Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ani Aridiningsih

Ancaman Nyata bagi UMKM dan Daya Beli Rakyat

Politik | 2026-05-11 13:15:32

Peningkatan harga plastik yang dialami akhir-akhir ini tidak hanya menjadi masalah yang menyangkut dunia industri saja, melainkan kini sudah menjadi masalah ekonomi yang mempengaruhi kehidupan masyarakat secara langsung. Dalam beberapa bulan terakhir, diberitakan bahwa harga plastik mentah telah mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi, bahkan ada beberapa bidang yang mengalami hampir dua kali lipat.

Hal tersebut bukan hanya mempengaruhi industri-industri besar saja, namun juga membuat UMKM merasa terbebani karena plastik menjadi salah satu bagian dari operasi. Plastik, di era ekonomi modern ini, bukan hanya sekedar bahan tambahan. Plastik merupakan salah satu elemen penting yang berfungsi sebagai media pengiriman maupun penjualan, baik itu makanan, minuman, atau bahkan keperluan rumah tangga lainnya.

Saat harga plastik mengalami kenaikan, tentunya biaya produksi juga ikut meroket. Bagi UKM yang notabene memiliki keterbatasan modal, mereka berada di titik yang paling rawan. Mereka harus mengambil langkah sulit, yakni menaikkan harga penjualan. Per April 2026, harga plastik di Indonesia mengalami kenaikan drastis antara 40% hingga 100%, bahkan dilaporkan melonjak hingga 10 kali lipat di beberapa wilayah. Lonjakan ini, yang menembus Rp100.000/kg untuk biji plastik tertentu, disebabkan krisis global dan biaya bahan baku impor, sangat berdampak pada UMKM, Signifikansi Kenaikan: Kenaikan berkisar antara 40%—100%.

Jenis Plastik & Harga: Biji plastik PP naik menjadi Rp66.900—Rp102.900/kg, sementara plastik HD meningkat drastis. (Universitas gajah Mada) . Beban lainnya dari dampak kenaikan harga plastik ini juga akan dirasakan oleh daya beli masyarakat. Di mana, dengan peningkatan harga yang dilakukan oleh pelaku usaha, konsumen lah yang akan menanggung dampak paling akhir. Pada saat kondisi perekonomian masih belum stabil, kenaikan harga barang sebesar apapun bisa mempengaruhi daya beli, dan yang paling banyak adalah daya beli dari masyarakat kelas menengah ke bawah.

Jika kondisi seperti ini dibiarkan terus berlangsung, maka tidak menutup kemungkinan bahwa akan ada efek dominonya dalam bentuk perlambatan konsum. Tingginya harga plastik juga tidak terlepas dari kondisi global, di antaranya adalah penurunan atau kenaikan harga minyak dunia sebagai bahan baku plastik, masalah logistik global, serta permintaan yang meningkat pasca pemulihan ekonomi global. Tetapi yang tak bisa dipungkiri adalah bahwa ketergantungan Indonesia pada bahan baku yang harus diimpor juga berkontribusi membuat kenaikan ini semakin sulit untuk ditangani.

Untuk itu, ada langkah-langkah strategis yang harus dilakukan oleh pemerintah. Langkah pertama adalah memperkuat industri hulu dalam negeri sehingga menurunkan tingkat ketergantungan pada impor bahan bakunya. Langkah kedua adalah memberikan insentif atau subsidi sementara kepada pelaku UMKM yang akan membantu mereka agar tetap bertahan melalui masalah biaya produksi tersebut. Langkah ketiga adalah dengan melakukan inovasi serta pemakaian bahan alternatif ramah lingkungan untuk mengurangi ketergantungan dalam jangka panjang.

Sebagai tambahan, kerjasama antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat juga sangat diperlukan. Edukasi bagi konsumen agar mulai berubah dan menggunakan kemasan yang lebih sustainable bisa menjadi hal kecil namun memiliki dampak besar, Sementara bagi perusahaan sendiri, mereka juga harus mulai berubah dan menemukan cara-cara yang efisien dan inovatif dalam menggunakan bahan kemasan. Akhirnya, kenaikan harga plastik menjadi refleksi dari kesulitan ekonomi global dan domestik yang saling berkaitan. Namun, jika hal ini tidak diselesaikan secara bijaksana dan tuntas, konsekuensinya bisa menjadi lebih luas dan bahkan menambah kesulitan bagi ekonomi masyarakat.

UMKM sebagai pilar dari perekonomian Indonesia tidak bisa diabaikan begitu saja. Masyarakat pun harus berhati-hati dengan kenaikan harga ini. Momentum ini harus menjadi momentum bagi Indonesia untuk menciptakan ketahanan industri, melakukan inovasi, dan mengembangkan sistem ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan. Pasalnya, masalah plastik ini tidak hanya terkait dengan bahan, namun juga dengan kewujudan ekonomi yang berkelanjutan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image