Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhammad Sabiq Zulfa

Anak Bukan Miniatur Orang Dewasa

Agama | 2026-05-05 17:01:23

Mereka diarahkan, dituntut, bahkan dibandingkan, seolah-olah hidup mereka adalah kelanjutan ambisi orang tua yang belum tercapai. Tanpa disadari, kita sedang menghapus satu hal penting dari diri anak: hak untuk menjadi dirinya sendiri.

Anak bukan miniatur orang dewasa. Mereka bukan versi kecil yang harus segera memahami logika, tekanan, dan standar dunia orang dewasa. Anak adalah individu yang sedang bertumbuh dengan cara berpikir, emosi, dan kebutuhan yang berbeda-beda. Ketika orang tua memaksakan standar dewasa terlalu dini, yang terjadi bukan percepatan kedewasaan, melainkan tekanan psikologis yang sering kali tidak terlihat.

Fenomena ini terlihat dari kebiasaan membandingkan anak: “Kenapa kamu tidak seperti dia?”, “Lihat, temanmu bisa ini, kamu tidak.” Kalimat sederhana ini mungkin terdengar biasa, tapi bagi anak-anak, itu adalah awal dari rasa tidak cukup. Mereka mulai mengukur nilai dirinya dari orang lain, bukan dari proses dan perkembangan pribadi.

Lebih jauh lagi, sistem pendidikan dan lingkungan sosial juga sering memperparah kondisi ini. Anak dipaksa untuk selalu “berprestasi,” tanpa ruang untuk gagal. Padahal, kegagalan adalah bagian penting dari proses belajar. Tanpa gagal, anak tidak akan memahami arti usaha, ketahanan, dan bangkit kembali.

Opini ini bukan berarti anak dibiarkan dibiarkan tanpa arah. Justru sebaliknya, anak membutuhkan bimbingan. Namun, bimbingan yang tepat adalah yang memberi ruang, bukan yang menekan. Orang tua perlu hadir sebagai fasilitator, bukan pengendali. Memberikan dukungan tanpa menghilangkan kebebasan anak untuk memilih.

Kita perlu mengubah cara pandang: dari “membentuk anak sesuai keinginan” menjadi “menemani anak menemukan dirinya.” Perubahan ini mungkin terasa sederhana, namun dampaknya sangat besar. Anak yang tumbuh dengan ruang untuk menjadi diri sendiri akan lebih percaya diri, lebih sehat secara mental, dan lebih siap menghadapi kehidupan.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi “anak ini akan jadi apa?” tetapi “apakah anak ini bahagia menjadi dirinya sendiri?”

Muhammad Sabiq Zulfa, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

#PerlindunganAnak

#PerekembanganZaman

#Sejahtera

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image