Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Tonny Rivani

Indonesia di Panggung Global: Membawa Harapan Perdamaian dari Paris

Politik | 2026-06-02 12:21:34
Foto Pertemuan Di Paris.

Opini - Dari Paris, Presiden membawa pesan penting bahwa Indonesia dan Prancis dapat memainkan peran positif di tengah situasi global yang dipenuhi ketidakpastian, konflik geopolitik, serta tantangan kemanusiaan yang semakin kompleks. Kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo ke pada 26–29 Mei 2026 menjadi momentum strategis untuk memperkuat hubungan bilateral sekaligus menegaskan komitmen Indonesia terhadap perdamaian dunia.

Dalam pertemuannya dengan Presiden , kedua negara sepakat memperluas kerja sama di berbagai bidang, mulai dari ekonomi, investasi, pertahanan, energi bersih, teknologi, hingga pendidikan. Namun lebih dari sekadar kerja sama pragmatis, pertemuan tersebut mencerminkan kesamaan pandangan bahwa stabilitas global harus dibangun melalui dialog, kerja sama multilateral, dan penghormatan terhadap hukum internasional.

Di tengah meningkatnya ketegangan di berbagai kawasan dunia, Indonesia kembali menegaskan politik luar negeri bebas aktif yang sejak lama menjadi fondasi diplomasi nasional. Bagi Indonesia, diplomasi tidak semata-mata berbicara mengenai kepentingan negara, tetapi juga menyangkut kemanusiaan, keadilan, dan tanggung jawab moral terhadap perdamaian dunia. Pakar hubungan internasional asal Amerika Serikat, , pernah menegaskan bahwa kekuatan suatu negara tidak hanya ditentukan oleh kemampuan militer dan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan membangun kepercayaan serta memengaruhi dunia melalui nilai-nilai moral dan diplomasi.

Konsep soft power yang diperkenalkannya menunjukkan bahwa negara yang mampu menjadi jembatan dialog memiliki kontribusi besar bagi stabilitas global. Sementara itu, ilmuwan politik Norwegia menyatakan bahwa perdamaian sejati bukan sekadar absennya perang, melainkan hadirnya keadilan sosial, penghormatan terhadap hak asasi manusia, dan kesempatan yang setara bagi seluruh bangsa. Dalam konteks inilah sikap Indonesia yang konsisten mendukung perjuangan rakyat Palestina memperoleh makna yang lebih luas sebagai bagian dari upaya menciptakan perdamaian yang berkeadilan.

Dukungan Indonesia terhadap Palestina juga sejalan dengan amanat Pembukaan UUD 1945 yang menegaskan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Oleh sebab itu, setiap langkah diplomasi Indonesia di forum internasional tidak hanya mencerminkan kepentingan nasional, tetapi juga nilai-nilai konstitusional yang telah menjadi identitas bangsa sejak kemerdekaan.

Pengamat hubungan internasional Indonesia, , pernah menekankan bahwa Indonesia memiliki modal strategis sebagai middle power, yaitu negara yang tidak mendominasi dunia tetapi mampu menjadi mediator dan pembangun konsensus dalam berbagai isu global. Posisi inilah yang memberi ruang bagi Indonesia untuk berkontribusi lebih besar dalam penyelesaian konflik dan pembangunan perdamaian internasional.

Kunjungan Presiden Prabowo ke Paris memperlihatkan bahwa Indonesia tidak memilih menjadi penonton dalam percaturan dunia yang sedang berubah. Di tengah munculnya tatanan global yang semakin multipolar, Indonesia berupaya memperkuat kemitraan dengan berbagai negara tanpa kehilangan independensi politik luar negerinya. Pesan yang dibawa dari Paris pada akhirnya bukan hanya tentang hubungan Indonesia dan Prancis.

Pesan tersebut adalah seruan bahwa dunia membutuhkan lebih banyak dialog daripada konfrontasi, lebih banyak kerja sama daripada permusuhan, serta lebih banyak keberanian moral untuk memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan. Dalam dunia yang sering kali terpecah oleh kepentingan geopolitik, Indonesia berusaha hadir sebagai suara moderasi dan perdamaian.

Sebab perdamaian bukan sekadar cita-cita ideal, melainkan syarat utama bagi kemajuan peradaban manusia. Dan dari Paris, Presiden Prabowo mengingatkan dunia bahwa harapan untuk perdamaian itu masih ada, selama bangsa-bangsa bersedia duduk bersama, menghormati martabat sesama manusia, dan menempatkan kemanusiaan di atas segala perbedaan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image