Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Admin Eviyanti

Ekonomi Sulit, Rakyat Makin Terjepit

Politik | 2026-05-15 12:55:25

Oleh Maryatiningsih

Aktivis Dakwah

Hari Buruh yang dilaksanakan setiap tanggal 1 Mei, menjadi momentum yang tepat untuk mengevaluasi problematika yang terjadi di negeri ini. Terkait serikat buruh yang menyoroti sejumlah isu ketenagakerjaan seperti percepatan Rancangan Undangan-Undang (RUU) Ketenagakerjaan baru, hingga pentingnya dukungan pemerintah dalam layanan penitipan anak (daycare) bagi para orang tua yang yang bekerja.

Ketua umum Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) menyoroti tentang berbagai kewajiban yang harus dibayarkan oleh perusahaan, sesuai dengan ketentuan. Survei di lapangan membuktikan bahwa masih banyak para pekerja yang masih menerima upah tidak layak. Terlepas dari masalah tersebut, masih banyak lagi persoalah yang harus diperhatikan bagi kesejahteraan kaum pekerja (butuh). Di antaranya yaitu: lapangan pekerjaan yang masih sulit, sehingga pengangguran semakin banyak.

Menurut badan pusat statistik (BPS) jumlah pengangguran periode November 2025, jumlahnya mencapai sejumlah 7,35 juta orang, dengan tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,7%. Hal ini menunjukkan bahwa jutaan rakyat usia produktif belum mendapatkan pekerjaan yang layak. Hali ini juga mengakibatkan gangguan psikologis mereka.

Alternatif membuat usaha sendiri (UMKM ) makin dihadapkan dengan tantangan daya beli masyarakat yang kurang (rendah). Tidak sedikit UMKM yang gulung tikar atau tidak bertahan lama. Bahkan para pelaku UMKM ini mempunyai tujuan yang berbeda-beda, ada yang benar-benar karena ingin mempunyai pendapatan atau keuntungan yang bisa untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, ada juga yang mendirikan usaha dengan tujuan ingin mendapat bantuan pinjaman dari pemerintah, dengan kata lain hanya sebagai syarat tertentu saja.

Kemudian masalah gig economy dimana peluang pekerjaan ini sengaja di ciptakan untuk masyarakat, terutama untuk kalangan anak muda, tetapi jenis pekerjaan ini tidak memiliki jaminan sosial dan relasi kerja yang jelas dengan pemilik modal. Seperti ojol, konten kreator dan lain-lain.

Maka, masalah-masalah tersebut berdampak bagi rakyat, sebab lapangan pekerjaan menjadi terbatas, sedangkan pencari pekerjaan sangat banyak. Masyarakat membutuhkan biaya untuk memenuhi segala kebutuhan hidup, apalagi dengan kondisi saat ini yang mana harga-harga bahan pokok terus melonjak naik.

Fakta ini adalah bukti bahwa negara gagal, belum bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk rakyatnya. Karena kalau kita cermati, negara tercinta ini kaya dengan SDA , yang bisa disulap menjadi lapangan pekerjaan yang luas, jika negara mampu mengelola sendiri. Fakta yang ada saat ini SDA dikelola oleh asing atau swasta.

Sistem kapitalis adalah akar masalahnya, yakni sistem yang diterapkan saat ini. Dimana sistem ini hanya cenderung sebagai regulator dan berpihak pada pemilik pasar dan pemodal, sehingga berdampak kesenjangan makin lebar dan kemiskinan struktural makin banyak. Karena di sistem ini yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin. Kapitalis menjadikan materi di atas segalanya.

Kondisi ini akan terus melanggengkan kezaliman penguasa jika kebijakan masih berpihak kepada para pemilik pemodal dan kepentingan rakyat semakin terabaikan. Rakyat semakin sulit dan berantakan. Sebab, dalam sistem sekuler ini, hak dan kewajiban pekerja dan pemberi pekerja tidak di atur dengan aturan yang benar dan tepat yakni dengan syariat Islam.

Dalam sistem Islam, negara bertanggung jawab menyediakan lapangan pekerjaan untuk semua laki-laki dewasa, agar dapat menjalankan kewajiban menafkahi keluarganya.

Sistem pendidikan, politik dan ekonomi Islam memiliki mekanisme yang komprehensif untuk memastikan setiap laki-laki dewasa bekerja sesuai dengan bidang dan kemampuannya. Syariat Islam memiliki aturan terkait hak dan kewajiban pekerja dan pemberi kerja, sehingga tidak akan menimbulkan masalah, baik dalam hal upah, jam kerja, beban kerja, karena akad kerja di dasarkan keridaan. Solusi masalah ketenagakerjaan membutuhkan perubahan sistem politik, ekonomi, dan pendidikan, yang berpijak pada Islam secara Kaffah (menyeluruh), artinya sistem kapitalis harus diganti dengan sistem Islam secara menyeluruh, agar terwujud kehidupan yang aman , damai, dan sejahtera di bawah naungan syariat.

Wallahualam bissawab.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image