Ketika Makna Hidup Tergantikan Ilusi
Pendidikan | 2026-04-16 09:22:27
Di tengah harapan besar yang disematkan pada generasi muda, kabar tentang pelajar yang terlibat dalam peredaran narkoba terasa seperti ironi yang menyayat. Mereka yang seharusnya tumbuh sebagai penjaga masa depan justru terseret dalam arus yang mengaburkan arah hidupnya. Peristiwa di Bima, Nusa Tenggara Barat, ketika seorang pelajar diamankan bersama rekannya karena diduga terlibat peredaran sabu.
Kasus di Kendari yang melibatkan remaja berusia 19 tahun dengan puluhan paket narkotika, bukan sekadar catatan kriminal, melainkan potret kegelisahan zaman.
Fenomena ini mengajak kita merenung lebih dalam: apa yang sebenarnya hilang dari kehidupan remaja hari ini? Mengapa pilihan-pilihan berisiko tinggi justru tampak “menarik” bagi sebagian mereka?
Pada fase remaja, manusia berada pada titik paling dinamis dalam pencarian jati diri. Mereka menyerap realitas, mempertanyakan makna, dan berusaha menemukan tempatnya di dunia. Namun, ketika arah hidup tidak dipandu oleh pemahaman yang utuh, ruang kosong itu mudah diisi oleh hal-hal yang bersifat semu. Apa yang tampak menyenangkan belum tentu menenangkan. Apa yang terlihat memberi kebebasan belum tentu membawa kebaikan.
Di sinilah letak persoalan mendasarnya: krisis makna hidup. Sebagian remaja tumbuh dalam lingkungan yang menempatkan kebahagiaan sebatas capaian materi dan kesenangan sesaat. Ukuran keberhasilan menjadi sempit, sementara kedalaman makna hidup tidak sempat ditanamkan. Dalam situasi seperti ini, tekanan psikologis, rasa hampa, dan kebingungan arah menjadi hal yang tidak terhindarkan. Sebagian memilih jalan pintas untuk “meredakan” beban itu, termasuk melalui zat yang justru merusak dirinya.
Padahal, dalam pandangan Islam, kehidupan memiliki tujuan yang jelas dan mulia. Allah Swt. berfirman, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Ayat ini menegaskan bahwa hidup bukan sekadar menjalani rutinitas, tetapi memiliki orientasi yang tinggi: pengabdian kepada Sang Pencipta. Ketika tujuan ini dipahami, setiap aktivitas, termasuk belajar, bergaul, dan berkarya, memiliki arah yang bermakna.
Narkotika, dalam hal ini, bukan sekadar persoalan hukum, tetapi juga persoalan penjagaan akal. Islam sangat menekankan pentingnya menjaga akal sebagai salah satu tujuan utama syariat. Rasulullah saw. bersabda, “Setiap yang memabukkan adalah khamar, dan setiap yang memabukkan adalah haram” (HR. Muslim). Larangan ini bukan semata bentuk pembatasan, melainkan perlindungan terhadap potensi manusia agar tidak rusak oleh sesuatu yang merampas kesadaran dan kendali diri.
Namun, upaya menjaga generasi tidak cukup hanya dengan menyampaikan larangan. Diperlukan ekosistem yang mendukung tumbuhnya kesadaran tersebut. Keluarga menjadi ruang pertama yang membentuk cara pandang anak terhadap kehidupan. Keteladanan orang tua, kedekatan emosional, dan komunikasi yang hangat menjadi fondasi penting agar remaja tidak merasa berjalan sendirian dalam menghadapi kompleksitas hidup.
Di sisi lain, masyarakat juga memegang peran strategis. Kepekaan sosial, saling mengingatkan dalam kebaikan, merupakan bagian dari nilai luhur yang perlu dihidupkan kembali. Rasulullah saw. mengingatkan, “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya ” (HR. Muslim). Nilai ini bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menjaga agar kehidupan bersama tetap berada dalam koridor kebaikan.
Perkembangan teknologi juga perlu disikapi secara bijak. Media sosial, yang pada dasarnya merupakan sarana komunikasi, dapat berubah fungsi jika tidak disertai tanggung jawab. Informasi dan interaksi yang beredar di dalamnya memiliki pengaruh besar terhadap cara berpikir dan berperilaku remaja. Oleh karena itu, literasi digital dan pengawasan yang proporsional menjadi penting agar teknologi tetap berada pada jalur yang konstruktif.
Pada akhirnya, peran kebijakan publik juga tidak dapat diabaikan. Upaya pencegahan, penegakan hukum yang adil, serta pembinaan yang berkelanjutan merupakan bagian dari tanggung jawab bersama dalam menjaga generasi. Ketegasan diperlukan, tetapi harus disertai dengan keadilan dan orientasi perbaikan.
Lebih jauh dari itu, yang perlu dikembalikan adalah kesadaran akan fitrah manusia. Tidak ada remaja yang sejak awal memilih jalan kerusakan. Mereka hanya membutuhkan arah, makna, dan lingkungan yang mendukung. Ketika fitrah ini terjaga, pilihan-pilihan yang diambil pun akan lebih selaras dengan kebaikan.
Tulisan ini bukan untuk menyalahkan, melainkan sebagai refleksi bahwa di balik setiap kasus, ada sistem nilai, lingkungan, dan arah hidup yang perlu dievaluasi bersama. Karena menjaga generasi bukan hanya soal hari ini, tetapi tentang masa depan yang sedang kita bangun bersama.
Wallahu a’lam bishshawab.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
