Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Universitas Ahmad Dahlan

Memaknai Lailatul Qadar

Agama | 2026-04-01 08:20:58
Ceramah tarawih Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Mawar)

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menyelenggarakan rangkaian kegiatan Ramadhan di Kampus (RDK) 1447 H melalui ceramah tarawih yang menghadirkan Prof. Dr. Ustadi Hamzah, M.Ag. sebagai penceramah. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Sabtu, 14 Maret 2026 dan diikuti oleh jamaah dari kalangan sivitas akademika serta masyarakat umum.

Dalam ceramahnya, Prof. Ustadi Hamzah mengangkat refleksi tentang pemahaman Lailatul Qadar yang selama ini berkembang di masyarakat. Ia menjelaskan bahwa banyak umat Islam yang lebih fokus mencari waktu terjadinya Lailatul Qadar, padahal yang paling penting adalah memahami pesan Al-Qur’an yang diturunkan pada malam tersebut. “Selama ini perhatian kita lebih tertuju pada malam Lailatul Qadarnya, padahal yang paling penting adalah ‘hu’ dalam ayat ‘inna anzalnahu fi lailatil qadar’, yaitu Al-Qur’annya,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an menyebutkan turunnya wahyu pada malam yang mulia sebagaimana dalam Surah Al-Qadr dan ayat lain yang menyebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam yang penuh berkah. Oleh karena itu, menurutnya, esensi Lailatul Qadar tidak hanya terletak pada waktu terjadinya, tetapi pada kehadiran Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup manusia. “Tidak ada malam yang disebut Lailatul Qadar tanpa adanya Al-Qur’an. Karena itu, yang seharusnya menjadi fokus kita adalah bagaimana kita membaca, mempelajari, dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa para ulama memiliki beberapa pandangan mengenai Lailatul Qadar. Ada yang berpendapat bahwa malam tersebut terjadi pada saat pertama kali Al-Qur’an diturunkan, ada pula yang menyebutkan bahwa Lailatul Qadar berada pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Bahkan, terdapat pandangan ulama yang memaknai Lailatul Qadar sebagai momentum spiritual yang dapat diraih kapan saja ketika seseorang benar-benar dekat dengan Al-Qur’an. “Jika kita fokus pada Al-Qur’an, sebenarnya kita tidak perlu terlalu merisaukan apakah kita mendapatkan Lailatul Qadar atau tidak. Ketika kita membaca, mempelajari, dan mengamalkan Al-Qur’an, maka keberkahan Lailatul Qadar akan hadir dengan sendirinya,” ujarnya.

Prof. Ustadi Hamzah juga menekankan bahwa keberkahan bulan Ramadan tidak datang dengan sendirinya, melainkan karena di dalam bulan tersebut Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. “Keberkahan Ramadan bukan semata-mata karena bulannya, tetapi karena di dalamnya diturunkan Al-Qur’an yang menjadi petunjuk bagi manusia, penjelasan tentang petunjuk itu, serta pembeda antara yang benar dan yang salah,” tuturnya.

Di akhir ceramah, ia mengajak jamaah untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat kehidupan spiritual selama Ramadan dan seterusnya. Menurutnya, cara terbaik untuk menghidupkan Ramadan adalah dengan memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an, baik melalui membaca, mempelajari, maupun mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. “Marilah kita konsentrasikan perhatian kita kepada Al-Qur’an. Baca Al-Qur’an, pelajari Al-Qur’an, dan amalkan Al-Qur’an. Dengan begitu, Ramadan kita akan menjadi Ramadan yang penuh berkah karena diisi dengan semangat Al-Qur’an,” tutupnya. (Mawar)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image