Wellness Culture : Bagaimana Jika Aku Tidak Pernah Merasa Cukup?
Gaya Hidup | 2026-06-01 22:56:22
Coba hitung berapa detik yang kamu butuhkan untuk merasa tubuhmu tidak cukup setelah buka FYP pagi ini? Kemungkinan besar, jawabannya tidak lebih dari satu menit.“What I Eat In A Day”, “Morning Clean Eating”, maupun defisit kalori kini dipandang sebagai standar yang seolah wajib diikuti semua orang. Budaya wellness yang berkembang di media sosial tidak selalu membawa dampak positif, perlahan menimbulkan gejala psikologis yang perlu diperhatikan. Di sinilah pergeseran yang paling berbahaya terjadi, konsep tersebut bergeser menjadi tekanan sosial berupa tuntutan fisik tertentu yang dianggap sebagai ukuran kesehatan.
Aku tidak ingat persis kapan pertama kali merasa bersalah setelah makan nasi, tetapi aku ingat perasaan itu muncul tidak lama setelah rajin mengikuti konten healthy lifestyle di Instagram. Bukan karena kontennya keliru, tetapi tanpa sadar aku mulai menilai tubuhku dengan standar orang lain. Budaya wellness yang marak saat ini sering menyamarkan standar bentuk fisik tertentu sebagai ukuran kesehatan, sehingga membuat persepsi tentang tubuh dan makna sehat menjadi bias.
Konten-konten edukasi kesehatan pun pada akhirnya lebih banyak menitikberatkan pada penampilan fisik. Misalnya, body transformation, detox, dan fitness motivation sering dijadikan indikator bahwa tubuh sehat adalah hasil dari kontrol diri yang kuat. Akibatnya, individu yang tidak memiliki postur tubuh sesuai standar kerap dianggap kurang disiplin dan tidak mampu menjaga diri. Pada akhirnya, hal ini membuat banyak orang merasa bersalah ketika tidak sanggup menjalani pola hidup yang dianggap ideal.
Fenomena tersebut semakin diperkuat oleh hadirnya media sosial sebagai media penyebaran budaya wellness. Media sosial memicu terjadinya upward comparison, yakni kecenderungan membandingkan diri dengan individu yang dianggap lebih unggul. Banyak pengguna membandingkan bentuk tubuh mereka dengan influencer, selebritas, atau kreator konten yang menampilkan tubuh ideal.
Masalahnya, perbandingan ini berlangsung secara berulang. Algoritma media sosial dirancang untuk terus menampilkan konten serupa; semakin sering seseorang menonton “What I Eat In A Day,” semakin banyak konten sejenis yang muncul di beranda. Dalam perspektif psikologi, paparan berulang terhadap citra tubuh tertentu dapat perlahan mengikis kepercayaan diri, mengubah rasa tidak puas menjadi tekanan psikologis yang lebih mendalam. Dari sekedar rasa bersalah, tekanan ini perlahan menjadi bentuk stress yang serius, seperti emotional eating dan diet ekstrem untuk mencapai standarisasi tersebut. Salah satu gangguan psikologis yang kerap tidak disadari adalah anoreksia, yakni obsesi berlebihan terhadap tubuh yang terlihat sangat kurus.
Demi Lovato merupakan salah satu penyanyi terkenal sekaligus penyintas anoreksia. Ia mengungkapkan bahwa anoreksia yang dialaminya dipicu oleh tekanan industri musik yang kerap membandingkan tubuhnya dengan penyanyi lain seusianya. Lovato kemudian menjalani rehabilitasi untuk pulih dari anoreksia dan merilis lagu “I Love Me” pada Maret 2020. Dalam lagu tersebut, ia menceritakan tekanan sorotan publik, budaya diet, serta ekspektasi masyarakat. Ia juga menjelaskan bagaimana hal-hal tersebut memengaruhi rasa cinta terhadap diri sendiri dan pandangannya mengenai dirinya.
Sementara itu, dalam Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada (2019) juga dicatat bahwa media sosial memiliki pengaruh kuat terhadap hubungan seseorang dengan makanan dan ketakutan akan pertambahan berat badan. Konten yang memamerkan tubuh bugar, pilihan makanan "ideal", dan rutinitas olahraga ketat bukan hanya sebagai sumber motivasi, tetapi juga mendorong individu mengejar standar yang berpotensi memicu gangguan makan.
Di antara seluruh pengguna media sosial, remaja perempuan merupakan kelompok yang menanggung beban paling berat. Mereka tidak hanya menghadapi perubahan fisik yang signifikan selama masa pubertas, tetapi juga terus-menerus terpapar arus konten mengenai tubuh ideal. Dalam survei WHO (2024), terhadap lebih dari 190.000 remaja di 42 negara, ditemukan bahwa remaja yang menggunakan media sosial secara intensif lebih cenderung memandang tubuh mereka sebagai 'terlalu gemuk' atau 'tidak ideal' dan efek ini secara konsisten lebih kuat pada perempuan.
Lalu mengapa banyak orang tetap mengikuti standar tubuh yang sebenarnya membuat mereka tertekan? Jika fenomena ini ditinjau melalui perspektif Theory of Planned Behavior (TPB) yang dikemukakan oleh Ajzen (2020), polanya tampak lebih jelas. TPB menjelaskan bahwa perilaku dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu keyakinan terhadap konsekuensi perilaku (attitude), persepsi mengenai tekanan sosial (subjective norm), serta rasa mampu atau tidaknya individu menjalankan perilaku tersebut (perceived behavioral control). Budaya wellness di media sosial memengaruhi ketiganya sekaligus: membentuk keyakinan bahwa tubuh ideal adalah bukti kedisiplinan, menciptakan norma sosial seolah “semua orang melakukannya,” serta melemahkan kontrol individu atas tubuh dan pilihan makannya sendiri. Akibatnya, intensi untuk mengubah tubuh demi kesehatan bergeser menjadi demi penerimaan sosial.
Kita tidak perlu memblokir seluruh konten wellness untuk keluar dari siklus ini, tetapi penting untuk mulai mempertanyakan apakah konten tersebut benar-benar hadir demi kesehatan atau justru membuat kita merasa kurang. Literasi digital dan kepekaan terhadap diri sendiri menjadi kunci untuk melepaskan diri dari siklus tersebut, disertai dengan kemampuan berpikir kritis dalam meninjau kembali konten yang ada agar tidak menerima begitu saja seluruh informasi wellness yang beredar di media sosial.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
