Cara Pencegahan Bencana Alam Gempa Bumi
Edukasi | 2026-04-26 23:11:54
Dalam manajemen risiko bencana, terdapat perbedaan mendasar antara pencegahan (prevention) dan mitigasi (pengurangan risiko). Pencegahan bertujuan menghentikan terjadinya bencana sepenuhnya, seperti memadamkan kebakaran hutan melalui pengendalian sumber api. Namun, tidak semua bencana dapat dicegah, terutama yang berasal dari proses alam. Gempa bumi merupakan salah satu contoh ancaman yang tidak dapat dicegah, sehingga pendekatan yang digunakan lebih berfokus pada pengurangan dampak yang ditimbulkan.
Gempa bumi terjadi akibat aktivitas pergerakan lempeng tektonik di dalam kerak bumi. Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng besar dunia, yaitu Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik, membentuk Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire yang menyumbang 90% gempa dunia.
BMKG mencatat sebanyak 4.570 kejadian gempa bumi terjadi di seluruh wilayah Indonesia selama Februari 2026. Dari jumlah tersebut, 14 gempa memiliki kekuatan magnitudo lebih dari atau sama dengan 5 (M≥5), sementara 4.556 gempa lainnya berkekuatan di bawah magnitudo 5 (M5). Meski jumlahnya cukup besar, tidak semua gempa dirasakan oleh masyarakat. BMKG mencatat 65 gempa di antaranya dirasakan oleh warga di beberapa wilayah. Menurut BMKG, tingginya aktivitas gempa di Indonesia merupakan hal yang wajar secara geologi. Hal itu disebabkan karena Indonesia berada di kawasan yang sangat aktif secara tektonik.
Pergerakan lempeng ini merupakan proses alami yang tidak dapat dihentikan oleh manusia. Selain itu, hingga saat ini belum tersedia teknologi yang mampu memprediksi secara tepat waktu, lokasi, dan kekuatan gempa sebelum terjadi, prediksi hanya bersifat probabilistik berdasarkan data seismik historis. Energi yang dilepaskan dalam peristiwa gempa juga sangat besar. Contohnya, gempa Palu 2018 magnitudo 7,5 melepaskan energi hingga 475 kiloton TNT, menyebabkan 4.340 korban jiwa. Oleh karena itu, upaya pencegahan dalam arti menghentikan gempa bumi tidak dapat dilakukan.
BNPB menunjukkan 60% korban tewas bukan dari guncangan langsung, melainkan runtuhan bangunan, kepanikan, dan ketidaksiapan. Upaya yang dapat dilakukan adalah mitigasi, yaitu mengurangi risiko korban jiwa dan kerusakan akibat gempa. Mitigasi dilakukan melalui berbagai cara, seperti Membangun fondasi kuat dan struktur fleksibel, seperti gedung bergoyang ala Jepang, adalah kunci mengurangi kerusakan fisik. Renovasi bangunan lama dengan material berkualitas serta pengikatan perabotan pada dinding mencegah runtuhnya objek saat goncangan. Regulasi ketat terhadap desain tahan gempa di wilayah rawan memastikan infrastruktur seperti jembatan dan gedung tinggi lebih aman.
Kemudian diperlukan adanya Latihan rutin seperti "drop, cover, hold on" (merunduk, berlindung, dan bertahan) beserta pemahaman jalur evakuasi meningkatkan respons cepat individu. Menyiapkan obat-obatan, alat pemadam kebakaran, dan pakaian ganti di rumah atau tempat kerja juga krusial. Sistem peringatan dini berbasis sensor seismik memberikan waktu evakuasi singkat, terutama di daerah pesisir rawan tsunami.
Selain itu, perlu adanya edukasi dan update terkait gempa bumi yang bisa dilihat melalui Media sosial, Website, Maupun berita televisi guna memberikan pemahaman dan kesiagaan mengenai gempa bumi sebelum terjadi.
Pencegahan juga dapat dilakukan dengan bantuan psikologis. Bagi korban yang pernah terdampak gempa bumi, pastinya akan mengalami trauma yang cukup hebat. Pencegahan dampak psikologis gempa bumi pada korban yang pernah mengalami trauma difokuskan pada persiapan mental untuk mengurangi kecemasan berulang dan PTSD.
(PTSD) Post-traumatic Stress Disorder merupakan salah satu jenis gangguan yang paling banyak dialami oleh korban bencana. Sehingga sebulan pasca bencana hal yang paling tepat dilakukan adalah pemberian edukasi pada seluruh penyintas termasuk para masyarakat yang bekerja dalam tahap pemulihan untuk memahami konsep trauma healing yang sesungguhnya, pelabelan psikologis yang tidak tepat pada penyintas saat ini akan memberikan dampak negative pada para penyintas dalam proses pemulihan. Untuk itu pendampingan psikososial merupakan hal yang tepat dilakukan pada para penyintas untuk membantu melewati masa-masa krisis, istilah Psychological First Aid (PFA) atau dapat dikatakan sebagai pertolongan pertama psikologis.
Ada banyak cara yang bisa ditempuh dalam melakukan trauma healing. Pada anak-anak, trauma healing dapat dilakukan dengan beberapa metode, pertama melalui play therapy, lewat metode ini anak-anak diajak untukmengatasi traumanya melaluimedia permainan. Dengan mengajak mereka bermain bisa membantu mengalihkan fokus anak dari situasi tidak kondusif menjadi menerima situasi yang sedang ia hadapi saat ini.
Untuk metode lainnya, bisa dilakukan lewat tari. Dengan tari, anak- anak dapat mengekspresikan emosi yang ada di dalam dirinya. Sedangkan pada orang dewasa, trauma healing dapat dilakukan dengan cara konseling. Trauma healing pada orang dewasa biasanya lebih mudah dilakukan, karena mereka bisa dengan mudah mengekspresikan apa yang dirasakannya secara verbal. Dengan cara konseling, trauma yang dialami oleh korban diharapkan bisa sedikit berkurang.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
