Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Wahyuddin Luthfi Abdullah

Ketika Generasi Muda Berkata: Aku Kena Mental

Agama | 2026-05-15 14:13:52

“Kena mental aku!” atau “Aduh, mental health aku lagi terganggu nih.” Ungkapan-ungkapan semacam ini kini lazim menghiasi ruang-ruang percakapan generasi muda, menjadi alarm atas realitas psikologis yang menyesakkan. Fenomena ini bukan sekadar tren bahasa gaul, melainkan cerminan derita batin di tengah derasnya arus informasi dan tuntutan prestasi tanpa batas.

Bagi banyak pemuda, kehidupan terasa terjepit di antara ekspektasi masa depan yang samar dan hiruk-pikuk dunia digital yang tak pernah tidur. Namun, melalui kacamata Islam, kesehatan mental sebenarnya bukanlah kondisi steril dari beban, melainkan tentang bagaimana seorang hamba mengelolanya melalui tiga pilar: Sunnatullah, Muhasabah, dan Mujahadah.

Kesadaran pertama adalah memahami bahwa tekanan hidup adalah Sunnatullah—sebuah ketetapan ilahi yang melekat pada eksistensi manusia. Kehidupan memang dirancang sebagai medan ujian yang dipenuhi rasa takut, lapar, hingga kekurangan harta dan jiwa, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an (QS. Al-Baqarah: 155).

Tekanan ini bahkan dialami oleh manusia dengan derajat spiritual tertinggi, yaitu para Nabi dan Rasul. Nabi Muhammad ﷺ pun pernah berada pada titik emosional berat hingga mengadukan lemahnya kekuatan diri kepada Sang Pencipta. Memahami ini penting agar generasi muda tidak merasa ”gagal” saat merasa lelah atau hidup sedang capek-capeknya, melainkan mengubah cara pandang dari seorang korban yang meratapi keadaan menjadi seorang pejuang yang yakin bahwa di balik setiap kesulitan, selalu ada kemudahan yang menyertainya secara berdampingan (QS. Al-Insyirah: 5-6).

Namun, penerimaan saja tidaklah cukup tanpa pilar kedua, yaitu Muhasabah. Dalam tradisi Islam, evaluasi diri adalah langkah krusial agar kita memiliki kesadaran utuh terhadap kondisi internal maupun eksternal (QS. Adz-Dzariyat: 21). Di era modern, muhasabah dapat diterjemahkan ke dalam analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats).

Seorang individu harus jujur memetakan kekuatan seperti energi masa muda, namun juga berani mengakui kelemahan seperti manajemen waktu buruk atau overthinking yang melumpuhkan. Kedalaman muhasabah ini sejalan dengan teori ilmuwan muslim klasik Al-Balkhi bahwa kesehatan mental dibentuk oleh keseimbangan pengetahuan tentang diri sendiri dan pemahaman terhadap dunia luar.

Generasi muda perlu mengenali peluang di lingkungan belajar, sembari tetap waspada terhadap ancaman nyata seperti pergaulan toxic, fenomena doom scrolling, hingga distraksi digital. Tanpa pengenalan diri yang jujur, kita hanya akan bereaksi impulsif terhadap tekanan, bukannya memberikan respons yang bijaksana.

Langkah terakhir yang menyempurnakan perjalanan ini adalah Mujahadah, sebuah perjuangan sungguh-sungguh untuk mengelola kesehatan mental melalui bimbingan wahyu. Ketenangan jiwa bukanlah sesuatu yang datang secara pasif, melainkan hasil usaha aktif mengikuti petunjuk Allah agar terhindar dari kesesatan, ketakutan, dan kesedihan (QS. Al-Baqarah: 38).

Di sinilah letak urgensi aqidah yang kokoh sebagai mesin penggerak yang melahirkan optimisme dan sangka baik. Dengan landasan ini, setiap tantangan tidak lagi dilihat sebagai beban yang menghancurkan, melainkan sarana meningkatkan kualitas diri. Implementasi nyatanya ditemukan dalam aktivitas spiritual seperti dzikir, istighfar, shalat, serta latihan kesabaran dan rasa syukur.

Dzikir bukan sekadar komat-kamit lisan tanpa makna, melainkan proses kognitif untuk mengalihkan fokus dari masalah duniawi yang fana menuju keagungan Tuhan yang kekal, sehingga menghadirkan ketenangan jiwa yang hakiki. Dengan kemampuan mengelola tekanan baik dari dalam diri maupun luar, seorang anak muda akan tumbuh menjadi pribadi yang utuh dan tangguh.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental adalah perjalanan panjang manajemen diri yang berkelanjutan. Kita harus memastikan bahwa di tengah riuhnya distraksi digital, yang paling dekat dengan hati kita adalah nilai-nilai abadi dan ketenangan ilahi, bukan sekadar bayang-bayang kegagalan yang terpantul di layar gawai.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image