Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Roma Kyo Kae Saniro

Rasa yang Dipertaruhkan: Warisan, Ambisi, dan Konflik dalam Series Netflix Luka, Makan, Cinta (2026)

Kuliner | 2026-04-30 08:48:06

oleh Roma Kyo Kae Saniro

dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

 

Ilustrasi Poster Series Netflix Luka, Makan, Cinta (2026). Sumber: gambar dibantu AI

Manusia tidak pernah dapat dipisahkan dari makanan karena makanan bukan hanya kebutuhan biologis, melainkan juga medium kebudayaan yang sarat makna simbolik, emosional, dan sosial. Dalam ranah sastra dan seni, khususnya sinematografi, makanan sering dihadirkan sebagai “teks” yang dapat dibaca. Teks menyimpan narasi tentang identitas, relasi, hingga konflik. Di Indonesia, kecenderungan ini tampak jelas dalam sejumlah film dan serial yang menjadikan kuliner sebagai pusat cerita. Misalnya, Tabula Rasa menampilkan masakan Minangkabau bukan sekadar hidangan, tetapi sebagai jembatan emosional yang menghubungkan individu dengan keluarga dan rasa kehilangan; sementara Aruna & Lidahnya mengonstruksi perjalanan kuliner sebagai perjalanan batin, di mana eksplorasi rasa berkelindan dengan dinamika persahabatan dan cinta. Dalam Madre, roti dan biang ragi menjadi simbol warisan dan kontinuitas tradisi, sedangkan Filosofi Kopi mengangkat kopi sebagai representasi idealisme, dedikasi, dan pencarian makna hidup. Dengan demikian, makanan dalam karya-karya ini berfungsi sebagai perangkat naratif yang memperkaya dimensi cerita, bukan sekadar elemen visual pelengkap.

Lebih jauh, film-film seperti Rahasia Rasa yang terinspirasi dari warisan kuliner dalam buku resep Mustika Rasa, memperlihatkan bagaimana gastronomi dapat menjadi arena negosiasi antara tradisi dan modernitas dalam industri kuliner kontemporer. Sementara itu, Koki-Koki Cilik menghadirkan dapur sebagai ruang pembelajaran nilai kerja sama, disiplin, dan kepercayaan diri bahkan sejak usia dini, dan The Wedding & Bebek Betutu menempatkan makanan sebagai pusat ritus sosial, khususnya dalam konteks perayaan dan budaya komunal. Keseluruhan karya ini menunjukkan bahwa gastronomi dalam sinema Indonesia tidak hanya merepresentasikan kekayaan kuliner, tetapi juga membentuk medan konflik dan refleksi sosial, yaitu antara warisan dan inovasi, antara nilai keluarga dan tuntutan pasar, serta antara identitas lokal dan arus globalisasi. Dengan demikian, makanan hadir sebagai medium kultural yang kompleks. Lebih jauh, makanan tidak hanya mengenyangkan tubuh, tetapi juga mengartikulasikan pengalaman manusia dalam lapisan estetika, emosional, dan ideologis.

Karya lain yang memperkuat kecenderungan gastronomi sebagai pusat narasi dalam sinema Indonesia adalah serial terbaru Netflix berjudul Luka, Makan, Cinta yang tayang pada 15 April 2026 dan disutradarai oleh Teddy Soeriaatmadja. Serial ini dibintangi oleh Mawar de Jongh dan Deva Mahenra, serta mengisahkan rivalitas dua koki di restoran Umah Rasa yang berkembang menjadi relasi asmara dengan latar konflik keluarga. Tokoh Luka digambarkan sebagai anak pemilik restoran yang berjuang mempertahankan usaha ibunya di tengah krisis: sang ibu menderita kanker dan kehilangan kemampuan mengecap rasa, yang selama ini menjadi fondasi kualitas kuliner restoran tersebut. Namun, alih-alih mewariskan kepemimpinan kepada Luka, pengelolaan restoran justru diberikan kepada koki lain, memicu luka batin, rasa tidak diakui, dan ambisi untuk membuktikan diri. Ketika akhirnya Luka memperoleh posisi sebagai head chef, keberhasilan itu justru berujung pada kegagalan, restoran bangkrut, dan ia harus menanggung beban ekonomi akibat biaya pengobatan ibunya. Narasi ini memperlihatkan bahwa dapur bukan sekadar ruang produksi makanan, melainkan ruang dramatik yang menyimpan konflik psikologis, relasi kekuasaan, dan pertaruhan identitas.

Dalam perspektif gastronomi dan budaya, serial ini menegaskan bahwa praktik kuliner adalah medan pertemuan antara warisan dan profesionalisme modern. Restoran Umah Rasa tidak hanya merepresentasikan bisnis keluarga, tetapi juga simbol kontinuitas tradisi yang terancam ketika otoritas rasa yang sebelumnya dimiliki sang ibu dan mengalami keruntuhan.

Dalam serial Luka, Makan, Cinta, restoran Umah Rasa dapat dibaca sebagai representasi warisan kuliner keluarga yang melampaui fungsi ekonomi semata. Resep-resep yang diwariskan di dalamnya tidak sekadar kumpulan instruksi teknis, tetapi sebuah akumulasi pengalaman panjang yang terbangun dari praktik memasak sehari-hari, intuisi rasa, serta interaksi sosial yang berulang. Dalam perspektif gastronomi budaya, resep semacam ini menyimpan memori kolektif. Resep ini mengingatkan pada masa lalu, pada relasi keluarga, bahkan pada identitas komunitas tertentu. Lebih jauh, makanan yang dihasilkan bukan hanya objek konsumsi, tetapi juga medium yang mengartikulasikan identitas kultural. Dalam konteks ini, “rasa” tidak bisa direduksi menjadi persoalan lidah semata. Rasa merupakan bentuk pengetahuan embodied, yakni pengetahuan yang hidup dalam tubuh dan terinternalisasi melalui pengalaman, kebiasaan, dan ingatan sensorik. Seorang koki seperti ibu Luka tidak sekadar “mengikuti resep”, tetapi “menjadi” resep itu sendiri karena tubuhnya telah menyatu dengan proses penciptaan rasa. Ketika praktik ini berlangsung secara turun-temurun, dapur menjadi ruang pewarisan yang bersifat organik, tidak tertulis, dan sangat bergantung pada kedekatan emosional serta keterlibatan langsung.

Namun, krisis muncul ketika sang ibu kehilangan kemampuan mengecap akibat penyakit, yang secara simbolik menandai terputusnya rantai pengetahuan embodied tersebut. Kehilangan ini bukan hanya persoalan biologis, tetapi juga epistemologis: otoritas dalam menentukan “rasa yang benar” menjadi goyah, bahkan hilang. Dalam situasi ini, warisan yang sebelumnya stabil berubah menjadi problematis, siapa yang berhak melanjutkan dan atas dasar apa legitimasi itu diberikan? Luka, sebagai anak sekaligus koki yang telah lama terlibat dalam restoran, berada dalam posisi ambigu. Secara genealogis, ia adalah pewaris sah. Namun, secara profesional, ia belum sepenuhnya diakui, terutama ketika dibandingkan dengan chef lain yang dianggap lebih kompeten dalam standar industri modern. Di sinilah tampak bahwa warisan gastronomi tidak diwariskan secara linear atau otomatis, tetapi melalui proses negosiasi dan legitimasi sosial yang melibatkan berbagai faktor, yaitu keahlian teknis, pengakuan institusional, kepercayaan pelanggan, hingga dinamika kekuasaan dalam ruang kerja dapur. Konflik ini menunjukkan bahwa pewarisan kuliner bukan sekadar persoalan “siapa anak siapa”, tetapi juga “siapa yang diakui mampu” dari sebuah proses yang mempertemukan tradisi dengan standar profesional modern dalam ketegangan yang terus berlangsung.

Pada akhirnya, series ini mengingatkan kita bahwa makanan bukan sekadar apa yang tersaji di atas piring, melainkan apa yang tersimpan di baliknya baik ingatan, luka, harapan, maupun relasi yang terus dinegosiasikan. Dapur bukan hanya ruang produksi, melainkan ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini, antara yang diwariskan dan yang harus diperjuangkan ulang.

Di tengah arus modernitas yang menuntut kecepatan, efisiensi, dan inovasi, series ini mengajak kita untuk berhenti sejenak dan bertanya, apa yang sebenarnya ingin kita pertahankan dari sebuah “rasa”? Apakah ia sekadar standar kualitas, ataukah bagian dari identitas yang lebih dalam? Pada titik inilah gastronomi menemukan maknanya yang paling esensial sebagai ruang di mana manusia tidak hanya mengolah bahan, tetapi juga merawat ingatan dan merundingkan masa depan. Sebab pada akhirnya, seperti yang ditunjukkan Luka, yang paling sulit bukanlah menciptakan rasa baru, melainkan menjaga agar rasa yang lama tetap hidup tanpa kehilangan maknanya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image