Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Jovilda Nur

Refleksi Hardiknas: Dunia Pendidikan Makin Buram dan Memprihatinkan

Politik | 2026-05-07 13:10:33

Setiap tanggal 2 Mei, bangsa ini kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa Ki Hajar Dewantara. Namun, dibalik seremoni yang rutin digelar setiap tahun, realitas dunia pendidikan justru menunjukkan kondisi

Kasus kekerasan di lingkungan pendidikan terus meningkat dan semakin brutal. Pengeroyokan pelajar di Bantul hingga korban tewas dan dilindas kendaraan menjadi sorotan publik. Di Bandung, seorang pelajar SMA tewas akibat kekerasan oleh sesama pelajar. Bahkan, dalam kurun tiga bulan, tercatat 233 kasus kekerasan di dunia pendidikan . Fakta ini menunjukkan bahwa sekolah dan kampus belum mampu menjadi ruang aman. (kompas.id.com, 01/05/2026)

Di sisi lain, krisis integritas juga semakin mengakar. Praktik kecurangan akademik seperti joki dalam seleksi masuk perguruan tinggi UTBK-SNBT kembali terungkap dengan tarif hingga ratusan juta rupiah. Modusnya semakin canggih, mulai dari pemalsuan dokumen hingga penggunaan alat bantu teknologi. Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya instan dan manipulatif semakin meluas di dunia pendidikan.

Selain itu, fenomena lain yang tak kalah mengkhawatirkan adalah meningkatnya penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa. Ditambah lagi dengan degradasi etika, di mana pelajar semakin berani melawan, menghina, bahkan mempidanakan guru ketika didisiplinkan. Semua ini menjadi sinyal kuat bahwa dunia pendidikan sedang tidak baik-baik saja.
Kegagalan Sistemik dan Krisis Kepribadian

Berbagai fakta tersebut bukanlah kejadian yang berdiri sendiri, melainkan cerminan dari kegagalan sistemik pendidikan. Peringatan Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi alarm keras bahwa arah pendidikan hari ini telah melenceng dari tujuan utamanya. Sistem pendidikan yang berjalan saat ini cenderung melahirkan generasi yang pragmatis, materialistik, dan berorientasi pada hasil semata. Nilai kejujuran, tanggung jawab, dan moralitas semakin terpinggirkan. Dalam kondisi seperti ini, kecurangan bukan lagi dianggap sebagai penyimpangan, melainkan strategi yang dianggap wajar untuk meraih kesuksesan.

Di sisi lain, pola pendidikan yang terlalu menekankan capaian akademik tanpa diimbangi pembentukan karakter telah melahirkan individu yang cerdas secara intelektual, namun rapuh secara moral. Ketika keberhasilan hanya diukur dari hasil, maka proses kerap diabaikan, bahkan dilanggar.

Selain itu, lemahnya penegakan sanksi terhadap pelanggaran yang dilakukan pelajar turut memperparah keadaan. Banyak tindakan kriminal justru ditoleransi sebagai “kenakalan remaja”, sehingga tidak memberikan efek jera. Hal ini membuka ruang semakin luas bagi perilaku menyimpang. Minimnya internalisasi nilai moral dan spiritual dalam pendidikan juga menjadi faktor penting. Pendidikan seringkali hanya menyentuh aspek kognitif, tetapi belum mampu membentuk kesadaran dan tanggung jawab peserta didik.

Membangun Sistem Pendidikan yang Berakar pada Nilai

Kondisi ini menunjukkan bahwa perbaikan pendidikan tidak cukup dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan perubahan yang mendasar. Pendidikan harus kembali pada tujuan utamanya, yaitu membentuk manusia yang utuh cerdas secara intelektual, kuat secara moral, dan memiliki arah hidup yang jelas.

Dalam ajaran Islam, pendidikan merupakan hal penting yang wajib dijamin pemenuhannya. Pendidikan tidak hanya mencetak individu berilmu, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki ketakwaan, sehingga tidak tergoda untuk melakukan kecurangan demi meraih kesuksesan. Allah Swt berfirman, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Maka itu, pendidikan harus berfokus pada pembentukan karakter yang utuh. Seorang pelajar tidak cukup hanya memiliki kemampuan berpikir yang baik, tetapi juga harus memiliki sikap yang selaras dengan nilai yang diyakininya. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

Dengan demikian, untuk menjaga tatanan tersebut, diperlukan adanya aturan dan sanksi yang tegas terhadap setiap pelanggaran. Ketegasan ini penting untuk mencegah normalisasi penyimpangan dan menjaga lingkungan pendidikan tetap kondusif.

Selain itu, pendidikan tidak dapat dipisahkan dari lingkungan yang mendukung. Suasana kehidupan harus mendorong tumbuhnya nilai-nilai kebaikan dan menjauhkan dari penyimpangan. Sinergi antara keluarga, masyarakat, dan negara menjadi kunci utama. Ketiganya harus berjalan searah dalam membentuk karakter dan menanamkan nilai. Dengan fondasi yang kuat, pendidikan tidak hanya melahirkan generasi yang cerdas, tetapi juga berintegritas dan berakhlak.

Saatnya Beralih pada Sistem yang Menyelesaikan Akar Masalah

Momentum Hari Pendidikan Nasional tidak boleh terus terjebak dalam seremoni tanpa makna. Krisis yang melanda dunia pendidikan hari ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan kegagalan sistem yang tidak mampu membentuk manusia secara utuh. Karena itu, solusi yang ditawarkan tidak cukup dengan tambal sulam kebijakan, melainkan membutuhkan perubahan mendasar hingga pada level sistem. Pendidikan membutuhkan pondasi yang jelas, yang tidak hanya mengatur aspek akademik, tetapi juga membentuk kepribadian, menjaga moralitas, dan mengarahkan tujuan hidup manusia.

Dalam hal ini, penerapan Islam secara kaffah bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Islam menawarkan sistem kehidupan yang menyeluruh, termasuk dalam bidang pendidikan. Sistem ini menempatkan akidah sebagai dasar, menjadikan pembentukan akhlak sebagai tujuan utama, serta memastikan negara bertanggung jawab penuh dalam menjamin pendidikan yang berkualitas dan merata.

Lebih dari itu, sistem Islam juga menghadirkan mekanisme yang tegas dalam menjaga ketertiban melalui penerapan aturan dan sanksi yang konsisten, sekaligus membangun lingkungan sosial yang mendorong tumbuhnya kebaikan dan mencegah penyimpangan. Pendidikan tidak berjalan sendiri, tetapi menjadi bagian dari sistem kehidupan yang saling terintegrasi.

Di sisi lain, tanpa perubahan ke arah sistem yang lebih mendasar ini, krisis pendidikan akan terus berulang, bahkan semakin kompleks. Namun, ketika Islam diterapkan secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk pendidikan, maka bukan hal yang mustahil untuk melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas, berakhlak, dan memiliki arah hidup yang jelas. Sudah saatnya kita tidak hanya memperbaiki pendidikan, tetapi membangun kembali sistem yang melahirkannya.

Wallahu a‘lam bishawab.

Oleh Dhini Sri Widia Mulyani Pegiat Literasi

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image