Bukan Bersaing tetapi Kolaborasi
Curhat | 2026-05-21 20:47:41
Ketika ketegangan semakin lama semakin keras, aku menyadari kalau laki-laki dan perempuan memang diberikan hak dan kewajiban yang berbeda. Kita punya peran istimewa dan jika menuntut kesetaraan tanpa landasan hanya akan menimbulkan permasalahan baru. Ada hal-hal yang memang jadi ranah bersama, tetapi tidak selalu harus sama. Mengapa harus saling bersaing dan menjatuhkan, jika fitrahnya adalah berkolaborasi dan menghormati dalam kehidupan?
Aku menyayangkan orang-orang yang menganggap perempuan tidak berdaya. Justru perempuan adalah sosok yang bisa menjadi apa pun karena ketangguhannya. Akan tetapi, tuntutan yang datang kepada mereka kadangkala tidak masuk akal. Menjadi serba salah dalam posisinya. Kadangkala tidak seimbang dan memicu pertengkaran. Pemisahan dikotomis antara peran domestik dan peran publik juga menjadi pemicunya. Mengapa sebagai perempuan, keduanya menjadi sesuatu yang diperebutkan dan dihakimi tentang mana yang lebih baik daripada yang lainnya? Padahal perempuan bisa utuh karena ia perempuan. Keduanya mulia dan punya tanggung jawabnya ketika dijalani. Perempuan tetap perlu perlindungan dan perasaan aman dalam menjalaninya.
Kemudian laki-laki menjadi qawwam. Berat sekali tugas itu. Ia harus menjadi pelindung, pendidik, pembimbing dan penanggung jawab nafkah untuk kebutuhannya dan perempuan-perempuan di sekitarnya. Akan tetapi, dalam pernikahan misalnya, kerapkali terjadi penyempitan tugas lelaki hanya tentang pencarian nafkah yang menjadi dewa untuk semuanya. Padahal, laki-laki punya tanggung jawab lain yang sama beratnya. Menciptakan rasa aman di rumah adalah hal yang harus diingat para lelaki dalam menjalani perannya. Ia mengontrol emosi dan kapal bahteranya. Ia berjuang menjalankannya dengan berbagai resiko yang ia korbankan.
Dengan banyaknya tanggung jawab itu, seringkali laki-laki marah dan lelah. Emosinya tidak tersalurkan dengan baik dan berakhir pada pelarian lain yang berbahaya seperti kekerasan. Padahal, bukankah menjamin rasa aman dan bersikap lemah lembut adalah bagian dari tugasnya sebagai pelindung?
Laki-laki dan perempuan harus sama-sama saling berjuang dan bersyukur. Keragaman peran yang diberikan bukan berarti kelonggaran untuk saling menyalahkan, melainkan untuk saling meringankan. Bukan saling melemahkan dengan narasi "kamu gak ngapa-ngapain," atau "kamu gak berjuang lebih!" tetapi keduanya hadir untuk saling menguatkan tentang hal-hal yang tidak selalu ideal datang dalam kehidupan.
Semoga lebih banyak do'a yang terpanjat daripada maki-makian di setiap hubungan kolaborasi itu. Sebab laki-laki tidak bisa mengatur perempuan, perempuan juga tidak bisa mengatur laki-laki, karena yang bisa mengaturnya hanya Allah SWT yang paling mengerti tiap-tiap harmonisasi hambaNya.
Baca juga: Siti Hajar: Dari Lembah Tandus ke Mata Air Abadi
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
