Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dhevy Hakim

Lebaran di Tengah Banyaknya Keluarga yang Terlilit Utang

Agama | 2026-04-20 08:08:59

Lebaran di Tengah Banyaknya Keluarga yang Terlilit Utang

Oleh: Dhevy Hakim

Momen hari raya Idulfitri sudah menjadi tradisi di Indonesia dijadikan momentum untuk silaturahmi ke sanak famili, mudik, beli baju baru, makan-makan dll. Sayangnya tradisi yang penuh kegembiraan ini belakangan justru menjadi beban ekonomi yang semakin berat bagi sebagian besar keluarga. Fenomena peningkatan utang yang terjadi menjelang dan setelah Lebaran bukan lagi hal yang baru, tetapi semakin menjadi masalah struktural yang membutuhkan solusi mendasar.

Sebagaimana tergambar dalam laporan dari inilah.com (14/03/2026), daya tahan ekonomi rumah tangga Indonesia ternyata sangat rapuh ketika menghadapi kenaikan harga barang, tekanan ongkos mobilitas, fluktuasi kurs, serta keterbatasan jaring pengaman sosial yang belum tepat sasaran.

Badan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memproyeksikan bahwa permintaan pinjaman dari berbagai sektor seperti pinjaman online (pinjol), multifinance, hingga gadai akan mengalami kenaikan signifikan selama periode Ramadan dan Idulfitri. Proyeksi ini selaras dengan realitas yang terjadi di lapangan, di mana banyak keluarga terpaksa menguras tabungan bahkan mengambil utang untuk memenuhi kebutuhan selama momen tersebut. Seperti yang dikemukakan oleh ekonom UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, inflasi tahunan Februari 2026 mencapai 4,76 persen – jauh di atas target yang ditetapkan Bank Indonesia – sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada 10 Maret 2026 menyentuh level Rp16.879 per dolar. Dua indikator ekonomi ini menjadi bukti bahwa beban hidup masyarakat sedang meningkat, sementara kemampuan daya beli justru menipis.

Masalah yang dihadapi bukanlah sekadar kenaikan harga satu atau dua komoditas saja, melainkan penumpukan tekanan yang datang secara bersamaan. Harga pangan yang terus melambung, ongkos mudik yang tetap berat meskipun ada program diskon dari pemerintah, THR yang terasa menyusut akibat potongan pajak, serta bantuan sosial yang masih mengalami kebocoran, membuat kelas menengah bahkan kalangan bawah semakin bergantung pada utang jangka pendek. Kebijakan diskon yang dicanangkan pemerintah, seperti potongan harga tiket pesawat hingga diskon tol di beberapa ruas utama, memang secara teoritis tampak progresif. Namun, manfaatnya terasa terbatas karena hanya bisa dinikmati oleh mereka yang memiliki fleksibilitas waktu, akses informasi memadai, dan kesempatan untuk membeli pada periode tertentu. Bagi buruh pabrik, pekerja harian, dan mereka yang terikat jadwal kerja ketat, kebijakan tersebut lebih seperti kabar baik di podium daripada solusi yang memberikan bantuan nyata di lapangan.

Digitalisasi ala Kapitalisme yang Memperparah Keterpurukan

Salah satu akar masalah dari beban utang yang melanda keluarga Indonesia di momen Lebaran adalah kapitalisasi momen kemakmuran yang telah menjadikannya sebagai ajang komersialisasi semata. Budaya konsumtif yang semakin mengakar membuat masyarakat merasa terpaksa untuk memenuhi standar sosial yang telah dibangun oleh sistem kapitalis. Momen yang seharusnya menjadi waktu untuk berbagi dan mempererat tali silaturahmi justru berubah menjadi kompetisi dalam hal memberikan hadiah, menyediakan hidangan mewah, hingga melakukan perjalanan mudik yang semakin mahal. Tekanan sosial ini menjadi pemicu utama mengapa banyak keluarga rela mengambil utang meskipun mereka tahu bahwa itu akan menjadi beban di masa depan.

Di sisi lain, era digitalisasi yang seharusnya membawa kemudahan dan kemakmuran justru memberikan alternatif solusi utang yang semakin membahayakan. Kemudahan akses terhadap pinjol dan berbagai bentuk kredit online membuat masyarakat semakin mudah untuk mengambil utang tanpa mempertimbangkan kemampuan untuk membayarnya. Akibatnya, perputaran ekonomi rakyat yang seharusnya didasarkan pada produksi dan konsumsi yang sehat, justru difasilitasi oleh utang dengan bunga yang tidak sedikit. Kondisi ini diperparah dengan pertumbuhan upah yang tidak sebanding dengan kenaikan harga barang dan jasa. Akhirnya, banyak keluarga yang terjebak dalam lingkaran utang ribawi, di mana sebagian besar pendapatan mereka harus dialokasikan untuk membayar cicilan dan bunga utang, bukan untuk memenuhi kebutuhan dasar maupun investasi masa depan.

Sistem Ekonomi Islam sebagai Jawaban bagi Kesejahteraan Keluarga

Kondisi ekonomi yang semakin memprihatinkan ini menunjukkan bahwa keluarga Indonesia membutuhkan sistem ekonomi yang mampu memberikan kesejahteraan secara nyata, bukan sekadar narasi ekonomi inklusif yang belum mampu menyentuh akar masalah. Sistem ekonomi yang dibutuhkan adalah sistem yang mampu membangun keseimbangan dan distribusi kekayaan yang merata, di mana manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati oleh pemilik kapital saja.

Selain itu, diperlukan sistem ekonomi yang stabil, baik dari sisi nilai mata uang maupun stabilitas harga barang dan jasa, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir akan fluktuasi yang dapat merusak perencanaan keuangan keluarga. Selain itu, yang paling penting adalah kebutuhan akan sistem ekonomi yang mampu menyediakan lapangan kerja yang layak dengan upah yang kompetitif, bukan hanya memfasilitasi kemudahan untuk mengambil utang. Hanya dengan memiliki pendapatan yang stabil dan layak, keluarga akan mampu memenuhi kebutuhan mereka tanpa harus bergantung pada utang. Dan dalam konteks ini, sistem ekonomi Islam muncul sebagai solusi yang potensial untuk menjawab berbagai permasalahan ekonomi yang ada.

Sistem ekonomi Islam tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi semata, tetapi juga terkait erat dengan sistem politik Islam. Hal ini karena untuk dapat menerapkan sistem ekonomi Islam secara menyeluruh, diperlukan kekuatan politik yang kuat untuk melepaskan ketergantungan negara dari sistem globalisasi dan liberalisasi perdagangan yang seringkali merugikan negara berkembang seperti Indonesia. Dengan sistem politik yang mendukung, negara akan mampu mengimplementasikan prinsip-prinsip ekonomi Islam seperti penghapusan bunga (riba), pengelolaan kekayaan yang adil, serta pemberdayaan ekonomi rakyat melalui berbagai instrumen seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf.

Selain itu, sistem ekonomi Islam juga akan mengembalikan makna sebenarnya dari momen Ramadan dan Idulfitri sesuai dengan pandangan syariat Islam. Kedua momen suci tersebut tidak hanya menjadi waktu untuk ibadah pada tataran individu, tetapi juga sebagai sarana untuk mewujudkan ketakwaan pada tataran sistem negara. Melalui program-program ekonomi yang berbasis pada prinsip-prinsip keadilan dan kebersamaan, sistem Islam akan menjadikan Lebaran sebagai momen kemakmuran yang dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya menjadi beban ekonomi yang membuat banyak keluarga terlilit utang.

Wallahu a’lam.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image