Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Universitas Pamulang

Karyawan Bertahan atau Pergi? Strategi SDM di Tengah Gelombang Quiet Quitting

Bisnis | 2026-05-01 14:02:03

Oleh: Jenny Canada

Sumber: Pixabay

Fenomena quiet quitting menjadi sinyal baru dalam dunia kerja: karyawan tidak benar-benar resign, tetapi secara perlahan “menarik diri” dari pekerjaannya. Mereka tetap hadir, namun hanya bekerja sesuai batas minimum tanpa keterlibatan lebih. Fenomena ini bukan sekadar tren, melainkan cerminan adanya masalah dalam hubungan antara karyawan dan organisasi.

Di tengah perubahan pola kerja dan meningkatnya kesadaran akan keseimbangan hidup, banyak karyawan—terutama generasi muda—mulai menolak budaya kerja berlebihan. Mereka memilih bekerja secukupnya sebagai bentuk respons terhadap tekanan kerja yang dianggap tidak sehat. Kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran nilai dalam dunia kerja modern.

Bagi perusahaan, fenomena ini tentu menjadi tantangan serius. Quiet quitting dapat menurunkan produktivitas, menghambat inovasi, hingga meningkatkan risiko turnover karyawan. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat melemahkan daya saing organisasi secara keseluruhan.

Jika ditelusuri lebih dalam, akar masalahnya bukan semata pada sikap karyawan, tetapi pada sistem kerja yang belum mampu menciptakan keterlibatan (engagement). Kurangnya apresiasi, beban kerja yang tidak seimbang, serta minimnya ruang berkembang membuat karyawan kehilangan motivasi dan makna dalam pekerjaannya.

Selain itu, faktor kepemimpinan juga berperan penting. Komunikasi yang tidak efektif, kurangnya empati dari atasan, serta hubungan kerja yang kaku dapat mempercepat munculnya disengagement. Dalam kondisi seperti ini, quiet quitting menjadi bentuk protes pasif yang sulit dideteksi.

Melihat fenomena ini, jelas bahwa pendekatan manajemen SDM konvensional tidak lagi cukup. Perusahaan perlu beralih ke pendekatan yang lebih berpusat pada manusia (human-centered), dengan memperhatikan kebutuhan dan kesejahteraan karyawan.

Solusi yang dapat diterapkan adalah membangun sistem kerja yang lebih adil dan transparan, memberikan apresiasi yang layak, serta menciptakan lingkungan kerja yang mendukung keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Selain itu, kepemimpinan perlu bertransformasi menjadi lebih empatik, terbuka, dan komunikatif.

Pada akhirnya, pertanyaan “karyawan bertahan atau pergi” bukan hanya tentang pilihan individu, tetapi tentang bagaimana organisasi mampu menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan bermakna. Tanpa perubahan yang nyata, quiet quitting bukan sekadar tren, melainkan ancaman serius bagi masa depan perusahaan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image