Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image ARIS SETIAWAN

Tawakal di Tengah Overthinking: Menjaga Kesehatan Mental Mahasiswa pada Era Digital

Agama | 2026-06-08 23:05:26

Tawakal di Tengah Overthinking: Menjaga Kesehatan Mental Mahasiswa pada Era Digital

Aris Setiawan

Dalam beberapa akhir-akhir ini kesehatan mental mahasiswa menjadi perhatian di kalangan masyarakat maupun institusi pendidikan. Dalam kehidupan perkuliahan terdapat banyak tuntutan akademik, seperti tugas, ujian, praktikum, dan berbagai tanggung jawab lainnya. Selain itu, persaingan prestasi serta ketidakpastian masa depan juga menjadi faktor yang dapat menyebabkan mahasiswa mengalami stres, kecemasan, dan berbagai permasalahan psikologis lainnya yang dapat mengganggu proses perkuliahan. Pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental mahasiswa semakin terlihat dari berbagai hasil penelitian dan survei. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa sekitar satu dari tujuh remaja dan dewasa muda mengalami gangguan kesehatan mental, dengan kecemasan dan depresi menjadi masalah yang paling sering ditemukan (World Health Organization, 2023). Di Indonesia, survei kesehatan mental mahasiswa yang dilakukan oleh Badan Konseling Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia menunjukkan bahwa lebih dari 47% mahasiswa berada pada kategori kecemasan berat hingga sangat berat (BKM FISIP UI, 2024). Sementara itu, survei Universitas Negeri Surabaya terhadap 1.219 mahasiswa menunjukkan bahwa 21,9% mahasiswa berada pada kategori gangguan kesehatan mental berat dan 43,5% berada pada kategori sedang (UNESA, 2024). Data tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental mahasiswa merupakan persoalan yang nyata dan perlu mendapatkan perhatian yang serius.

Dalam berbagai penelitian juga ditunjukkan bahwa mahasiswa merupakan individu yang berada pada masa dewasa awal, yaitu masa transisi dari remaja menuju dewasa yang rentan mengalami gangguan kesehatan mental. Dalam sebuah penelitian mengenai kesejahteraan mental mahasiswa ditemukan bahwa mahasiswa yang mengalami gangguan kesehatan mental ditandai dengan kecemasan yang berlebihan, kesulitan dalam mengambil keputusan, dan kekhawatiran yang berkepanjangan (Kurniawati, Wulandari, & Anisah, 2025). Kondisi tersebut menjadi sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan mahasiswa saat ini. Temuan tersebut menunjukkan bahwa permasalahan kesehatan mental telah menjadi bagian dari realitas yang dihadapi oleh banyak mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari.

Fenomena tersebut semakin kuat dengan perkembangan teknologi dan media sosial. Mahasiswa hidup di lingkungan yang sangat dekat dengan penggunaan teknologi dan media sosial. Dalam lingkungan tersebut, mahasiswa sering kali membandingkan dirinya dengan orang lain yang dianggap lebih sukses, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik. Mereka melihat teman-teman yang memiliki IPK tinggi, memperoleh beasiswa, memenangkan perlombaan, atau mendapatkan berbagai pencapaian lainnya. Kondisi ini sering kali memicu munculnya perasaan tertinggal, kurang percaya diri, dan berbagai permasalahan kesehatan mental yang banyak dialami mahasiswa.

Penelitian menunjukkan bahwa overthinking merupakan kecenderungan berpikir secara berlebihan dan berulang terhadap suatu permasalahan yang dapat menimbulkan kecemasan, keraguan diri, serta mengganggu aktivitas akademik dan kesejahteraan psikologis mahasiswa (Ivanka & Saragi, 2023). Banyak mahasiswa menghabiskan waktunya untuk memikirkan berbagai kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi. Mereka merasa khawatir terhadap hasil ujian yang belum diumumkan, takut tidak dapat menyelesaikan studi tepat waktu, atau cemas terhadap masa depan yang masih belum pasti. Akibatnya, mahasiswa menjadi sulit berkonsentrasi, mudah merasa lelah secara emosional, dan mengalami penurunan produktivitas dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Dalam menghadapi berbagai tekanan tersebut, mahasiswa memerlukan strategi yang dapat membantu mereka menjaga keseimbangan emosional dan psikologis. Salah satu nilai yang dapat diterapkan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah sikap tawakal. Sikap tawakal merupakan salah satu konsep penting dalam Islam yang mengajarkan manusia untuk berserah diri kepada Allah SWT setelah melakukan usaha secara maksimal. Menurut Al-Ghazali, tawakal merupakan sikap bersandar dan mempercayakan segala urusan kepada Allah SWT setelah melakukan ikhtiar secara sungguh-sungguh. Dengan demikian, tawakal bukanlah sikap pasrah tanpa usaha, melainkan perpaduan antara ikhtiar dan keyakinan bahwa Allah SWT akan memberikan hasil terbaik bagi hamba-Nya.

Konsep tawakal memiliki relevansi yang sangat kuat dengan kesehatan mental mahasiswa. Banyak mahasiswa yang mengalami tekanan bukan hanya karena tugas akademik yang banyak, tetapi juga karena kekhawatiran yang berlebihan terhadap hasil yang belum pasti. Mereka takut mendapatkan nilai yang rendah, mengecewakan orang tua, serta merasa tidak mampu mencapai keberhasilan seperti yang diraih oleh orang lain. Ketika pikiran dipenuhi oleh berbagai kekhawatiran tersebut, kesehatan mental dapat terganggu dan memunculkan stres maupun kecemasan yang berlebihan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa religiusitas dan spiritualitas dapat menjadi faktor protektif yang membantu individu menghadapi tekanan hidup secara lebih adaptif ( Yuliana & Nashori, 2022).

Dalam perspektif psikologi, kondisi tersebut berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam menghadapi stres atau yang dikenal dengan istilah coping. Coping merupakan usaha yang dilakukan individu untuk mengatasi tekanan hidup yang dihadapinya. Salah satu bentuk coping yang banyak dibahas adalah coping religius. Melalui coping religius yang baik, individu dapat menghadapi tekanan hidup dengan lebih sehat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai spiritual dan religiusitas dapat menjadi salah satu strategi coping yang membantu individu menjaga kesehatan mental dan menghadapi berbagai tantangan kehidupan secara lebih positif (Yuliana & Nashori, 2022).

Meskipun demikian, penting untuk dipahami bahwa tawakal bukanlah solusi tunggal bagi seluruh persoalan kesehatan mental. Mahasiswa yang mengalami gangguan psikologis tetap memerlukan dukungan sosial, konseling, bantuan psikolog, bahkan psikiater apabila permasalahan yang dialami sudah berada pada tingkat yang berat. Dalam konteks kesehatan mental, tawakal dapat menjadi sumber kekuatan spiritual yang mendukung proses pemulihan dan membantu individu menjaga kesehatan mentalnya secara menyeluruh.

Pada akhirnya, kesehatan mental mahasiswa merupakan fondasi penting bagi keberhasilan proses pendidikan. Mahasiswa yang memiliki kondisi mental yang sehat akan lebih mampu belajar secara optimal, menjalin hubungan sosial yang baik, serta menghadapi berbagai tantangan kehidupan dengan lebih bijaksana. Dalam konteks ini, konsep tawakal menjadi nilai yang sangat relevan karena mengajarkan keseimbangan antara usaha dan penerimaan, antara ikhtiar dan kepercayaan kepada Allah SWT.

Mahasiswa yang memiliki tingkat tawakal yang tinggi cenderung lebih mampu menghadapi tantangan akademik, tidak mudah menyerah ketika mengalami kegagalan, serta memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengelola tekanan yang dihadapi. Dengan demikian, penerapan sikap tawakal dapat menjadi salah satu upaya yang membantu mahasiswa dalam menjaga kesehatan mental di tengah berbagai tekanan kehidupan modern. Sikap tawakal tidak hanya memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT, tetapi juga membantu membangun ketenangan batin, mengurangi kecemasan, serta meningkatkan kemampuan dalam menghadapi tantangan akademik maupun sosial (Fitriani et al., 2024).

Mahasiswa perlu membiasakan diri untuk menerima hasil dengan lapang dada. Tidak semua hasil akan sesuai dengan harapan. Ada kalanya seseorang menerima hasil yang tidak sesuai dengan keinginannya meskipun telah berusaha dengan sungguh-sungguh. Dalam kondisi tersebut, tawakal membantu mahasiswa menerima kenyataan tanpa kehilangan semangat untuk terus memperbaiki diri dan berusaha menjadi lebih baik.

Penerapan konsep tawakal dalam kehidupan mahasiswa dapat dilakukan melalui berbagai cara sederhana, seperti meningkatkan kualitas ibadah, membaca Al-Qur'an, berdoa, berzikir, serta mengikuti kegiatan keagamaan yang dapat meningkatkan ketenangan batin. Melalui aktivitas-aktivitas tersebut, mahasiswa dapat memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT sekaligus memperoleh ketenangan dalam menghadapi berbagai tekanan kehidupan.

Nilai tawakal dapat menjadi salah satu kontribusi penting dari ajaran Islam yang tercantum dalam Al-Qur'an dan hadis untuk membantu manusia menjalani kehidupan dengan lebih baik. Tawakal mengajarkan bahwa manusia harus berusaha secara maksimal, namun tetap menyadari bahwa hasil akhir berada dalam kehendak Allah SWT. Dengan demikian, tawakal tidak hanya menjadi bentuk ibadah, tetapi juga dapat menjadi sumber kekuatan psikologis yang membantu mahasiswa menjaga kesehatan mentalnya di tengah berbagai tantangan kehidupan modern.

.

Referensi:

Amalia, V. R., & Nashori, F. (2021). HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS DAN EFIKASI DIRI DENGAN STRES AKADEMIK MAHASISWA FARMASI. Psychosophia: Journal of Psychology, Religion, and Humanity, 3(1), 36–55. https://doi.org/10.32923/psc.v3i1.1702

Ivanka, D., & Dinata Saragi, M. P. (2023). Overthinking Pada Mahasiswa: Analisis Perbandingan Mahasiswa Tingkat Awal dan Tingkat Akhir. GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan Dan Konseling, 13(2), 225. https://doi.org/10.24127/gdn.v13i2.7455

Laksmidara, M., & Nashori, F. (2022). The State of Loneliness among Migrating Students: The Effect of Psychological Well-Being and Religiosity. International Journal of Islamic Educational Psychology, 3(2), progress. https://doi.org/10.18196/ijiep.v3i2.15613

Psikologi, J., Fitriani, A., Shafa Talitha, A., Aulia Riady, S., & Nashori, F. (n.d.). Annisa Fitriani-Tawakal dan Resiliensi Akademik dalam Setting Blended Learning.

Setyorini, C., Andriani Noerlita Ningrum, Ahmad Zamani, & Novita Nurhidayati. (2025). ANALISIS DUKUNGAN SOSIAL DENGAN KESEHATAN MENTAL PADA MAHASISWA STIKES MAMBA’UL ‘ULUM SURAKARTA. Intan Husada : Jurnal Ilmiah Keperawatan, 13(01), 150–158. https://doi.org/10.52236/ih.v13i1.695

[1] Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image