Krisis Iklim dan Generasi Z, Pemogokan Sekolah untuk Iklim
Eduaksi | 2026-05-10 16:53:19Oleh: Khilmi Zuhroni
(Ketua Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah Kotawaringin Timur)
Ada sesuatu yang unik dalam cara generasi ini menyelamatkan bumi. Mereka melakukannya sambil menatap layar. Tapi mungkin kita salah bertanya. Bukan apakah layar cukup. Melainkan mengapa kita masih mengharapkan sesuatu yang cukup, ketika yang dihadapi adalah bencana yang sudah terlambat dicegah sepenuhnya?
Seorang gadis berusia lima belas tahun duduk sendirian di depan parlemen Swedia. Agustus 2018. Ia membawa papan tulisan: Skolstrejk för klimatet (pemogokan sekolah untuk iklim). Tidak ada yang mengundangnya. Tidak ada yang menyuruhnya pulang. Dan tiba-tiba, dalam hitungan bulan, jalan-jalan di 163 negara penuh dengan anak-anak yang memegang papan serupa. September 2019 empat juta orang turun ke jalan dalam satu hari, dari Berlin hingga Bogotá, dari Sydney hingga Surabaya. Greta Thunberg tidak memulai gerakan. Ia menyulut sesuatu yang sudah membara.
Generasi Z, mereka yang lahir antara 1997 dan 2012, tumbuh dalam dunia yang sudah retak. Bukan retak yang bisa diperbaiki dengan tambalan kecil, melainkan retak yang terasa di kulit: banjir yang datang di luar musim, gelombang panas yang memecahkan rekor setiap tahun, kebakaran hutan yang mengubah langit menjadi oranye di siang hari. Mereka tidak membaca tentang krisis iklim di buku teks. Mereka hidup di dalamnya.
Dan kecemasan itu nyata. Sebuah survei global 2021 mencatat bahwa lebih dari 59 persen anak muda di seluruh dunia menyatakan diri mereka "sangat atau amat sangat khawatir" tentang perubahan iklim. Di Amerika Serikat, studi Universitas Pennsylvania menemukan bahwa setidaknya 40 hingga 70 persen responden Gen Z, dari berbagai latar etnis, merasakan "ketakutan" dan "kesedihan" setiap kali mereka mendengar berita tentang iklim.
Para psikolog menyebutnya eco-anxiety. Tapi barangkali itu bukan patologi. Barangkali itu adalah respons yang tepat terhadap situasi yang memang menakutkan.
Yang menarik bukan kecemasannya. Yang menarik adalah apa yang mereka lakukan dengan kecemasan itu. Generasi sebelumnya juga cemas. Tapi kecemasan itu sering berakhir sebagai keluhan meja makan, atau donasi tahunan ke lembaga lingkungan, atau stiker di mobil. Gen Z melakukan sesuatu yang berbeda. Mereka mengubah kecemasan menjadi tekanan politik. Dan mereka melakukannya dengan alat yang mereka kuasai paling baik: koneksi digital.
Survei Pew Research Center menegaskan bahwa isu iklim telah menjadi "isu penentu" bagi generasi ini. Sebesar 64 persen Gen Z menyebut perubahan iklim sebagai prioritas utama mereka. Sebuah angka tertinggi di antara semua generasi yang disurvei. Mereka tidak hanya peduli, mereka mengorganisir.
Di sinilah pertanyaan lama itu muncul. Apakah aktivisme digital sungguh mengubah sesuatu?
Pertanyaan ini biasanya diajukan oleh orang-orang yang lebih tua, dengan nada yang setengah meremehkan. Seolah menekan tombol "bagikan" adalah pekerjaan yang tidak serius. Tapi mari kita lihat faktanya.
Fridays for Future (FFF), gerakan yang dimulai oleh satu gadis dengan satu papan, telah mendorong perubahan kebijakan yang terukur. Sebuah studi akademis yang diterbitkan 2025 mengkaji 25 kota di Jerman dan menemukan bahwa semua 25 kota tersebut mengubah proses pengambilan kebijakan mereka sebagai respons terhadap tekanan FFF. Enam puluh empat persen dari mereka memperkenalkan perubahan instrumen kebijakan yang konkret. Termasuk target pengurangan emisi yang lebih ambisius dari sebelumnya. Di Münster, para aktivis muda bahkan berhasil memaksa wali kota, yang melawan kehendaknya sendiri, menerima target iklim 2030 yang lebih ketat, sekaligus mewajibkan laporan kemajuan tahunan.
Di Montana, 2024, Mahkamah Agung negara bagian memutuskan bahwa konstitusi menjamin hak atas iklim yang stabil, setelah digugat oleh sekelompok anak muda. Keputusan ini membatalkan undang-undang yang sebelumnya melarang regulator mempertimbangkan dampak iklim dalam proyek bahan bakar fosil. Di Hawaii, pada tahun yang sama, 13 pemuda berhasil memaksa Departemen Transportasi berkomitmen untuk mendekarbonisasi sistem transportasinya hingga 2045. Ini bukan simbolisme. Ini hukum.
Tentu ada yang tidak berubah. Emisi karbon global masih naik. Konferensi iklim masih menghasilkan janji yang indah dan implementasi yang lambat. Perusahaan bahan bakar fosil masih mencetak keuntungan rekor sambil menempelkan logo hijau di laporan tahunan mereka. Greenwashing, kepalsuan keberlanjutan, adalah industri yang jauh lebih besar daripada keberlanjutan itu sendiri.
Dan ada ironi yang menyakitkan: platform digital yang menjadi senjata utama Gen Z dimiliki oleh korporasi yang jejak karbonnya tidak kecil. Setiap server farm yang menjalankan TikTok, Instagram, dan Twitter membutuhkan energi yang luar biasa. Kita berjuang melawan krisis iklim menggunakan infrastruktur yang turut menciptakannya. Tapi ironi bukan alasan untuk diam. Ironi adalah kondisi kehidupan modern.
Ada hal lain yang perlu dicatat dengan jujur. Sebuah penelitian di Universitas Pennsylvania menemukan bahwa Gen Z, meski memiliki intensi tertinggi untuk bertindak di masa depan, justru menunjukkan tingkat keterlibatan aktual yang lebih rendah dibanding generasi yang lebih tua pada saat ini. Mereka banyak bermimpi tentang perubahan, tapi tindakan sehari-hari masih terbatas pada yang terasa mudah dan dekat secara personal.
Ini bukan tuduhan. Ini adalah pola yang bisa dipahami. Anak muda seringkali tidak punya akses ke mekanisme perubahan yang paling kuat. Mereka tidak bisa memilih di banyak tempat, tidak punya modal untuk berinvestasi di energi bersih, tidak punya kursi di meja perundingan. Maka mereka memilih jalur yang tersedia: demonstrasi, petisi, konten viral, gugatan hukum.
Dan jalur itu ternyata tidak sepenuhnya sia-sia.
Yang bergeser bukan hanya kebijakan. Yang bergeser adalah narasi. Penelitian yang menganalisis jutaan tweet seputar konferensi iklim COP (Conference of the Parties) antara 2014 dan 2021 menemukan bahwa kerangka normatif gerakan anak muda diantaranya tentang keadilan antargenerasi, hak hidup layak, kewajiban perlindungan, secara perlahan meresap ke dalam wacana politik internasional. Seorang penasihat Presiden COP26 mengakui bahwa para aktivis muda membentuk cara Presiden COP memahami krisis ini. "Keterlibatan dengan komunitas muda pasti membuat perbedaan," katanya. Narasi berubah lebih lambat dari yang kita inginkan, tapi lebih cepat dari yang kita sadari.
Maka, apakah tekanan virtual cukup untuk menyelamatkan planet? Tidak. Tidak ada satu hal pun yang cukup sendirian. Tapi pertanyaan itu mungkin salah bingkai. Aktivisme digital bukan pengganti kebijakan energi, bukan pengganti regulasi karbon, bukan pengganti teknologi bersih. Ia adalah tekanan, sebuah gaya yang menggeser keseimbangan, mengubah apa yang mungkin secara politik, membuka ruang bagi kebijakan yang sebelumnya dianggap terlalu radikal.
Empat juta orang di jalan dalam satu hari tidak menyelamatkan planet. Tapi ia mengubah apa yang bisa dibicarakan di ruang sidang. Dan kadang, itulah yang perlu diubah lebih dulu.
Saya teringat sebuah pertanyaan lama: apakah kata-kata bisa mengubah dunia?
Jawabannya selalu sama: kata-kata tidak mengubah dunia. Manusia yang mengucapkan kata-kata, yang mendengarnya, yang kemudian melakukan sesuatu merekalah yang mengubah dunia. Kata-kata hanyalah jembatan.
Layar adalah jembatan baru. Lebih cepat, lebih luas, kadang lebih dangkal. Tapi jembatan tetaplah jembatan. Artinya ada dua tepian yang perlu dihubungkan: kesadaran di satu sisi, dan tindakan di sisi lain.
Generasi Z sedang belajar menyeberangi jembatan itu. Mereka belum sampai. Tapi mereka bergerak. Dan di tengah krisis yang membuat banyak orang memilih diam, bergerak adalah sesuatu.
Di pantai-pantai Pasifik yang mulai tenggelam, anak-anak muda dari Kepulauan Pasifik (Pacific Climate Warriors) berbicara tentang Loss and Damage: kerugian dan kerusakan yang tidak bisa dikembalikan. Mereka membawa isu itu ke COP27 dan COP28. Bukan karena mereka punya kekuatan ekonomi. Tapi karena mereka punya cerita yang tidak bisa diabaikan sepenuhnya.
Mungkin itulah kekuatan terdalam dari gerakan ini: bukan hashtag, bukan jumlah pengikut, bukan viralitas. Melainkan kenyataan yang mereka bawa ke meja perundingan. Kenyataan bahwa planet ini sedang dalam bahaya, dan mereka yang akan menanggungnya paling lama adalah mereka yang usianya sekarang paling muda.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
