Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Raden Arfan Rifqiawan

Ketika Neraca Kehilangan Jiwa

Ekonomi Syariah | 2026-06-01 00:17:00

Setiap tahun perusahaan menerbitkan laporan keuangan yang semakin tebal. Angka-angka disajikan dengan rinci, grafik pertumbuhan ditampilkan dengan bangga, dan laba menjadi pusat perhatian para pemegang saham. Dari dokumen-dokumen itu, kita dapat mengetahui berapa besar aset yang dimiliki perusahaan, berapa keuntungan yang diperoleh, bahkan berapa nilai perusahaan di mata pasar.

Namun ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: apakah semua yang bernilai benar-benar tercatat dalam neraca?

Kita dapat menemukan angka untuk kas, piutang, dan investasi. Kita dapat menghitung biaya operasional hingga ke satuan terkecil. Akan tetapi, kita tidak pernah menemukan kolom yang mencatat kejujuran, kepedulian, amanah, atau keikhlasan. Nilai-nilai tersebut tidak memiliki akun tersendiri dalam laporan keuangan, seolah-olah keberadaannya tidak cukup penting untuk dihitung.

Di sinilah paradoks besar dunia modern muncul. Semakin maju sistem pengukuran yang kita miliki, semakin besar pula risiko kita melupakan hal-hal yang tidak dapat diukur. Kita menjadi sangat terampil menghitung keuntungan, tetapi sering kali gagal menghitung dampak moral dari cara keuntungan itu diperoleh. Kita mampu menilai pertumbuhan perusahaan dalam persentase yang sangat presisi, tetapi kurang mampu menilai apakah pertumbuhan tersebut menghadirkan keadilan bagi pekerja, masyarakat, dan lingkungan.

Akuntansi sebenarnya tidak pernah diciptakan untuk tujuan yang buruk. Ia lahir sebagai alat pertanggungjawaban. Dalam tradisi Islam, konsep pertanggungjawaban bahkan memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar pelaporan kepada manusia. Setiap tindakan pada akhirnya merupakan amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Sayangnya, dalam praktik modern, akuntansi sering kali direduksi menjadi alat untuk mengukur keuntungan ekonomi semata. Yang dianggap sukses adalah yang menghasilkan laba terbesar. Yang dianggap efektif adalah yang mampu menekan biaya serendah mungkin. Akibatnya, manusia perlahan berubah dari subjek menjadi objek. Pekerja dipandang sebagai biaya tenaga kerja, masyarakat sebagai segmen pasar, dan alam sebagai sumber daya yang dapat dieksploitasi demi meningkatkan angka-angka kinerja.

Pandangan seperti ini mungkin menghasilkan neraca yang sehat, tetapi belum tentu menghasilkan kehidupan yang sehat. Sebuah perusahaan dapat mencatat keuntungan miliaran rupiah, tetapi pada saat yang sama kehilangan kepercayaan publik. Sebuah organisasi dapat menunjukkan pertumbuhan yang mengesankan, tetapi mengorbankan kesejahteraan para pekerjanya. Dalam situasi seperti itu, neraca mungkin bertambah kuat, tetapi jiwanya justru semakin lemah.

Tradisi tasawuf menawarkan pengingat yang penting. Para ulama sufi mengajarkan bahwa kehidupan tidak hanya diukur oleh apa yang dimiliki, tetapi juga oleh makna di balik kepemilikan tersebut. Harta bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk mewujudkan kemaslahatan. Keuntungan bukan kesalahan, tetapi ia tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan.

Pesan ini sangat relevan bagi dunia bisnis kontemporer. Kita hidup di era ketika hampir segala sesuatu dinilai berdasarkan angka. Jumlah pengikut, nilai saham, tingkat pertumbuhan, dan laba bersih menjadi ukuran utama keberhasilan. Di tengah budaya seperti itu, mudah sekali bagi manusia untuk terjebak dalam ilusi bahwa apa yang tidak dapat dihitung berarti tidak penting.

Padahal justru nilai-nilai yang paling menentukan kualitas kehidupan sering kali tidak dapat diukur. Kepercayaan tidak dapat dicatat sebagai aset. Integritas tidak dapat dimasukkan ke dalam laporan laba rugi. Ketulusan tidak memiliki nilai nominal. Namun tanpa semua itu, keberhasilan ekonomi akan kehilangan makna yang lebih dalam.

Karena itu, tantangan terbesar kita hari ini bukanlah bagaimana membuat neraca yang semakin besar. Tantangan yang sesungguhnya adalah bagaimana memastikan bahwa di balik setiap angka yang bertambah, kemanusiaan tidak berkurang. Sebab ketika keuntungan menjadi tujuan tunggal, kita mungkin berhasil memperkaya perusahaan, tetapi pada saat yang sama memiskinkan nilai-nilai yang membuat kehidupan layak dijalani.

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah berapa banyak yang berhasil kita catat dalam neraca. Pertanyaan yang lebih penting adalah: ketika seluruh perhitungan selesai dilakukan, apakah kita masih memiliki jiwa yang tersisa?

Referensi:

Rifqiawan, R. A. (2021). Akuntansi, Manajemen, dan Ilmu Hukum dalam Paradigma Unity of Science (Wahdatul ’Ilm). Rafi Sarana Perkasa. (Semarang). //_/slims/index.php?p=show_detail&id=547520&keywords=raden+arfan

Rifqiawan, R. A. (2025). Maqāṣid al-Sharīʿah Compliance in Indonesian Islamic Banks: Accounting Evaluation of the Vision and Mission. Iqtishadia: Jurnal Kajian Ekonomi Dan Bisnis Islam, 18(2), 178–200. https://doi.org/10.21043/iqtishadia.v18i2.34168

Rifqiawan, R. A., Ghofur, A., Murtadho, A., Agriyanto, R., & Warno, W. (2024). Deconstruction of Basic Accounting Principles Through the Values of Sufism in the Syarah Ḥikam by Sheikh Aḥmad Zarrūq. Journal of Islamic Accounting and Finance Research, 6(2), 321–353. https://doi.org/10.21580/jiafr.2024.6.2.22984

Rifqiawan, R. A., Ghofur, A., Murtadho, A., Supangat, S., & Sanad, Z. (2025). Legal and Accounting Review of Sharia Fintech Financial Reports on Official Websites. Al-Ahkam, 35(1), 59–86. https://doi.org/10.21580/ahkam.2025.35.1.23544

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image