Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Syafara Ardefya Putri

Microteaching dan Proses Menemukan Jati Diri sebagai Guru

Lainnnya | 2026-05-19 14:40:52
Photo by Syafara

Microteaching bukan sekadar mata kuliah wajib dalam program pendidikan guru, melainkan ruang awal bagi mahasiswa untuk mengenal dirinya sendiri sebagai calon pendidik. Dalam proses ini, mahasiswa tidak hanya belajar menyampaikan materi, tetapi juga mulai memahami bagaimana menjadi seorang guru yang sesungguhnya. Di sinilah microteaching berperan sebagai titik awal dalam menemukan jati diri sebagai guru. Pengalaman pertama saya mengikuti microteaching menjadi momen yang cukup membekas. Meskipun yang dihadapi adalah teman-teman sendiri, rasa gugup justru terasa lebih besar. Tangan terasa dingin, suara sedikit bergetar, dan apa yang sudah dipersiapkan sebelumnya tidak sepenuhnya berjalan sesuai rencana. Situasi tersebut membuat saya menyadari bahwa mengajar bukan hanya soal memahami materi, tetapi juga tentang kesiapan mental dan kepercayaan diri.

Dalam praktik tersebut, saya sempat merasa sudah cukup menjelaskan materi dengan baik. Namun, ketika mendapatkan umpan balik dari dosen dan teman-teman, ternyata masih banyak hal yang perlu diperbaiki-mulai dari penguasaan kelas, intonasi suara, hingga cara berinteraksi dengan "siswa Dari situ saya mulai menyadari bahwa gaya mengajar saya cenderung masih kaku dan terlalu fokus pada penyampaian materi, belum pada bagaimana membuat pembelajaran menjadi hidup. Pengalaman itu menjadi titik awal refleksi. Saya mulai bertanya pada diri sendiri seperti apa guru yang ingin saya menjadi? Apakah hanya sebagai penyampai materi, atau sebagai fasilitator yang mampu membangun suasana belajar yang menyenangkan? Pertanyaan-pertanyaan ini perlahan membantu saya memahami bahwa menemukan jati diri sebagai guru adalah proses yang tidak instan, melainkan hasil dari latihan, kesalahan, dan perbaikan yang terus-menerus.

Meski demikian, penting untuk disadari bahwa microteaching tetap memiliki keterbatasan. Suasana kelas yang sebenarnya jauh lebih dinamis dan tidak terduga. Siswa di dunia nyata memiliki karakter yang beragam, tidak selalu kondusif, dan membutuhkan pendekatan yang berbeda-beda. Hal ini membuat saya menyadari bahwa apa yang dipelajari dalam microteaching hanyalah gambaran awal, bukan representasi utuh dari realitas mengajar. Oleh karena itu, microteaching seharusnya tidak hanya dipandang sebagai ajang penilaian, tetapi sebagai ruang aman untuk belajar dan mencoba. Kesalahan dalam proses ini justru menjadi bagian penting dalam pembentukan kompetensi sebagai calon guru. Dengan adanya refleksi dan evaluasi, mahasiswa dapat terus mengembangkan diri dan menemukan gaya mengajar yang paling sesuai dengan kepribadiannya. Pada akhirnya, menemukan jati diri sebagai guru bukanlah tentang menjadi sempurna sejak awal, melainkan tentang kesiapan untuk terus belajar dan berkembang. Microteaching hanyalah langkah pertama dari perjalanan panjang tersebut. Namun dari langkah kecil inilah, seorang calon guru mulai memahami bahwa menjadi pendidik bukan sekadar profesi, melainkan proses menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image