Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rita Maliza

Mengapa Obat yang Sama Tidak Bekerja untuk Semua Orang?

Riset dan Teknologi | 2026-04-25 23:48:22

Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa obat yang manjur untuk teman atau saudara Anda justru tidak bekerja saat Anda meminumnya? Atau mengapa dua orang dengan diagnosis penyakit yang sama bisa memiliki perjalanan penyakit yang sangat berbeda?

Selama puluhan tahun, dunia medis berjalan dengan satu logika sederhana: pasien dengan diagnosis yang sama akan menerima terapi yang sama. Pendekatan ini praktis dan mudah diterapkan, serta menjadi fondasi sistem kesehatan modern. Namun perlahan, batasnya mulai terlihat. Tubuh manusia ternyata jauh lebih kompleks dari yang selama ini kita bayangkan.

Pergeseran besar kini terjadi di ruang-ruang konsultasi modern. Kesehatan tidak lagi dipahami sebagai kondisi umum yang bisa dipetakan secara rata, tetapi sebagai sesuatu yang sangat personal, seunik sidik jari. Setiap individu membawa kombinasi gen, protein, dan respons biologis yang membentuk cara tubuhnya bereaksi terhadap penyakit dan terapi.

Pendekatan ini dikenal sebagai precision medicine, atau pengobatan presisi. Di balik perubahan tersebut, ada satu konsep kunci yang bekerja diam-diam, yaitu biomarker. Biomarker adalah penanda biologis yang dapat diukur, mulai dari kadar protein dalam darah, ekspresi gen, hingga pola metabolisme tertentu. Ia memberi petunjuk tentang apa yang sedang terjadi di dalam tubuh, bahkan dalam beberapa kasus sebelum gejala muncul.

Ilustrasi tenaga kesehatan yang sedang menganalisis sampel di laboratorium. Photo by Julia Koblitz on Unsplash

Jika selama ini diagnosis bertumpu pada gejala yang tampak di permukaan, biomarker membuka kemungkinan untuk memahami kondisi tubuh secara lebih dalam, lebih awal, dan lebih spesifik. Untuk melihat dampak nyata pendekatan ini, kita bisa melihat kanker payudara. Dahulu, penyakit ini sering dianggap sebagai satu entitas dengan pendekatan terapi yang relatif seragam. Kini, pemahaman tersebut berubah. Penelitian molekuler menunjukkan bahwa kanker payudara terdiri dari beberapa subtipe utama, seperti HR positif, HER2 positif, dan triple negative, yang masing-masing memiliki karakter biologis berbeda dan membutuhkan terapi berbeda.

Sekitar 15 hingga 20 persen pasien memiliki subtipe HER2 positif, yang dahulu dikenal lebih agresif. Namun sejak hadirnya terapi target seperti trastuzumab, harapan hidup pasien meningkat secara signifikan. Sebaliknya, terapi yang sama tidak efektif pada pasien dengan HER2 negatif. Dua pasien dengan diagnosis yang sama dapat memiliki mekanisme penyakit yang sangat berbeda, sehingga dalam banyak kasus pendekatan terapi yang seragam menjadi kurang optimal.

Perbedaan ini sering kali dipengaruhi oleh variasi kecil dalam gen yang dikenal sebagai single nucleotide polymorphisms atau SNP. Secara individual, variasi ini tampak sederhana, tetapi dalam kombinasi tertentu dapat memengaruhi risiko penyakit, progresi, serta respons terhadap terapi. Di sinilah “peta biologi” seseorang mulai terbentuk, yaitu gabungan informasi biologis yang saling berinteraksi dan membantu menjelaskan kerentanan serta respons tubuh terhadap pengobatan.

Pengobatan presisi sering dianggap masih jauh dari konteks Indonesia. Namun langkah awal sebenarnya sudah dimulai. Pada 2022, Kementerian Kesehatan meluncurkan Biomedical Genome Science Initiative atau BGSi sebagai upaya membangun layanan kesehatan berbasis genomik. Inisiatif ini didukung oleh fasilitas biobank dan jaringan rumah sakit yang memungkinkan pengumpulan serta analisis data biologis dalam skala besar. Dari sisi regulasi, Undang-Undang Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023 juga mulai membuka ruang bagi pemanfaatan teknologi genomik.

Ini merupakan sinyal positif, tetapi tantangannya masih besar. Akses terhadap pemeriksaan biomarker dan analisis genetik belum merata, dengan biaya yang relatif tinggi dan keterbatasan fasilitas di banyak daerah. Selain itu, literasi masyarakat juga menjadi tantangan tersendiri. Tidak semua variasi gen berarti penyakit, dan tidak semua hasil tes memberikan jawaban yang pasti. Tanpa pemahaman yang memadai, hasil pemeriksaan justru dapat menimbulkan kecemasan atau rasa aman yang keliru.

Di tengah perubahan ini, peran laboratorium ikut bergeser secara signifikan. Laboratorium tidak lagi sekadar tempat pemeriksaan rutin, tetapi berkembang menjadi pusat produksi dan interpretasi data biologis. Di sinilah biomarker diidentifikasi, divalidasi, dan diterjemahkan menjadi informasi klinis yang bermakna bagi pengambilan keputusan.

Perubahan ini menuntut kompetensi baru. Tenaga laboratorium tidak hanya dituntut menguasai teknik analisis, tetapi juga mampu memahami data, konteks klinis, serta bekerja dalam tim multidisiplin bersama dokter, ahli genetika, dan analis data. Peran mereka pun berkembang, dari pelaksana pemeriksaan menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan medis.

Setiap pemeriksaan genetik menghasilkan data dalam jumlah besar. Jika pendekatan ini diterapkan secara luas, sistem kesehatan akan menghadapi volume data biologis yang sangat besar. Tanpa pengelolaan yang baik, data tersebut berisiko menjadi tidak terstruktur dan sulit dimanfaatkan. Namun jika diintegrasikan secara tepat, misalnya melalui platform digital seperti SatuSehat, data ini dapat menjadi fondasi bagi sistem kesehatan yang lebih prediktif dan preventif.

Di masa depan, bukan tidak mungkin setiap individu memiliki rekam jejak biologis yang terintegrasi sepanjang hidup, tidak hanya riwayat penyakit, tetapi juga profil genetik, biomarker, dan respons terapi yang terus diperbarui. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita akan menuju ke sana, melainkan seberapa siap sistem kesehatan kita menghadapinya.

Apakah kita sudah siap dari sisi infrastruktur, sumber daya manusia, regulasi perlindungan data, dan pemerataan akses? Karena pada akhirnya, kesehatan bukan lagi soal mencari obat untuk penyakit tertentu. Ia adalah tentang menemukan terapi yang tepat untuk individu yang tepat, pada waktu yang tepat. Dan di era itu, setiap orang benar-benar memiliki “peta biologi” sendiri.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image