Apakah Sastra Indonesia Bisa Mendunia?
Sastra | 2026-04-28 22:19:57
Sastra itu penting sekali. Jika ingin mengetahui negara tertentu, kita harus mencari tau sastra dari negara tersebut. Karya sastra merupakan diplomat masing-masing negara, karena mewakili budaya dan masyarakat negara terkait. Untuk sebuah sastra yang paling penting adalah mempromosikan negaranya terlebih dahulu. Globalisasikan Sastra Indonesia? Perlunya Tokoh-tokoh sastra bertaraf internasional, seperti Pramoedya Ananta Toer, W. S. Rendra, Sutardji, Ahmad Tohari termasuk penerima Nobel asal Asia dari 121 orang pemenangnya.
Potensi internasionalisasi kesusastraan Indonesia merupakan isu yang semakin relevan di tengah arus globalisasi budaya. Sastra tidak lagi dipandang sebagai produk lokal yang terbatas, melainkan sebagai medium representasi identitas bangsa di tingkat global. Dalam konteks ini, sastra Indonesia memiliki peluang besar untuk mendunia karena kekayaan budaya, sejarah, dan pengalaman sosial yang unik. Salah satu aspek penting yang mendukung potensi tersebut adalah penggunaan diksi serta kreativitas dalam pembentukan kata yang menjadi ciri khas karya sastra Indonesia. Menghasilkan karya-karya berkualitas tinggi. Kekuatan utama Indonesia terletak pada kekhasan atau nilai-nilai lokal, budaya, dan pengalaman historis yang unik. Dunia memerlukan keautentikan untuk sebuah karya contohnya, seperti Ronggeng Dukuh Paruk, Bumi Manusia.
Diksi dalam sastra Indonesia memiliki peran yang sangat penting karena tidak hanya menyampaikan makna, tetapi juga membawa sebuah budaya yang mendalam. Kata-kata yang digunakan seringkali merefleksikan nilai-nilai lokal, seperti adat, religi, dan dinamika sosial masyarakat. Hal ini menjadikan karya sastra Indonesia memiliki keautentikan yang tinggi, yang justru menjadi daya tarik utama bagi pembaca internasional. Dunia sastra global cenderung menghargai karya-karya yang mampu menghadirkan perspektif baru dan berbeda, sehingga kekhasan diksi lokal menjadi kekuatan yang tidak dimiliki oleh semua negara. Namun demikian, kekayaan diksi lokal juga menghadirkan tantangan tersendiri, terutama dalam proses penerjemahan. Banyak istilah atau ungkapan yang sulit diterjemahkan secara langsung karena mengandung makna kontekstual dan kultural yang kompleks. Jika penerjemahan dilakukan secara literal, maka makna yang terkandung dalam teks dapat mengalami penyempitan atau bahkan distorsi. Oleh karena itu, kualitas penerjemahan menjadi faktor penentu dalam keberhasilan internasionalisasi sastra Indonesia.
Kreativitas dalam bentuk kata juga menjadi potensi besar dalam membawa sastra Indonesia ke ranah global. Bahasa Indonesia memiliki fleksibilitas morfologis yang memungkinkan penulis untuk menciptakan variasi bentuk kata yang inovatif. Proses afiksasi, reduplikasi, dan permainan struktur kata dapat menghasilkan ekspresi yang unik dan khas. Kreativitas ini tidak hanya memperkaya estetika bahasa, tetapi juga memberikan ruang bagi penulis untuk mengeksplorasi makna secara lebih mendalam.
Eksperimen bahasa yang dilakukan oleh tokoh seperti Sutardji Calzoum Bachri menjadi contoh bagaimana kreativitas bentuk kata dapat menghasilkan karya yang memiliki daya tarik. Sifat lokal merupakan sifat paling mendunia. Gagasan dasar Sutardji adalah kata-kata, yang bukan sekadar sarana untuk menyampaikan pengertian, sebab kata-kata itu sendiri pengertian, dan justru karena itu kata-kata harus bebas dari penjajahan pengertian, dari beban idea. Sutardji memberontak terhadap tradisi pengertian tentang puisi. la ingin menonjolkan segi lain dari puisi yang sarat oleh pikiran, hal tersebut memungkinkan puisinya untuk diapresiasi lintas bahasa.
Pada 2019, Literature Translation Institute of Korea menerbitkan kumpulan terjemahan cerpen Indonesia (Bulan dan Tukang Sulap Berbaju Merah). Terdapat 22 cerpen oleh 10 penulis berhasil mencerminkan kehidupan masyarakat Indonesia dengan sempurna. Soal keluarga, kemerdekaan, agama, dan isme. Walau dibeli dengan buku menggunakan Bahasa Inggris tetapi harus juga dikoreksi untuk kebenarannya. Pentingnya penerjemahan karena tanpa penerjemahan, sastra akan tetap terkurung dalam batas bahasa. Dalam konteks ini, kualitas terjemahan menjadi faktor penentu. Sebuah karya besar dapat kehilangan daya tariknya jika diterjemahkan secara buruk. Sebaliknya, terjemahan yang baik dapat menghidupkan kembali karya tersebut dalam bahasa lain. Hasil terjemahan Indonesia ke dalam Bahasa Korea, yaitu novel Lelaki Harimau, Gadis Kretek. Penerjemahan tidak langsung (melalui bahasa perantara) perlu dihindari, yaitu penggunaan teks asli memungkinkan penerjemahan yang berlandaskan konteks budaya. Terdapat kesalahan di mana banyak yang mengira Pramoedya apakah dari Indonesia atau India.
Dalam konteks internasionalisasi, penerjemahan seperti ini justru menjadi keunggulan karena mampu menembus batas bahasa. Pembaca dari berbagai latar belakang budaya dapat menikmati karya tersebut melalui pengalaman estetika. Hal ini menunjukkan bahwa kreativitas bentuk kata dapat menjadi jembatan yang menghubungkan perbedaan bahasa dan budaya. Dengan kata lain, inovasi dalam penggunaan bahasa dapat memperluas jangkauan apresiasi terhadap sastra Indonesia.
Menerjemahkan Ritme:
- Alih-alih menonjolkan makna setiap kata secara terpisah, penerjemah harus terlebih dahulu memahami rantai proses pemaknaan yang dihasilkan oleh kata-kata tersebut.
- Perhatian perlu diberikan pada dinamika bahasa dalam aktivitas berbahasa, pusaran makna yang digunakan seorang penulis untuk menampilkan subjek penulisan.
- Koherensi logis teks sumber serta kemungkinan adanya kesalahan penulisan (typo) harus diperhatikan dengan cermat.
- Pemahaman yang mendalam terhadap teks sumber merupakan kunci utama.
Berdasarkan fakta lapangan sebagai mahasiswa, minat mahasiswa terhadap sastra Indonesia sebenarnya masih cukup tinggi di lingkungan akademik, tetapi belum sepenuhnya diarahkan ke perspektif global. Banyak mahasiswa yang masih mempelajari sastra sebatas untuk memenuhi tuntutan akademik, bukan sebagai bagian dari potensi internasionalisasi budaya. Selain itu, akses terhadap karya sastra Indonesia yang telah diterjemahkan ke bahasa asing juga masih terbatas, sehingga mahasiswa kurang terekspos pada bagaimana karya Indonesia diterima di luar negeri. kemampuan mahasiswa dalam memahami dan memproduksi karya sastra dengan diksi yang kuat masih perlu ditingkatkan. Dalam praktiknya, banyak mahasiswa cenderung menggunakan bahasa yang sederhana dan kurang eksploratif. Kurangnya pelatihan dalam bidang penerjemahan sastra menjadi salah satu kendala utama di tingkat mahasiswa. Tidak banyak program atau mata kuliah yang secara khusus membahas teknik penerjemahan sastra secara mendalam. Akibatnya, mahasiswa belum memiliki kesiapan untuk berperan sebagai penerjemah yang dapat menjembatani karya sastra Indonesia ke dunia internasional. Padahal, keberadaan penerjemah yang kompeten sangat dibutuhkan dalam proses internasionalisasi seperti ini.
Potensi internasionalisasi sastra Indonesia sebenarnya sangat besar, tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal. Salah satu kendala utama adalah kurangnya perhatian terhadap pengembangan ekosistem penerjemahan yang profesional dan berkelanjutan. Jika dibandingkan dengan negara lain, seperti Korea Selatan yang mempromosikan sastranya melalui lembaga khusus, Indonesia masih tertinggal dalam hal dukungan seperti hal tersebut. Padahal, dengan strategi yang tepat, sastra Indonesia dapat menjadi salah satu kekuatan budaya yang berpengaruh di tingkat global. Tidak kalah penting adalah memperkuat basis pembaca di dalam negeri. Tidak realistis berharap pembaca asing tertarik pada karya yang tidak dibaca oleh masyarakatnya sendiri. Oleh karena itu, budaya membaca harus terus ditumbuhkan, dan karya sastra harus mendapat tempat yang layak di tengah masyarakat Indonesia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
