Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Aditiya Widodo Putra

Mempelajari Quantum Dot Heterostructures untuk Optoelektronika Generasi Mendatang

Teknologi | 2026-05-30 05:36:43
Illustrasi Artistik Quantum Dots Bekerja Dalam Skala Atom.

Pernahkah Anda menonton film Iron Man, ketika Tony Stark di dalam gua yang gelap dan dingin berhasil merakit sebuah Arc Reactor miniatur yang mampu menghasilkan energi bersih dalam jumlah luar biasa dari sesuatu yang sekecil telapak tangan? Atau mungkin Anda ingat adegan di Spider-Man: Far From Home ketika Mysterio menggunakan ilusi berbasis drone dan proyeksi cahaya yang begitu rumit sehingga sang pahlawan tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak? Atau dalam film The Avengers, ketika Bruce Banner menjelaskan bahwa sel-sel tubuhnya telah terpapar radiasi gamma pada level yang mengubah struktur selulernya secara permanen? Apa kesamaan dari semua adegan itu? Mereka semua menyentuh ide tentang bagaimana sesuatu yang sangat kecil—dalam skala nanometer, yaitu sepersemiliar meter—dapat menghasilkan dampak yang sangat besar pada tingkat makroskopis yang kita lihat dan rasakan.


Dunia nanoteknologi sudah bekerja di dalam perangkat yang Anda pegang, layar yang Anda tonton, dan mungkin di masa depan, di atap rumah Anda sebagai panel surya yang jauh lebih efisien daripada yang ada sekarang. Di pusat revolusi nanoteknologi untuk dunia cahaya—optoelektronika—berdirilah sebuah objek yang sangat kecil, sangat sederhana, namun sangat kuat bernama Quantum Dot. Apa itu Quantum Dot? Biar gak penasaran, yuk kita langsung saja masuk ke pembahasan nya.

Dari Bola Lampu Pijar hingga Sangkar Nano - Mengapa Ukuran Menjadi Segalanya


Titik kuantum atau Quantum Dot adalah kristal semikonduktor berukuran nanometer, biasanya antara 2 hingga 10 nanometer, yang menunjukkan sifat mekanika kuantum akibat kurungan tiga dimensi. Ketika ukuran titik kuantum lebih kecil atau sebanding dengan jari-jari Bohr eksiton material semikonduktor, maka tingkat energi elektron dan lubang menjadi diskret, berbeda dengan pita kontinu pada semikonduktor bulk.


Anda mungkin pernah mendengar bahwa warna cahaya dari quantum dot bergantung pada ukurannya. Tapi mengapa? Jawabannya ada pada sebuah konsep yang disebut efek kurungan kuantum. Dalam dunia semikonduktor biasa—seperti yang ada di panel surya silikon di atap rumah Anda—elektron bergerak bebas di seluruh material seperti sekelompok anak bermain di lapangan sepak bola yang luas. Mereka memiliki energi yang hampir kontinu, artinya mereka bisa memiliki nilai energi berapa pun di antara dua batas. Namun, ketika Anda memotong material itu menjadi bagian yang sangat kecil, hanya beberapa nanometer saja, maka lapangan sepak bola itu berubah menjadi sebuah kamar mandi yang sempit. Elektron tidak bisa lagi bergerak bebas dan mereka terpental ke dinding. Akibatnya, energi mereka tidak lagi kontinu, melainkan diskret—hanya nilai-nilai tertentu yang diperbolehkan, seperti anak tangga. Fisikawan menyebut ini sebagai kuantisasi energi.


Celah antara anak tangga pertama dan anak tangga kedua menjadi lebar, dan lebar ini sangat sensitif terhadap ukuran ruangan. Semakin sempit ruangan, semakin lebar celah antar anak tangga. Dalam quantum dot, anak tangga terendah adalah keadaan dasar elektron, dan anak tangga berikutnya adalah keadaan tereksitasi. Ketika sebuah foton (partikel cahaya) masuk dan diserap oleh quantum dot, elektron di anak tangga dasar melompat ke anak tangga yang lebih tinggi. Kemudian, ketika elektron tersebut jatuh kembali ke anak tangga dasar, ia memancarkan foton baru. Panjang gelombang foton yang dipancarkan—yang menentukan warna yang kita lihat—sama persis dengan lebar celah antar anak tangga.


Jadi, dengan membuat quantum dot lebih kecil, celah antar anak tangga membesar, sehingga foton yang dipancarkan memiliki energi lebih tinggi, yang berarti panjang gelombang lebih pendek, dan warna bergeser ke biru. Sebaliknya, quantum dot yang lebih besar menghasilkan warna merah. Ini luar biasa karena Anda tidak perlu mengubah komposisi kimia material, Anda cukup mengubah ukurannya.


Namun ada masalah besar yaitu permukaan quantum dot adalah tempat yang berbahaya. Karena ukurannya sangat kecil, sebagian besar atom berada di permukaan, bukan di dalam. Atom-atom permukaan ini memiliki ikatan yang tidak lengkap, seperti tangan yang menggantung tanpa ada yang memegang. Mereka menjadi perangkap bagi elektron dan lubang. Elektron atau lubang yang terjebak di permukaan tidak bisa berekombinasi secara radiatif (memancarkan cahaya) dan mereka hanya membuang energi sebagai panas. Akibatnya, quantum dot telanjang memiliki efisiensi pancaran cahaya yang sangat rendah, seringkali di bawah 30 persen. Ini seperti membeli lampu yang 70 persen energinya berubah menjadi panas, hanya 30 persen menjadi cahaya. Tidak efisien. Tidak ekonomis. Tidak layak pakai. Maka muncullah ide heterostruktur.


Membangun Kastil Mikroskopis - Heterostruktur Inti-Kulit sebagai Baju Zirah Quantum Dot


Jika quantum dot telanjang itu rapuh, maka kita perlu membungkusnya dengan lapisan pelindung. Di sinilah konsep heterostruktur masuk secara penuh. Heterostruktur berarti menggabungkan dua atau lebih material semikonduktor yang berbeda komposisi kimianya dalam satu objek nano, dengan antarmuka yang tajam pada tingkat atom. Untuk quantum dot, bentuk heterostruktur yang paling sederhana dan paling umum adalah struktur inti-kulit. Inti adalah quantum dot itu sendiri, misalnya kadmium selenida (CdSe), yang menentukan warna emisi. Kulit adalah lapisan tipis material semikonduktor lain dengan celah pita lebih lebar, misalnya seng sulfida (ZnS).


Mengapa kulit harus memiliki celah pita lebih lebar? Karena celah pita yang lebar berarti bahwa elektron dan lubang di dalam inti—yang memiliki energi lebih rendah—tidak dapat melompat ke kulit. Kulit bertindak sebagai penghalang potensial yang mengurung eksiton (pasangan elektron-lubang) di dalam inti. Kulit yang tebal dan seragam menutupi semua ikatan tidak lengkap di permukaan inti, sehingga tidak ada lagi perangkap bagi elektron dan lubang.
Namun, membuat struktur inti-kulit yang sempurna bukanlah perkara sepele. Anda tidak bisa hanya mencampurkan inti dan prekursor kulit lalu berharap kulit tumbuh merata. Ada banyak jebakan. Pertama, jika suhu terlalu tinggi atau konsentrasi prekursor terlalu besar, prekursor kulit bisa melakukan nukleasi homogen, yaitu membentuk titik kuantum kulit sendiri yang terpisah, bukan melapisi inti. Kedua, ketidakcocokan kisi kristal antara inti dan kulit dapat menyebabkan tegangan mekanis pada antarmuka. Jika tegangan ini terlalu besar, akan muncul dislokasi atau cacat yang justru menjadi pusat rekombinasi non-radiatif. Ketiga, jika kulit tumbuh tidak sempurna, ada bagian permukaan inti yang masih telanjang, dan bagian itulah yang akan menjadi perangkap.


Oleh karena itu, para insinyur nanomaterial mengembangkan berbagai strategi. Salah satunya adalah metode lapisan-demi-lapis (layer-by-layer), di mana prekursor kulit ditambahkan sedikit demi sedikit, dan setiap penambahan diikuti dengan pemanasan untuk memastikan lapisan tersebut rata sebelum lapisan berikutnya ditambahkan. Strategi lain adalah menggunakan kulit berkomposisi gradien, misalnya dari CdSe inti, kemudian CdS, lalu CdZnS, lalu ZnS. Gradien komposisi mengurangi tegangan antarmuka karena perubahan konstanta kisi terjadi secara bertahap, tidak tiba-tiba.


Heterostruktur tidak berhenti di inti-kulit. Ada struktur inti-kulit-kulit (core-multishell), di mana beberapa lapisan kulit dengan fungsi berbeda ditumpuk. Ada struktur quantum dot-in-well (DWELL), di mana titik kuantum ditanam di dalam sumur kuantum yang lebih lebar, seperti menempatkan sebuah kelereng di dasar mangkuk. Struktur DWELL sangat berguna untuk sel surya karena dapat menangkap foton dari berbagai energi sekaligus. Ada juga struktur tipe-II, di mana celah pita inti dan kulit tidak sejajar; elektron cenderung berada di inti, lubang di kulit, atau sebaliknya. Pemisahan muatan ini berguna untuk aplikasi fotodetektor dan sel surya karena menghasilkan arus listrik lebih mudah. Jadi, heterostruktur bisa dianalogikan sebuah perangkat kotak peralatan yang berisi banyak desain, masing-masing dioptimalkan untuk aplikasi tertentu.


Dua Wajah Quantum Dot - Dari Sel Surya Super-efisien hingga Layar yang Membuat Mata Tak Berkedip


Sekarang kita memiliki quantum dot berlapis baja yang kokoh dan efisien. Apa yang bisa kita lakukan dengannya? Dua aplikasi utama yang menjadi fokus riset pengembangan quantum dot adalah sel surya generasi baru dan display emisi cahaya ultra-murni. Keduanya menggunakan quantum dot heterostructures, tetapi dengan cara yang sangat berbeda, bahkan bertentangan secara teknis. Mari kita bahas sel surya terlebih dahulu.


Dalam sel surya konvensional, satu foton hanya bisa menghasilkan satu pasangan elektron-lubang. Kelebihan energi foton (misalnya foton biru yang energinya dua kali celah pita) terbuang sebagai panas. Batas efisiensi teoritis untuk sel surya pita-tunggal adalah sekitar 33,7 persen, yang disebut batas Shockley-Queisser.

Quantum dot heterostructure menjanjikan untuk melampaui batas ini melalui mekanisme yang disebut multiple exciton generation (MEG). Ketika foton dengan energi sangat tinggi (setidaknya dua kali celah pita) diserap oleh quantum dot, ia menghasilkan eksiton panas. Biasanya, eksiton panas akan mendingin dengan membuang energinya sebagai getaran kisi (fonon) dalam waktu kurang dari satu pikodetik. Namun, dalam quantum dot yang terkekang kuat, pendinginan ini menjadi lebih lambat karena apa yang disebut phonon bottleneck. Eksiton panas punya waktu untuk melakukan hal lain yaitu mentransfer kelebihan energinya ke elektron lain di pita valensi, melontarkannya ke pita konduksi, sehingga tercipta eksiton kedua. Jadi satu foton energi tinggi menghasilkan dua eksiton. Bahkan, dengan energi yang lebih tinggi, bisa menghasilkan tiga atau empat eksiton. Ini berarti efisiensi kuantum eksternal sel surya—jumlah elektron yang dikumpulkan per foton yang masuk—bisa melampaui 100 persen. Secara teoritis, dengan MEG yang optimal, efisiensi sel surya dapat mencapai 44 persen atau lebih.


Namun, ada masalah. Dua eksiton yang berdekatan dalam quantum dot yang sama cenderung saling memusnahkan melalui rekombinasi Auger, di mana satu eksiton memberikan energinya ke eksiton lain dan keduanya musnah tanpa menghasilkan cahaya atau arus. Rekombinasi Auger terjadi sangat cepat, dalam skala 100 pikodetik hingga 1 nanodetik. Untuk memanfaatkan MEG, kita harus mengekstrak muatan dari quantum dot sebelum Auger terjadi. Di sinilah heterostruktur tipe-II berperan. Dengan memisahkan elektron dan lubang ke lapisan yang berbeda (misalnya elektron di inti, lubang di kulit), probabilitas dua eksiton bertemu menjadi sangat kecil, sehingga Auger ditekan. Selain itu, heterostruktur DWELL memungkinkan penangkapan foton pada rentang energi yang lebih luas.


Sekarang beralih ke display. Di sini, tujuannya justru sebaliknya, kita ingin rekombinasi radiatif secepat dan seefisien mungkin. Kita ingin satu eksiton menghasilkan satu foton, tidak lebih. Kita ingin warna murni, artinya lebar puncak emisi (FWHM) sekecil mungkin. Quantum dot heterostructure tipe-I dengan kulit tebal adalah jawabannya. Karena eksiton terkurung sempurna di inti, dan permukaan terpassivasi dengan baik, hampir setiap rekombinasi adalah radiatif. Lebar puncak emisi ditentukan oleh distribusi ukuran quantum dot. Dengan sintesis koloid yang sangat terkontrol, distribusi ukuran bisa dijaga di bawah 5 persen, menghasilkan FWHM serendah 20 hingga 25 nanometer. Sebagai perbandingan, fosfor konvensional memiliki FWHM 50 hingga 70 nanometer, dan OLED sekitar 40 hingga 60 nanometer. Warna yang lebih murni berarti gamut warna lebih lebar—layar dapat menampilkan warna merah yang benar-benar merah, hijau yang benar-benar hijau, tanpa tercampur warna lain. Ini setara dengan standar Rec. 2020 untuk video definisi ultra-tinggi.


Namun, tentunya ia juga memiliki tantangan yaitu droop. Pada kecerahan tinggi (ribuan nit), QLED mengalami penurunan efisiensi karena rekombinasi Auger. Di sinilah kulit tebal kembali membantu. Kulit tebal menyebarkan fungsi gelombang elektron, mengurangi tumpang tindih antar eksiton, sehingga Auger ditekan.
Jadi, meskipun sel surya dan display menggunakan quantum dot yang sama, desain heterostrukturnya berbeda, sel surya menginginkan pemisahan muatan (tipe-II) dan MEG, sementara display menginginkan kurungan muatan (tipe-I) dan rekombinasi radiatif cepat. Inilah keindahan rekayasa material yaitu dengan alat yang sama, kita bisa menghasilkan dua jenis perangkat yang sangat berbeda.


Bagaimana Para Insinyur Nanoteknologi Membangun Heterostruktur dengan Presisi Atom


Setelah memahami mengapa heterostruktur penting dan apa yang bisa dilakukannya, kita perlu membuka tabir bagaimana sebenarnya proses pembuatannya. Ada dua jalur utama: jalur epitaksi (kering) dan jalur koloid (basah). Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, dan digunakan untuk aplikasi yang berbeda. Jalur epitaksi adalah metode pilihan untuk perangkat elektronik berkinerja tinggi seperti laser semikonduktor, fotodetektor inframerah, dan sel surya epitaksial. Proses ini dilakukan dalam ruang vakum ultra-tinggi, dengan tekanan yang lebih rendah daripada ruang angkasa luar di orbit Bumi. Substrat, biasanya galium arsenida (GaAs) atau indium fosfida (InP), dipanaskan hingga suhu sekitar 500 hingga 700 derajat Celcius. Di dalam ruang MBE (molecular beam epitaxy), sel-sel efusi yang berisi unsur-unsur seperti galium, arsen, indium, dan fosfor dipanaskan sehingga memancarkan berkas atom yang diarahkan ke substrat.


Dengan membuka dan menutup shutter di depan sel efusi, kita dapat menumbuhkan lapisan demi lapisan dengan ketebalan hanya satu lapisan atom. Untuk membuat titik kuantum, kita menumbuhkan lapisan tipis (sekitar 1,5 hingga 2,5 monolayer) dari material dengan konstanta kisi berbeda dari substrat, misalnya InAs di atas GaAs. Karena ketidakcocokan kisi, lapisan InAs yang sangat tipis ini mengalami tekanan. Setelah ketebalan mencapai titik kritis, sistem lebih memilih untuk membentuk pulau-pulau tiga dimensi secara spontan daripada tetap sebagai lapisan datar. Inilah yang disebut mode pertumbuhan Stranski-Krastanov. Pulau-pulau ini adalah titik kuantum. Kita dapat mengontrol ukuran dan kerapatan pulau dengan mengatur suhu, laju deposisi, dan jumlah material yang ditumbuhkan. Setelah pulau terbentuk, kita menumbuhkan lapisan penutup (cap layer) dari GaAs atau AlGaAs di atasnya. Proses penutupan ini sangat kritis dimana jika dilakukan terlalu cepat, atom GaAs tidak sempat berdifusi ke sekitar pulau, menciptakan cacat, jika terlalu lambat, titik kuantum bisa mengalami penguapan atau perubahan bentuk. Hasil akhir yang diharapkan adalah titik kuantum yang tertanam sempurna di dalam matriks semikonduktor, masing-masing terisolasi satu sama lain.


Jalur koloid sangat berbeda dan lebih cocok untuk aplikasi display karena biaya lebih rendah, skalabilitas lebih mudah, dan kemampuan diproses dalam larutan. Sintesis dimulai dengan memanaskan pelarut organik bersuhu tinggi, biasanya campuran trioktilfosfin oksida (TOPO), asam oleat, dan oktadesena, hingga suhu 250 hingga 350 derajat Celcius. Pada suhu ini, kita menyuntikkan prekursor yang mengandung unsur-unsur pembentuk inti—misalnya kadmium oksida (CdO) untuk kadmium, dan selenium dalam trioktilfosfin (TOPSe) untuk selenium. Injeksi cepat ini menyebabkan nukleasi serempak dari jutaan titik kuantum dalam waktu kurang dari satu detik. Suhu kemudian diturunkan sedikit untuk memungkinkan pertumbuhan lambat (Ostwald ripening), di mana titik-titik yang lebih kecil larut dan materialnya bergabung ke titik-titik yang lebih besar, sehingga distribusi ukuran menjadi lebih sempit. Untuk membuat kulit, kita tidak mematikan reaksi, tetapi menambahkan prekursor kulit—misalnya seng asetat dan belerang dalam TOP—setetes demi setetes.
Kunci keberhasilan adalah menjaga agar nukleasi kulit tidak terjadi secara terpisah. Prekursor kulit harus memiliki energi aktivasi yang lebih tinggi untuk nukleasi homogen, sehingga mereka lebih suka tumbuh heterogen di permukaan inti yang sudah ada. Setelah reaksi selesai, titik kuantum dimurnikan dengan sentrifugasi dan pencucian berulang untuk menghilangkan kelebihan reaktan dan produk samping. Ligan organik yang menempel di permukaan kulit (misalnya asam oleat) membuat titik kuantum stabil dalam larutan non-polar seperti heksana atau toluena. Namun, ligan ini bersifat isolator, sehingga untuk perangkat listrik, ligan harus diganti dengan ligan pendek konduktif seperti tiol atau halida melalui proses pertukaran ligan. Di sinilah tantangan rekayasa sesungguhnya terjadi.


Perjalanan Panjang Sang Nano-Bintang


Setelah kita memiliki quantum dot heterostructure yang sempurna di dalam labu reaksi atau di dalam ruang MBE, perjalanan belum selesai. Bahkan, itu baru awal. Tantangan sesungguhnya adalah membawa teknologi ini dari skala miligram di laboratorium ke skala kilogram di pabrik, kemudian mengintegrasikannya ke dalam perangkat yang dapat diproduksi secara massal dengan biaya yang terjangkau.


Mari kita mulai dengan aplikasi yang sudah lebih dulu sukses secara komersial yaitu quantum dot enhancement film (QDEF) pada lampu latar LED. Dalam QDEF, quantum dot merah dan hijau—biasanya dengan heterostruktur inti-kulit tebal untuk stabilitas maksimum—dicampur ke dalam matriks polimer yang kemudian diekstrusi menjadi lembaran tipis setebal beberapa ratus mikrometer. Lembaran ini ditempatkan di antara lampu latar LED biru dan panel LCD. Lampu biru menyinari lembaran, quantum dot menyerap sebagian cahaya biru dan memancarkan merah dan hijau. Campuran cahaya biru yang tidak terserap, merah dari quantum dot, dan hijau dari quantum dot menghasilkan cahaya putih yang sangat murni, dengan gamut warna jauh lebih lebar daripada lampu latar konvensional yang menggunakan fosfor kuning. Metode pembuatan QDEF relatif sederhana karena quantum dot tidak perlu dialiri arus listrik secara langsung dimana mereka hanya difungsikan sebagai konverter warna pasif. Ini berarti tidak perlu membuat kontak listrik ke setiap titik, tidak khawatir tentang injeksi muatan, tidak khawatir tentang rekombinasi Auger pada arus tinggi. Cukup cetak, laminasi, dan pasang. Inilah mengapa QDEF sudah ada di jutaan TV di seluruh dunia, dari merek Samsung, TCL, Hisense, hingga Sony. Namun, QDEF bukanlah impian akhir. Impian akhir adalah QLED electroluminescent (EL-QLED), di mana quantum dot sendiri yang menjadi sumber cahaya, bukan hanya konverter.


Dalam EL-QLED, kita membangun perangkat seperti dioda: anoda (biasanya ITO transparan), lapisan injeksi lubang, lapisan transport lubang, lapisan emisif berupa monolayer quantum dot, lapisan transport elektron, dan katoda (logam seperti aluminium atau perak). Ketika tegangan diberikan, elektron disuntikkan dari katoda melalui lapisan transport elektron ke quantum dot, sementara lubang disuntikkan dari anoda melalui lapisan transport lubang ke quantum dot. Di dalam quantum dot, elektron dan lubang bertemu, membentuk eksiton, dan berekombinasi radiatif memancarkan cahaya. Warna cahaya ditentukan oleh ukuran quantum dot. Arsitektur ini sangat mirip dengan OLED, tetapi dengan keunggulan kemurnian warna yang lebih tinggi dan potensi kestabilan yang lebih baik. Namun, ada tiga tantangan besar yang membuat EL-QLED belum sepenuhnya menggantikan OLED di pasaran massal.

Tantangan pertama adalah injeksi muatan. Quantum dot dikelilingi oleh ligan organik yang bersifat isolator. Ligan panjang seperti asam oleat membuat quantum dot stabil dalam larutan tetapi menghalangi elektron dan lubang masuk. Kita harus mengganti ligan panjang dengan ligan pendek (seperti 1,2-etanditiol atau merkaptopropionat asetat) setelah lapisan quantum dot dicetak. Proses pertukaran ligan ini harus dilakukan tanpa merusak lapisan di bawahnya dan tanpa menciptakan lubang (pinhole) yang menyebabkan korsleting.
Tantangan kedua adalah droop pada kecerahan tinggi. Pada rapat arus tinggi (sesuai dengan kecerahan ribuan nit), efisiensi QLED turun drastis karena rekombinasi Auger. Heterostruktur kulit tebal membantu, tetapi kulit tebal juga meningkatkan jarak antara inti dan lapisan transport muatan, sehingga tegangan operasi naik. Ini adalah trade-off yang sulit.
Tantangan ketiga adalah pencetakan presisi untuk resolusi tinggi. Untuk layar 8K, setiap piksel berukuran hanya sekitar 20 mikrometer. Quantum dot harus dicetak per piksel menggunakan inkjet printing, dengan tetesan tinta yang volumenya hanya beberapa picoliter dan akurasi penempatan di bawah 5 mikrometer. Tinta harus memiliki viskositas, tegangan permukaan, dan laju pengeringan yang tepat agar tetesan tidak menyebar ke piksel tetangga. Setelah dicetak, lapisan harus di-anneal (dipanaskan) untuk menghilangkan pelarut dan memperbaiki kontak antar titik, tetapi suhu annealing tidak boleh melebihi 150 derajat Celcius agar tidak merusak transistor TFT di bawahnya.
Meskipun tantangan ini berat, industri terus maju. Perusahaan seperti Samsung Display, Nanosys, dan Nanoco telah menginvestasikan miliaran dolar untuk meneliti dan mengembangkan solusi. Beberapa produk EL-QLED telah muncul di pameran elektronik sebagai prototipe, dengan klaim kestabilan puluhan ribu jam. Namun, untuk sel surya, jalannya masih lebih panjang. Sel surya quantum dot koloid saat ini masih memiliki efisiensi di bawah 15 persen, jauh di bawah silikon. Potensi MEG untuk melampaui batas Shockley-Queisser belum terealisasi dalam perangkat komersial karena rekombinasi Auger dan kesulitan ekstraksi muatan. Aplikasi yang lebih realistis dalam jangka pendek adalah sel surya tandem, di mana lapisan quantum dot dicetak di atas sel silikon yang sudah ada, berfungsi sebagai sel atas yang menyerap biru dan hijau, sementara silikon menyerap merah dan infra merah. Pendekatan ini dapat meningkatkan efisiensi modul silikon dari sekitar 22 persen menjadi di atas 28 persen, tanpa harus mengubah pabrik silikon yang sudah ada. Beberapa perusahaan rintisan sedang menguji coba teknologi ini pada skala pilot.

Jalan masih panjang, quantum dot heterostructures menjadi fondasi nyata dari generasi berikutnya optoelektronika. Dari layar TV Anda hingga mungkin suatu hari nanti panel surya di atap rumah Anda, sang nano-bintang kecil yang terperangkap dalam sangkar heterostruktur akan terus bersinar.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image