Siapa yang Mengendalikan Marketing: Manusia atau AI?
Bisnis | 2026-05-04 10:19:08Oleh: Hary Fandeli (Dosen FT-UNAND)
Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) bukan lagi konsep masa depan. Ia sudah hadir dalam keseharian kita, sering kali tanpa disadari. Ketika seseorang melihat iklan yang terasa sangat relevan dengan kebutuhannya, menerima balasan cepat dari layanan pelanggan di aplikasi pesan, atau mendapatkan rekomendasi produk yang “pas”, di situlah AI bekerja. Dalam dunia bisnis, khususnya pemasaran digital, kehadiran AI tidak hanya mengubah cara perusahaan berkomunikasi dengan pelanggan, tetapi juga mengubah wajah pemasaran itu sendiri.
Transformasi: Dari Intuisi ke Berbasis Data
Selama bertahun-tahun, pemasaran digital dijalankan dengan pendekatan yang relatif umum dan berbasis intuisi. Pelaku usaha menentukan target pasar secara luas, membuat konten, lalu berharap pesan tersebut menjangkau audiens yang tepat. Namun, dengan hadirnya AI, pendekatan ini mengalami transformasi besar. Pemasaran kini menjadi lebih berbasis data, lebih personal, dan lebih terukur. AI memungkinkan pelaku usaha memahami perilaku konsumen secara lebih mendalam, bahkan hingga pada preferensi individu.
Perubahan ini terlihat jelas pada berbagai praktik pemasaran saat ini. Iklan digital tidak lagi ditampilkan secara acak, tetapi disesuaikan dengan minat dan kebiasaan pengguna. Chatbot mampu melayani pelanggan selama 24 jam tanpa henti. Sistem rekomendasi dapat menyarankan produk berdasarkan riwayat pencarian dan pembelian. Semua ini membuat proses pemasaran menjadi lebih efisien sekaligus meningkatkan peluang terjadinya transaksi.
Tantangan: Ketergantungan dan Hilangnya Sentuhan Manusia
Namun demikian, di balik berbagai kemudahan tersebut, terdapat tantangan yang tidak bisa diabaikan. Salah satu risiko utama adalah ketergantungan yang berlebihan pada teknologi. Banyak pelaku usaha, khususnya UMKM, tergoda untuk menggunakan berbagai alat berbasis AI tanpa benar-benar memahami cara kerjanya atau kesesuaiannya dengan kebutuhan bisnis.
Selain itu, penggunaan AI juga berpotensi mengurangi sentuhan manusia dalam interaksi bisnis. Pemasaran yang sepenuhnya otomatis dapat terasa dingin dan kurang personal jika tidak dikelola dengan baik. Dalam banyak kasus, pelanggan tetap membutuhkan empati, respons yang fleksibel, dan komunikasi yang manusiawi—hal-hal yang belum sepenuhnya dapat digantikan oleh mesin.
Di sinilah pentingnya memahami bahwa AI bukanlah pengganti manusia, melainkan alat untuk memperkuat strategi pemasaran. Peran manusia tetap krusial dalam merancang pesan yang bermakna, memahami konteks sosial dan budaya, serta mengambil keputusan strategis.
Menuju Pemanfaatan AI yang Strategis dan Berkelanjutan
Bagi pelaku UMKM, pemanfaatan AI tidak harus dimulai dari teknologi yang kompleks. Langkah sederhana seperti menggunakan fitur balasan otomatis, memanfaatkan alat bantu untuk pembuatan konten, atau menganalisis data penjualan secara digital sudah dapat memberikan dampak signifikan. Yang terpenting adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan konsistensi dalam menjalankan pemasaran.
Di sisi lain, peran pemerintah dan kalangan akademisi juga menjadi penting dalam memastikan pemanfaatan AI berjalan secara inklusif. Program pelatihan dan pendampingan perlu diarahkan tidak hanya pada pengenalan teknologi, tetapi juga pada pemahaman strategis tentang bagaimana AI dapat diintegrasikan ke dalam proses bisnis.
Transformasi yang dibawa oleh AI juga memiliki implikasi yang lebih luas terhadap dunia kerja dan persaingan bisnis. Pada akhirnya, AI memang mampu mengubah wajah digital marketing, tetapi masa depan pemasaran tetap bergantung pada bagaimana manusia memanfaatkannya secara bijak, etis, dan berorientasi pada keberlanjutan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
