Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ahmad Aqil Faruq

Hancurnya Mental Akibat Orang Terdekat yang Selalu Menuntut Standar Hidup ala TikTok

Eduaksi | 2026-06-02 11:42:08

SUMENEP — Media sosial kini bukan lagi sekadar sarana hiburan untuk melepas penat di kala senggang. Bagi sebagian orang, platform digital seperti TikTok perlahan telah bergeser menjadi sebuah tolok ukur baru dalam menentukan kelayakan standar hidup seseorang. Menurut Ahmad Aqil Faruq, seorang paralegal sekaligus pengamat hukum dan sosial asal Sumenep, Madura, tren ini kian mengkhawatirkan karena kerap memicu konflik internal yang hebat dan merusak kesehatan mental di dalam lingkup domestik rumah tangga.Fenomena tersebut sering kali dimulai dari momen sederhana yang berujung fatal di dunia nyata. Banyak individu yang tanpa sadar kedapatan menghela napas panjang setelah membuka gawai, lalu menatap sekeliling rumah dengan perasaan yang mendadak asing dan kecewa. Pertengkaran hebat antara anak dengan orang tua, atau pasangan suami-istri, kerap pecah hanya karena masalah sepele yang dipicu oleh rasa kagum yang sangat berlebihan terhadap konten-konten viral di media sosial. Akibatnya, mereka yang kerap dijadikan objek dari bahan perbandingan keluarga merasa sangat kecewa dan menganggap jalan sukses yang telah mereka susun dengan susah payah menjadi sia-sia, hanya karena kalah bersinar dari figur yang dikagumi di layar kaca tanpa memikirkan dampak psikologisnya.Tekanan paling berat ini ironisnya justru datang dari orang-orang terdekat yang sarapan bersama setiap pagi, bukan dari orang asing atau netizen di dunia maya. Ketika pasangan atau orang tua mulai silau oleh konten kemewahan (flexing) berkedok vlog harian (daily vlog), kalimat pembanding yang terlontar acap kali menjadi hantaman telak pada harga diri. Muncul perasaan tidak dihargai dan rasa bersalah yang menumpuk, membuat hubungan emosional yang dibangun dengan komitmen dunia nyata mendadak terasa murah hanya karena kalah megah dari layar gawai berukuran 6 inci. Dampak psikologis ini juga memiliki efek domino yang merembet ke mental anak-anak ketika orang tua yang terobsesi dengan standar pengasuhan estetik (parenting estetik) memaksa anak masuk ke dalam kotak standar algoritma demi konten. Saat anak gagal memenuhi ekspektasi, mereka dibanding-bandingkan dengan "anak ajaib" di halaman For Your Page (FYP) sehingga anak tumbuh dengan kecemasan akut dan merasa kasih sayang orang tua mereka bersifat bersyarat.Ahmad Aqil Faruq menegaskan bahwa menuntut standar hidup ala TikTok adalah kekeliruan fatal karena apa yang terlihat di layar berdurasi belasan detik itu bukanlah realitas utuh, melainkan sebuah kurasi bagian terbaik yang sudah diedit dan diberi filter. Membandingkan proses hidup nyata yang penuh lika-liku dan babak belur dengan "video trailer" hidup orang lain yang telah dipoles adalah sebuah pertandingan yang mustahil untuk dimenangkan. Namun, bukan berarti masyarakat harus menutup diri atau menghapus aplikasi digital tersebut secara total, sebab menolak perkembangan zaman bukanlah solusi yang bijak. TikTok tetap bisa menjadi gudang ilmu dan inspirasi untuk maju, asalkan digunakan sebagai bahan bakar motivasi diri sendiri untuk bergerak, bukan dijadikan senjata untuk menuntut atau menyudutkan orang lain. Narasi perbandingan yang merusak harus diubah menjadi ajakan kolaboratif yang suportif dengan bahasa ajakan bersama, karena pertumbuhan hidup yang sejati berjalan secara bertahap dan bukan instan seperti transisi video yang estetik. Pada akhirnya, keharmonisan dan kedamaian di dalam rumah jauh lebih penting daripada mengejar validasi semu berupa jumlah suka (likes) di media sosial, sebab saat hidup sedang jatuh dan rapuh, manusia nyata di samping kitalah yang akan mengulurkan tangan, bukan akun-akun di dunia maya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image