Ketika Kampus Menjadi Destinasi Wisata: UGM dan Tren Edutourism di Indonesia
Wisata | 2026-06-09 01:01:14
Fenomena kampus sebagai destinasi wisata bukan lagi sesuatu yang asing di Indonesia. Universitas Gadjah Mada (UGM), salah satu universitas paling bergengsi di negeri ini, kini tak hanya menjadi impian jutaan pelajar, tetapi juga daya tarik nyata bagi wisatawan dari berbagai penjuru negeri.
100.000 Pengunjung Setahun: UGM Pun Berbenah
Menurut data dari Program Studi Pariwisata Fakultas Ilmu Budaya UGM, lebih dari 100.000 orang per tahun mengunjungi kampus UGM dalam rangka campus tour. Segmen terbesar adalah siswa SMA dari berbagai daerah di Indonesia yang datang untuk mengenal lebih dekat UGM dari berbagai sisi.
Besarnya antusiasme ini mendorong UGM untuk bergerak serius. Pada Maret 2025, universitas yang bermarkas di kawasan Bulaksumur, Yogyakarta, ini menggelar Pelatihan Kepemanduan Campus Tour UGM, sebuah langkah strategis untuk menyambut sistem baru pengelolaan kunjungan yang lebih terkoordinasi.
Sebelumnya, pelaksanaan campus tour di UGM masih terdesentralisasi di tiap fakultas dan unit kerja. Kini, universitas berupaya mengonsolidasikannya melalui satu sistem terpusat di bawah koordinasi Biro Manajemen Strategis. Mahasiswa dari berbagai fakultas dilatih menjadi pemandu, dilengkapi kemampuan storytelling dan pemahaman mendalam tentang nilai-nilai ke-UGM-an.
Praktik kunjungan kampus di UGM sendiri sebenarnya sudah berlangsung sejak beberapa dekade. Akan tetapi, permintaan terus meningkat dari tahun ke tahun, tidak hanya dari kalangan pelajar, tetapi juga dari berbagai instansi pemerintah maupun swasta yang tertarik melihat langsung ekosistem akademik salah satu universitas terbaik di Indonesia ini.
Dua Sisi Mata Uang: Ketika Wisatawan Bertemu Mahasiswa
Akan tetapi, tidak semua pihak menyambut tren ini dengan tangan terbuka. Masuknya wisatawan ke lingkungan kampus memunculkan sejumlah kekhawatiran yang patut diperhatikan.
Pertama, soal kenyamanan akademik. Arus kunjungan yang tidak terkelola dengan baik berpotensi mengganggu proses perkuliahan, penelitian, dan ketenangan yang menjadi jiwa sebuah universitas.
Kedua, ada risiko degradasi nilai intelektual kampus apabila orientasi profit terlalu dominan dan batas antara kegiatan akademik dengan komersial menjadi kabur.
Ketiga, dampak lingkungan. Peningkatan jumlah pengunjung dapat memicu masalah sampah, kemacetan, dan polusi di sekitar kawasan kampus.
Itulah mengapa langkah UGM untuk membangun sistem campus tour yang terstruktur dan terpusat patut diapresiasi. Ini bukan sekadar soal mengelola wisatawan, tetapi tentang memastikan bahwa kampus tetap menjadi ruang belajar yang kondusif, bukan sekadar objek fotografi.
Pembangunan Wisata Kampus Indonesia?
Di berbagai negara, campus tourism telah berkembang menjadi industri tersendiri. Kampus-kampus seperti Oxford, Harvard, dan MIT bukan hanya menjadi pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga destinasi wisata kelas dunia yang dikelola secara profesional dengan pemandu bersertifikat, fasilitas pengunjung yang memadai, dan integrasi yang harmonis antara fungsi akademik dan publik.
Indonesia punya potensi yang serupa. Universitas-universitas besar dengan nilai historis, estetika arsitektur, keindahan alam, dan reputasi akademik yang kuat adalah aset wisata edukasi yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Apa yang dibutuhkan sekarang adalah tata kelola yang matang: siapa yang boleh masuk, kapan, dan ke mana. Sistem yang melindungi kepentingan sivitas akademika sekaligus membuka pintu bagi publik untuk terinspirasi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
