Ibadah Qurban dalam Kehidupan Sosial Manusia
Agama | 2026-04-18 21:42:20
By. Dr.Idmar Wijaya,S.Ag.,M.Hum
Dosen Prodi KPI FAI UM Palembang dan WK PDM Palembang
Sekarang kita sudah berada pada bulan Dzulqa’dah 1447 H artinya tidak akan lama lagi kita akan memasuki bulan Dzulhijjah atau yang sering dikenal bulan haji dan juga ibadah qurban.Peristiwa haji dan qurban ada tiga manusia pelakunya yaitu Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar dan Nabi Ismail AS. Ketiga hamba Allah tersebut sampai kapanpn menjadi catatan Sejarah ummat Islam, baik itu persoalan ibadah hai maupun ibadah qurban.
Pada kesempatan ini, marilah kita bersama-sama merenungi makna qurban dalam kehidupan sosial kemanusiaan. Ibadah qurban bukan hanya sekadar penyembelihan hewan, namun memiliki pesan spiritual dan sosial yang sangat mendalam.
Dalil al-Qur’an perintah Qurban
1. Surah Al-Kautsar (108:2)
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
"Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah."
2. Surah Al-Hajj (22:37)
لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمۡ لِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُحۡسِنِينَ
"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya..."
«هَذَا عَنِّي وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي»
"Ini adalah (qurban) dariku dan dari umatku yang belum berqurban." (HR. Abu Dawud)
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ:
ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى وَكَبَّرَ، وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا.
رواه البخاري ومسلم
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkurban dengan dua ekor domba jantan yang berwarna putih campur hitam dan bertanduk. Beliau menyembelihnya dengan tangan beliau sendiri, beliau membaca basmalah dan bertakbir, dan meletakkan kaki beliau di atas sisi tubuh hewan tersebut (saat menyembelihnya).(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ sendiri melaksanakan qurban dengan penuh kesungguhan dan tata cara yang syar'i.
1. Qurban sebagai Wujud Ketakwaan
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 37:
لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡۚ
"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kalian-lah yang dapat mencapainya..."
Ayat ini menegaskan bahwa hakikat qurban bukan pada hewan atau jumlahnya, tetapi pada keikhlasan dan ketundukan hati kita kepada Allah. Ini mengajarkan kita untuk membangun jiwa yang rela berkorban demi kebaikan yang lebih besar.
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ(3)
Artinya: "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus." (QS Al-Kautsar Ayat 1-3)
3.Ancaman orang tidak mau berqurban padahal ia mampu
مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا
“Barangsiapa yang memiliki kelapangan untuk berqurban namun dia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami” (HR Ibnu Majah, Ahmad dan Al Hakim)
Hadits ini bukan berarti mengkafirkan orang yang tidak berqurban padahal dia mampu. Tidak ada ulama yang berpendapat seperti itu. Yang ada, sebagian ulama berpendapat bahwa hadits ini menunjukkan bahwa orang yang tidak berqurban padahal ia mampu, maka ia berdosa. Sebagian yang lain menjelaskan hadits ini menunjukkan bahwa orang yang tidak berqurban padahal ia mampu, maka ia dilarang mendatangi tempat shalat Idul Adha Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Baik makna pertama maupun makna kedua, hadits tersebut menunjukkan betapa hinanya orang yang mampu berqurban namun ia tidak mau berqurban. Hina dalam pandangan Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Di zaman sekarang, terkadang ada orang yang wisatanya ke luar negeri, uangnya banyak, hartanya berlimpah, beli apapun tinggal tunjuk, tapi begitu tiba idul adha, ia tidak berqurban. Betapa terhinanya ia di hadapan Allah.
4.Qurban sebagai Simbol Kepedulian Sosial
Dalam pelaksanaannya, daging qurban dibagikan kepada mereka yang membutuhkan. Ini menciptakan rasa kebersamaan, empati, dan keadilan sosial. Di saat sebagian orang menikmati makanan berlimpah, masih banyak saudara kita yang kesulitan mendapatkan protein hewani. Maka, qurban menjadi jalan untuk menyambung tali persaudaraan dan mempererat ukhuwah islamiyah. Maka qurban sebagai simbol sosialiti sebagai berikut:
a) Simbol Solidaritas Sosial
Qurban adalah bentuk nyata solidaritas antarumat manusia. Daging qurban dibagikan kepada yang membutuhkan, tanpa membedakan status sosial, sehingga mempererat ikatan sosial dan mengurangi kesenjangan.
b) Representasi Kepedulian dan Empati
Melalui qurban, seseorang menunjukkan empatinya terhadap sesama, terutama kaum dhuafa. Ini menjadi simbol bahwa agama tidak hanya mengatur hubungan dengan Tuhan, tetapi juga dengan manusia
c) Penyama Status Sosial
Pembagian daging qurban kepada semua kalangan, termasuk yang miskin dan kaya, menandakan bahwa dalam ibadah, semua manusia memiliki kedudukan yang sama di hadapan Tuhan—menciptakan rasa kesetaraan.
d) Pelatihan Sosial dan Spiritual
Qurban juga melatih keikhlasan memberi, pengorbanan untuk kebaikan bersama, dan kepekaan sosial—nilai-nilai penting dalam kehidupan bermasyarakat.
4. Belajar dari Keteladanan Nabi Ibrahim dan Ismail
Peristiwa qurban berakar dari kisah agung Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail AS. Ketika Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih anaknya, tanpa ragu keduanya tunduk dan patuh. Ini adalah pelajaran tentang keikhlasan, pengorbanan, dan cinta kepada Allah di atas segalanya. Dalam konteks sosial, kita diajarkan untuk siap berkorban demi nilai-nilai kemanusiaan dan kebaikan bersama, walaupun itu berat.
4. Qurban dalam Konteks Kekinian
Di tengah kondisi sosial hari ini — kemiskinan, ketimpangan, bencana kemanusiaan — makna qurban harus diperluas. Bukan hanya qurban fisik berupa hewan, tetapi juga pengorbanan waktu, tenaga, dan harta untuk membantu sesama. Membantu tetangga yang kelaparan, menyantuni anak yatim, dan peduli pada kaum dhuafa adalah bagian dari semangat qurban itu sendiri.
Penutup
Marilah kita jadikan ibadah qurban sebagai momentum memperkuat iman, menumbuhkan kepekaan sosial, dan menebarkan kasih sayang di tengah masyarakat. Karena sejatinya, nilai qurban adalah mengikis egoisme, menumbuhkan empati, dan membangun solidaritas antar manusia.
Semoga Allah menerima amal qurban kita, dan menjadikan kita pribadi yang dermawan, peduli, dan bertakwa. Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
