan itu wajar. Namun membangun usaha yang hanya bergantung pada sorotan media sosial sama saja dengan menyalakan kembang api lalu berharap cahayanya abadi. Yang dibutuhkan bukan sekadar keberanian mengikuti tren, melainkan kesabaran membangun fondasi, sebab di situlah letak perbedaan antara usaha yang ramai sehari dan usaha yang benar-benar hidup.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
