Literasi Ekologis
Edukasi | 2026-05-22 14:31:55Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
Langit semakin sulit ditebak. Hujan turun di luar musim. Panas terasa lebih membakar. Angin datang seperti amarah yang kehilangan arah. Laut perlahan naik tanpa suara. Namun di tengah semua perubahan itu, publik justru hidup dalam pemahaman yang kabur: menganggap cuaca ekstrem sekadar siklus alam biasa, bukan bagian dari krisis iklim yang terus membesar.
Di situlah jurang besar itu menganga.
Jurang antara perubahan iklim dan cara masyarakat memahaminya. Jurang antara fakta ilmiah dan narasi media. Jurang antara kerusakan ekologis dan kesadaran publik.
Selama ini, banyak pemberitaan berhenti pada peristiwa. Banjir hanya disebut banjir. Kekeringan hanya dianggap musim buruk. Gelombang panas dipahami sebagai cuaca biasa. Sangat sedikit yang menjelaskan bahwa semua itu saling terhubung dalam rantai panjang perubahan iklim global akibat aktivitas manusia.
Akibatnya, masyarakat tumbuh dalam ruang informasi yang terputus. Mereka melihat bencana, tetapi tidak memahami penyebabnya. Mereka merasakan dampak, tetapi gagal membaca ancamannya.
Ironisnya, di era ketika ilmu pengetahuan berkembang sangat cepat, justru komunikasi tentang iklim berjalan tertatih-tatih. Kajian terbaru bahkan menunjukkan bahwa sebagian besar pemberitaan iklim di Indonesia masih minim rujukan ilmiah dan jarang menghadirkan suara para peneliti. Krisis iklim akhirnya lebih sering diperlakukan sebagai peristiwa musiman ketimbang ancaman peradaban.
Media seakan sibuk mengejar dramatisasi bencana, tetapi lalai membangun literasi ekologis.
Padahal perubahan iklim bukan sekadar isu lingkungan. Ia telah berubah menjadi krisis kemanusiaan. Ketika hasil panen menurun, nelayan kehilangan pola musim, penyakit meningkat akibat suhu ekstrem, hingga harga pangan melonjak, sesungguhnya yang sedang bekerja diam-diam adalah perubahan iklim.
Tetapi narasi publik kita masih terlalu dangkal untuk membaca hubungan itu.
Kita hidup di zaman ketika informasi melimpah, tetapi kesadaran justru langka. Algoritma lebih menyukai sensasi daripada penjelasan. Judul viral lebih diprioritaskan daripada kedalaman ilmiah. Akibatnya, publik lebih mudah panik menghadapi bencana, tetapi tidak cukup tercerahkan untuk memahami akar persoalan.
Inilah yang membuat jurang itu semakin lebar.
Di satu sisi, bumi terus memberi tanda-tanda bahaya. Di sisi lain, manusia terus gagal menerjemahkan pesan-pesan alam itu menjadi kesadaran kolektif. Kita lebih sibuk memadamkan kebakaran daripada menghentikan sumber apinya.
Padahal, tanpa pemahaman yang utuh, masyarakat akan terus hidup dalam siklus kepanikan. Setiap bencana dianggap kejadian baru, padahal itu bagian dari pola krisis yang terus berulang.
Karena itu, jurnalisme hari ini seharusnya tidak hanya bertugas memberitakan cuaca ekstrem. Ia harus berani menjelaskan hubungan antara kerusakan lingkungan, emisi karbon, eksploitasi alam, dan ancaman yang sedang bergerak perlahan menuju kehidupan manusia.
Pers tidak boleh sekadar menjadi saksi bencana. Ia harus menjadi penjaga kesadaran zaman. Peneguh literasi krisis iklim.
Sebab ketika media gagal menjembatani perubahan iklim dengan realitas cuaca ekstrem, maka yang hilang bukan hanya kualitas informasi. Yang hilang adalah kemampuan masyarakat membaca masa depannya sendiri.
Dan mungkin, ancaman terbesar krisis iklim bukan hanya bumi yang semakin panas. Tetapi manusia yang tetap dingin terhadap peringatannya.
_________
Muliadi Saleh: "Menulis Makna, Membangun Peradaban."
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
