Malam dan Pagi
Sastra | 2026-05-25 22:10:08Malam dan Pagi
Karya: Anna Dewi Humaira
Hari esok adalah hari yang meriah. Aska sangat ingin mencoba kue kering lebaran, “ibu, bolehkah aku memakan kue ini satu saja?” sang ibu hanya tersenyum mendengar itu, lalu ibunya pun menjawab “jangan dong sayang nanti kalau udah siap baru ya lalu ini juga untuk para tamu.”
Aska sedikit sedih tetapi saat mendengar suara takbir di masjid membuatnya ceria kembali. “Aska Aska...!” temannya memanggil Aska untuk bermain. Aska menatap wajah ibunya yang mengharapkan untuk diberikan izin agar dapat keluar bermain. Sang ibu pun mengerti lalu menganggukkan kepalanya. Namun, ibu memberikan nasihat agar Azka ingat waktu pulang dan jangan lalai.
“Tapi harus ingat waktu ya, dan jangan lama-lama apalagi besok kita akan shalat,” ucap ibu sambil mencubit hidung Aska yang mancung. Aska dan temannya pun pergi ke tempat yang dekat dengan masjid.
“Aku sangat ingin mendengar takbir di sana,” ungkap Aska sambil menunjuk ke arah masjid.
Temannya pun menyetujui itu karena menurutnya itu sangat menyenangkan. Mereka pun segera melangkah untuk sampai ke tujuan. Anak-anak mulai berdatangan. Ada yang membawa obor dan bermain kembang api. Aska yang melihat kemeriahan itu sangat gembira.
Esoknya, Aska salat bersama keluarganya, lalu makan dan minta izin untuk bermain ke rumah tetangganya. Selesai shalat ibu dan Aska pergi silahturahmi ke rumah saudara, lalu melihat sapi qurban.
“Insya Allah ya nak tahun depan kita bisa seperti ini,” Aska sangat senang terutama saat pembagian daging. Selanjutnya, mereka pun kembali ke rumah masing-masing.
Berlebaran Idul Adha
Muhammad Ahzan
Di kampungku, suasananya sangat tenang dan cerah. Aku pun bergegas mandi untuk melihat pemotongan lembu di lapangan. Setelah melihat pemotongan, aku pun pulang dan mengambil kupon untuk bisa mendapatkan daging. Aku melanjutkan pergi ke pasar untuk membeli bumbu untuk dapat dijadikan masakan rendang dan disambal. Emmm pasti sedap banget bukan.
Di jalan aku bertemu dengan Saipul. Ternyata ia juga baru dari tempat masjid tempat ia mengambil daging qurban. Aku pun menyapanya. Tapi ia tidak melihatku. Aku kembali memanggilnya lagi.
“Hei Saipul, woiiii.” Panggilku sambil melambaikan tangan.
“Woi Ahzan, ngapain di sini.” Tanyanya sambil menggaruk pipinya.
“Biasa mamak aku titip beli bumbu.”
“Oh samalah, ayo lah kita pergi.”
Kami berdua pun pergi bersama-sama ke dalam pasar penjual sayur di sana ada juga menjual bumbu. Setelah itu, kami mampir beli es cendol. Hari begitu panas sehingga membuat haus.
Masakan yang dibuat mamak akhirnya siap juga. Hmmm aromanya begitu sedap. Kami sekeluarga menikmati masakan mamak. Lalu setelah itu, kami berfoto bersama.
Di Rumah Nenek
Nayyana Farzana
Di pagi yang cerah saya akan melihat kurban sapi di musolla komplek. Setelah selesai melihat kurban sapi, saya dan keluarga pergi ke rumah kakek dan nenek di sana saya bertanya kepada nenek.
“Nek daging sapi ini akan dimasak apa?” nenek pun menjawab, “ ini akan dijadikan rendang.”
Di siang hari yang cerah saya bersama keluarga melanjutkan silahturahmi. Di sana kami tertawa bermain seru sekali. Selesai makan kami pun melihat sungai yang sangat dangkal. Warnanya terlihat jerni dan begitu segar untuk mandi. Namun, karena tidak bisa berlama-lama saya hanya merendamkan kaki. Kami pun pulang di perjalanan saya dan keluarga memetik kelapa muda dan segar setelah sampai rumah kami bersiap untuk pulang ke kota di situ kami berpamitan dengan kakek dan nenek.
Sebelum saya naik mobil, saya melihat banyak sekali buah manga. Saya pun ingin merasakan buah manga itu. Langsung saya temui nenek. Katanya itu punya tetangga, jika nanti pemiliknya pulang dari kampungnya, maka nenek akan memintanya dan membawanya pada saya. Saya pun mengiyakan dan kembali memeluk nenek lalu melambaikan tangan dari dalam jendela mobil.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
