Aku Terlihat Baik-Baik Saja, Tapi Tidak Semua Orang Tahu Aku Hidup dengan Lupus
Gaya Hidup | 2026-04-14 23:18:59"Aku sehat kok.”
Kalimat itu sering aku ucapkan.Terdengar sederhana, tapi sebenarnya tidak sepenuhnya jujur. Bukan karena aku ingin berbohong, tapi karena aku tidak ingin terlihat berbeda.
Dari luar, aku memang terlihat baik-baik saja. Aku tertawa, bercanda, dan menjalani hari seperti orang lain.
Aku terlihat kuat. Setidaknya, itu yang orang lain lihat.
Tapi tidak semua orang tahu, ada hari-hari di mana tubuhku terasa sangat lelah, bahkan tanpa alasan yang jelas.
Ada hari di mana bangun dari tempat tidur saja terasa seperti perjuangan.
Aku hidup dengan lupus.
Sebuah penyakit autoimun yang membuat sistem imun menyerang tubuh sendiri. Penyakit ini tidak selalu terlihat, tapi dampaknya nyata baik secara fisik maupun mental.
Dan mungkin, itu bagian tersulitnya. Ketika rasa sakit tidak terlihat, orang lain mengira semuanya baik-baik saja.
Secara fisik, aku sering merasa lelah.
Bukan lelah biasa yang hilang dengan istirahat. Ini lelah yang diam-diam menguras energi, yang membuatku harus memilih jujur pada tubuhku, atau tetap terlihat “normal”.
Dan seringkali, aku memilih tetap terlihat normal.
Secara mental, aku juga berjuang.
Aku tidak ingin dikasihani.
Aku tidak ingin dipandang lemah.
Tapi saat lupus kambuh, stres datang lebih mudah, pikiran terasa lebih berat, dan semuanya terasa tidak seimbang.
Di situ aku belajar, bahwa menjaga pikiran sama pentingnya dengan menjaga tubuh.
Dalam kehidupan sosial, aku juga merasakannya.
Saat aku sehat, aku bisa menjadi diriku yang ceria. Aku bisa tertawa, berbincang, dan hadir sepenuhnya.
Tapi saat tubuhku tidak mendukung, bahkan untuk sekadar bertemu orang lain saja terasa berat.
Bukan karena aku tidak peduli, tapi karena aku sedang berusaha bertahan.
Aku pernah bertanya, “Kenapa harus aku?”
Aku pernah menyalahkan keadaan.
Aku pernah merasa semuanya tidak adil.
Tapi seiring waktu, aku mulai sadar tidak semua hal dalam hidup harus dimengerti, beberapa hanya perlu diterima.
Dan perlahan, aku belajar ikhlas.
Aku beruntung, aku tidak sendiri.
Ada orang tua dan orang-orang terdekat yang selalu mendukungku, yang tetap ada bahkan di saat aku merasa paling lemah.
Mereka mengingatkanku bahwa aku masih bisa berjalan ,meskipun jalannya tidak selalu mudah.
Lupus mengubah banyak hal dalam hidupku.
Aku belajar menjaga pola hidup lebih sehat.
Aku belajar mengatur pikiranku agar tidak terlalu larut dalam overthinking.
Aku belajar mendengarkan tubuhku sendiri.
Tapi lebih dari itu, aku belajar menerima diriku apa adanya.
Aku tidak ingin dilihat sebagai orang yang lemah. Aku juga tidak ingin dikasihani.
Aku hanya ingin dilihat sebagai diriku yang tetap bisa tersenyum, tetap bisa bahagia, dan tetap menjalani hidup.
Karena sebenarnya, aku tidak lemah.
Aku hanya sedang berjuang, di dalam tubuh yang tidak selalu bisa diajak bekerja sama.
Mungkin aku terlihat baik-baik saja. Tapi setiap hari, aku sedang belajar untuk tetap kuat dengan caraku sendiri.
Tidak semua luka terlihat.
Tidak semua perjuangan terdengar.
Dan mungkin, di sekitar kita, ada seseorang yang terlihat baik-baik saja padahal Ia sedang berjuang diam-diam.
REFERENSI
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
