Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Panggil saja Punuk

Ketika Artemis II Menyentuh Luar Angkasa Setelah Sekian Lama

Teknologi | 2026-04-16 04:20:06
Kru Artemis II sedang berfoto di depan roket SLS yang memboncengi pesawat ulang alik Orion https://www.marca.com/en/lifestyle/world-news/2026/03/31/69cb8fd1e2704e524a8b45a6.html

Pada 1 April 2026 pukul 18.35 waktu setempat, roket SLS (Space Launch System) NASA beserta pesawat ulang alik Orion meluncur dari Launch Complex 39B di Kennedy Space Center, Florida, membawa empat astronaut dalam misi Artemis II penerbangan berawak perdana program Artemis (Nasa, 2026). Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya berita sains biasa. Namun bagi siapa pun yang memahami sejarah eksplorasi luar angkasa, momen ini adalah sebuah tonggak peradaban.

Bukan Sekadar Perjalanan Biasa

Kru Artemis II yang terdiri dari Wiseman, Glover, Koch, dan Hansen berhasil menempuh perjalanan sejauh 694.481 mil, dan pada titik terjauhnya, mereka berada 252.756 mil dari Bumi melampaui rekor jarak terjauh manusia dari Bumi yang sebelumnya dipegang awak Apollo 13 pada 1970.

Artemis II adalah penerbangan berawak pertama melampaui orbit rendah Bumi sejak Apollo 17 pada 1972. Artinya, selama 54 tahun, Belum satupun manusia yang pernah sejauh ini dari Bumi, bukan karena tidak ingin melainkan karena seberapa luar biasanya tantangan yang harus diselesaikan untuk sampai ke sana.

Satu hal yang sering luput dari perhatian publik adalah keberanian yang dibutuhkan. NASA Associate Administrator Amit Kshatriya menegaskan bahwa keempat astronaut ini "menerima risiko yang signifikan demi ilmu pengetahuan yang diperoleh dan masa depan yang ingin dibangun bersama." Dalam era ketika banyak hal terasa bisa dilakukan dari balik layar, ada sesuatu yang sangat manusiawi dari empat orang yang mau naik ke atas roket berkekuatan 8,8 juta pon gaya dorong dan terbang melampaui batas yang belum disentuh siapa pun selama setengah abad.

Misi Ini Bukan Tentang Bulan Semata

Kesalahpahaman yang umum beredar adalah menganggap Artemis II "hanya" sebuah uji terbang seolah-olah karena para astronaut tidak mendarat di Bulan, pandangan ini kurang berdasar untuk membuktikannya.

Selama misi hampir 10 hari itu, kru berhasil mencapai semua tujuan utama: menguji sistem pendukung kehidupan, menerbangkan Orion secara manual, melakukan manuver untuk mengarahkan wahana ke Bulan, menyelesaikan lunar flyby dengan pemandangan unik sisi jauh Bulan, dan menuntaskan re-entry serta pemulihan yang aman.

Semua itu adalah data. Data yang akan menentukan apakah manusia bisa selamat dalam misi yang jauh lebih jauh dan jauh lebih lama di masa mendatang , termasuk ke Mars.

Misi sains Artemis II dirancang untuk menjadi fondasi eksplorasi manusia yang aman dan efisien ke Bulan dan Mars. Setiap sistem yang diuji, setiap anomali yang dicatat, setiap data kesehatan kru yang dikumpulkan semuanya adalah investasi untuk generasi penjelajah berikutnya.

Batu Loncatan Menuju Mars

Tentu saja, kita tidak boleh terlalu cepat berpuas diri setelah berhasil menjelajahi luar angkasa. Ada beberapa masalah teknis yang tercatat selama misi: sistem propulsi Orion mengalami kebocoran helium, dan sistem toilet kabin juga sempat bermasalah hal-hal yang perlu diperbaiki sebelum misi berikutnya. Hal ini menjadi pelajaran bahwa eksplorasi luar angkasa tidak pernah mudah.

Namun justru di sinilah letak kebesaran Artemis II: Mengakui dan menyadari masalah dalam perjalanan, lalu menemukan masalah sebelum masalah itu menjadi bencana.

NASA Administrator Jared Isaacman menyebut Artemis II sebagai "babak pembuka" , sebuah relay race yang akan membawa NASA dan mitra internasionalnya menuju pangkalan di Bulan, dan Ketujuan selanjutnya, Mars. Jika semua berjalan sesuai rencana, Artemis IV dijadwalkan mendarat di dekat kutub selatan Bulan pada akhir 2028, dan pangkalan bulan permanen ditargetkan berdiri pada 2032.

Penutup: Mengapa Ini Penting bagi Kita Semua

Di tengah berbagai krisis yang mengepung dunia perubahan iklim, ketidakstabilan geopolitik, kesenjangan ekonomi ada yang selalu bertanya: mengapa kita masih menghabiskan miliaran dolar untuk terbang ke Bulan?

Jawabannya mungkin tidak selalu soal teknologi atau anggaran. Kadang, ia soal imajinasi kolektif. Program Artemis adalah misi multi dekade NASA untuk mengembalikan manusia ke Bulan untuk pertama kali sejak 1972, membangun pangkalan jangka panjang di sana, dan pada akhirnya memungkinkan misi berawak ke Mars.

Setiap generasi butuh sesuatu untuk dipandang ke atas bukan dalam arti menyerah pada kenyataan, tapi dalam arti mempercayai bahwa masa depan bisa lebih besar dari masa kini. Artemis II adalah bukti bahwa manusia masih bisa melakukan hal-hal mustahil bagi sebagian orang.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image