Menjaga Cahaya Kebaikan di Tengah Konflik Perang Antara AS dan Iran
Kolom | 2026-04-01 08:57:38
Menjaga Cahaya Kebaikan Di Tengah Konflik Perang Antara AS dan Iran.
Oleh : Indar Cahyanto
Guru Sejarah SMAN 25 Jakarta, Sekretaris APKS PGRI DKI Jakarta, Aktifis PC Muhammadiyah Ciracas
Sudah satu bulan penuh kita mendengar tragedi perang di belahan dunia yang lain tepatnya dikawasan Timur Tengah. Proses ketegangan antara negara adidaya dan Sekutunya Israel dengan lawannya negara Islam Iran. Harusnya Ketika Cahaya kebaikan melalui bulan Ramadhan diisi dengan kedamaian dan menjaga peradaban berkemajuan.
Perang yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dengan sekutunya Israel membabi buta menghantam Negara Iran sehingga menewaskan Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Khaimeni Bersama peminpim Iran lainnya. Rudal yang menghamtan gsdung pemerintahan di Iran di Rudal oleh Amerika Serikat Bersama Israel.
Kemudian di balas oleh Iran dengan mengirim senjata modernnya berupa rudal dengan menghantam pusat kekuasaan Israel dan Amerika serikat di Timur Tengah. Sehingga kondisi porak poranda Gedung di Israel seketika hancur luluh lantas begitu pun pangkalan militer AS dikabarkan terkena rudal dari negara Iran.
Sulit membayangkan bagi kita orang awam sebenarnya apa yang dicari dan dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran secara seporadis. Bahkan Ramadan yang harusnya disuguhkan dengan berita narasi kebaikan ini sebaliknya disuguhkan dengan berita konflik bersenjata. Ntah nalar rapa yang dibangun oleh para pemimpin Amerika Serikat dan Israel ingin merebut kekuasaan dari negara Iran.
Dunia yang harusnya adem dan penuh kebaikan untuk membanguan peradaban yang adiluhung untuk anak cucu kita. Justru tersandera oleh konflik kepentingan egoism negara adidaya dan adikuasa. Logika kekuasaan kepentingan negara adikuasa dan adidaya yang katanya ingin menlindung HAM dan Demokrasi berbanding terbalik dengan kenyataan malah menghancurkan HAM dan Demokrasi.
Belum selesai masalah Palestina dan Israel yang sudah bertahun-tahun konflik bersenjata bahkan memakan ribuan korban jiwa dari Masyarakat sipil Palestina yang menjadi korban kebiadaban negara Israel dengan senjata dan rudalnya menghantam perkampungan sekolah bahkan rumah sakit.
Dalam tataran ini logika penguasa itu selalu unggul diatas masyarakat sipil yang menjadi korban keserakahan egoime kekuasaan sesaat. Tragedi kemanusian di abad modern yang katanya dunia semakin canggih akan tetapi sebaliknya dunia menjadi kerdil dimana manusia sesama manusia saling menikam demi ambisi kekuasaan. Dinamika kehidupan manusia modern diwarnai dengan ambisi kepentingan pribadi dan kelompok diatas logika egoism kekuasaan semata.
Dinamika potret kehidupan saat ini perlu kita salami sebagai tempat pembelajaran dan sebagai Latihan untuk terus membaca dalam berproses bertranformasi diri. Fase Pembelajaran: Dari Lahir ke Kematian Dalam proses belajar tanpa bangku ini, manusia melewati tahapan-tahapan yang dalam tasawuf disebut sebagai pendakian spiritual: Pertama Fase Kelahiran atau pendaftaran. Kelahiran adalah momen di mana ruh yang suci memasuki dimensi materi. Ini adalah hari pertama pembelajaran, di mana manusia mulai belajar tentang keterbatasan dan kebutuhan akan perlindungan. Kedua. Fase Dewasa (Ujian Tengah Semester). Masa hidup di dunia adalah masa ujian (Ibtila). Di sini, manusia diuji dengan harta, takhta, dan cinta. Tasawuf mengajarkan bahwa "kelulusan" di tahap ini bukan diukur dari gelar akademik, melainkan dari sejauh mana hati tetap terpaut kepada Allah di tengah hiruk-pikuk dunia. Ketiga. Fase Kematian (Wisuda Hakiki) Dalam tasawuf, kematian bukanlah akhir, melainkan Wisuda Kematian adalah jembatan yang menghubungkan kekasih dengan yang dicintai. Bagi mereka yang belajar dengan baik, kematian adalah saat menerima ijazah berupa perjumpaan dengan Ilahi Liqa'ullah
Mengapa Allah Membiarkan Kemaksiatan?
Segela bentuk peperangan dan konflik pada saat ini yang terekam dan segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini tidak lepas dari kehendak (Iradah) dan hikmah Allah Swt. Maka ketika kita bertanya mengapa kemaksiatan seolah dibiarkan merajalela, para ulama terdahulu memberikan beberapa pengertian dan pandangannya. Allah memiliki Nama-nama yang berpasangan. Ada Nama yang menunjukkan Keindahan (Jamal) seperti Al-Ghaffar (Maha Pengampun) dan Al-Afuw (Maha Pemaaf). Ada pula Nama yang menunjukkan Keagungan (Jalal) seperti Al-Qahhar (Maha Menundukkan) dan Al-Muntaqim (Maha Pemberi Balasan).
Bagi seorang penempuh jalan spiritual, bahaya terbesar bukanlah kemaksiatan lahiriah semata, melainkan kesombongan batin karena merasa diri paling suci. Ketaatan yang menimbulkan kesombongan lebih berbahaya daripada kemaksiatan yang menimbulkan penyesalan. Tempat rasa penyelasan itu ada dalam kehidupan ada dunia ini yang diciptakan sebagai panggung ujian dan cobaan. Dalam ilmu Tasawuf diajarkan bahwa kemaksiatan adalah rasa "kegelapan" yang diperlukan agar ada "cahaya" kebenaran yang dapat terlihat jelas. Tanpa adanya lawan kata (kontras), sesuatu sulit untuk dikenali. Sebab Cahaya hanya bisa dikenali karena adanya kegelapan. Bangunan rasa ketaatan terasa manis karena kita melihat pahitnya dampak kemaksiatan. Begitu Ketika rasa itu dalam hati disinari oleh Cahaya kebaikan maka bangunan kegelapan akan tampak terang benderang
Dalam sebuah hikmah keteladan disebutkan: bahwa "Maksiat yang melahirkan rasa hina dan hancurnya hati lebih baik daripada ketaatan yang melahirkan rasa mulia dan kesombongan." Kemaksiatan yang merajalela seringkali menjadi cermin bagi orang beriman untuk menyadari kelemahan dirinya dan tidak merasa lebih baik dari orang lain. Oleh sebab itu kita perlu belajar untuk bertransformasi terhadap nilai-nilai kebaikan disinilah letak madrasah Pendidikan spiritual dalam mengembangkan nilai-nilai ketaqwaan.
Ketika manusia diberikan amanah berupa akal dan kehendak bebas (ikhtiyar). Membiarkan manusia memilih (bahkan memilih maksiat) adalah bentuk penghormatan Allah terhadap martabat manusia sebagai Khalifah. Namun, "dibiarkan" di sini bukan berarti disetujui. Allah memberikan peringatan melalui nabi dan kitab suci. Dalam ilmu tasawuf, pembiaran ini disebut Istidraj bagi mereka yang bebal, atau Tarbiyah (pendidikan) bagi mereka yang masih memiliki cahaya iman di hatinya. Proses itulah sebenarnya kita lakukan pada satu bulan menunaikan ibadah shaum dan qiyam di Bulan Ramadan.
Dalam konteks salah satu bentuk kemaksiatan yakni Ketika AS menyerang Iran harusnya kita memahami konteks dalam teks terdahulu bahwa Bangsa Persia yang kini dikenal sebagai Iran. Sejatinya memiliki jejak sejarah dan spiritual yang mendalam dalam narasi Al-Qur'an maupun tradisi Islam. Pertama. Simbolisme Surah Ar-Rum: Kemenangan Ruh atas Nafsu Secara historis, Al-Qur'an menyinggung Persia dalam konteks peperangan melawan Romawi (Surah Ar-Rum). Namun, para sufi sering melihat peristiwa lahiriah ini sebagai cermin batiniah.
Ada proses Tafsir Isyari: Kekaisaran besar seperti Persia sering disimbolkan sebagai kekuatan intelektual dan peradaban yang tinggi. Kemenangan atau kekalahan sebuah bangsa dalam Al-Qur'an dipandang sebagai siklus Tajalli (penampakan Tuhan) dalam sejarah.Juga ada Pelajaran Sufi: Sebagaimana kekuasaan duniawi berganti, kekuasaan "aku" (ego) pun harus tunduk pada ketetapan Ilahi. Persia dalam konteah ini mewakili kemegahan dunia yang pada akhirnya harus menunduk pada cahaya wahyu.
Kedua Isyarat "Kaum yang Dicintai Allah" Dalam beberapa ayat, seperti Surah Al-Maidah: 54, Allah Berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin dan bersikap tegas terhadap orang-orang kafir. Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut pada celaan orang yang mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.
Ketiga Kontribusi Intelektual-Spiritual Secara maknawi, banyak tokoh besar tasawuf berasal dari tanah Persia, seperti Al-Ghazali, Rumi, dan Attar. Dalam pandangan sufi, ini adalah realisasi dari janji Al-Qur'an tentang kaum yang membawa "ilmu dan iman" ketika bangsa lain mengabaikannya. Kekuatan Rasa (Dzauq): Budaya Persia membawa nuansa sastra dan rasa ke dalam pemahaman Al-Qur'an, mengubah hukum yang kaku menjadi cinta yang mengalir. Jadi, bangsa Persia dalam Al-Qur'an dan tradisi kenabian dipandang sebagai jiwa yang haus akan cahaya. Jika bangsa Arab dipilih untuk membawa teks (wahyu), maka bangsa Persia dalam sejarah sering dilihat sebagai kaum yang mengeksplorasi kedalaman makna (bathin) dari teks tersebut melalui kacamata cinta dan makrifat.
Pada akhirnya, para sufi besar seperti Imam Al-Ghazali menekankan bahwa ada rahasia takdir yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia yang terbatas. Allah membiarkan segalanya berjalan sesuai dengan harmoni alam semesta yang Dia rancang. Merajalelanya maksiat di akhir zaman juga merupakan bagian dari skenario besar untuk menyaring mana hamba yang benar-benar mencari-Nya di tengah hiruk-pikuk dunia. https://www.tiktok.com/@ngaji_roso.buya.chozin/photo/761580788698340071
Membina Cahaya
Dalam melihat fenomena yang terjadi di dunia saat ini maka kita perlu belajar mawa diri bahwa hidup sejak lahir sampai mati adalah kuliah tanpa bangku menggambarkan realitas eksistensi manusia sebagai murid abadi di universitas semesta. Bagi manusia pembelajar memandang bahwa dunia sebagai madrasah tempat belajar. Dunia bukan sekadar tempat pemuasan nafsu, melainkan sebuah Madrasah yang diciptakan Allah untuk memperkenalkan diri-Nya.
Proses pembelajaran yang dilakukan secara informal dan non formal dimana kurikulumnya merupakan peristiwa sehari-hari, suka dan duka. Guru atau Dosennya: Pengalaman, ujian, dan bimbingan batin (Ilham) dibawah kendali Allah SWT. Bangku Kuliahnya semua tidak ada yang fisik melainkan bangkunya adalah kesadaran dan hati nurani.
Membaca Kitab Semesta (Ayat Kauniyah) dalam Islam mengajarkan bahwa Allah menuliskan "ilmu-Nya" dalam dua kitab: Al-Qur'an (ayat Qauliyah) dan alam semesta beserta isinya (ayat Kauniyah). Hidup adalah proses membaca iqra diri sendiri. Sesuai pepatah: Man 'arafa nafsahu, faqad 'arafa Rabbahu (Siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya).
Allah SWT Sang pencipta Alam Semesta merupakan Guru yang tak terlihat oleh mata telanjang akan tetapi dapat dirasakan melalui hati.Di dunia ini meskipun disebut "tanpa bangku", kuliah ini memiliki instruktur berupa pertama nafsu sebagai lawan tanding untuk melatih kekuatan iman. Kedua Akal: Sebagai alat analisis logis.ketiga Ruh/Qalb: Sebagai penerima kebenaran sejati.
Menganggap hidup sebagai kuliah tanpa bangku berarti kita harus selalu dalam posisi Thalabul 'Ilmi (menuntut ilmu). Tidak ada waktu untuk berhenti belajar. Kesalahan adalah bagian dari eksperimen batin, dan tobat adalah cara untuk memperbaiki "nilai" yang buruk. Sebab tujuan akhir dari kuliah ini bukanlah menjadi pintar secara intelektual, melainkan menjadi Insan Kamil (manusia sempurna) yang hatinya telah menjadi cermin bagi asma dan sifat-sifat Allah. Hidup ini sebagai Perjalanan Ilmu sehingga etape dinamika kehidupan bis akita renungi dalam jiwa.
Dalam memahami kejadian perang dan dinamika saat ini serta kehidupan lainnya dalam memahami ajaran Islam. kemaksiatan yang terjadi bukan berarti Allah kalah atau tidak peduli. Justru di balik kegelapan maksiat, Allah menyediakan pintu Taubat yang merupakan salah satu maqam (kedudukan) tertinggi bagi seorang hamba untuk kembali dan tenggelam dalam samudera rahmat-Nya. Bahkan dibalik itu Allah menyediakan pintu pembelajaran bagi seluruh umat manusia untuk membangun Cahaya kebaikan kepada seluruh umat manusia di muka bumi
Jika tidak ada dosa atau kemaksiatan, bagaimana sifat Maha Pengampun Allah akan nampak? Ulama terdahulu mengisyaratkan bahwa terkadang Allah membiarkan hamba-Nya jatuh dalam dosa agar sang hamba mengenal sisi kelembutan Allah melalui pintu taubat. Peperangan yang terjadi kita cuma bisa berdoa agar mereka semua kembali ke jalan Tuhannya dan merefleksikan ajaran agama sebagai transformasi humanisasi kemanusian.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
