Industri Halal dapat Berkembang Bahkan di Negara Minoritas Muslim
Agama | 2026-03-25 01:17:16
Dulu, kata “halal” hanya dapat ditemui di pasar tradisional, rumah makan Padang atau toko oleh-oleh di Timur Tengah yang identik dengan agama umat Islam, tapi mari kita lihat perubahan sekarang.
Di supermarket besar London, New York, atau Tokyo, label “halal” sudah berdampingan dengan produk organik dan non-GMO. Di Paris tidak sedikit restoran bersertifikat halal menjadi destinasi kulliner yang rame, bukan hanya untuk wisatawan Muslim, tapi juga warga lokal yang penasaran.
Industri halal sudah berevolusi dari yang hanya sekadar kebutuhan keagamaan menjadi fenomena ekonomi global bernilai triliunan dolar. Hal yang membuat semakin menarik yaitu pertumbuhan ini tidak hanya terjadi di negara-negara mayoritas Muslim, namun juga negara minoritas Muslim seperti Brazil, Thailand, Australia, Jerman, Amerika Serikat yang merupakan pemain utama dalam industri halal saat ini.
Industri halal dapat menyebar sejauh ini disebabkan oleh dua hal, yaitu permintaan yang terus naik dan penawaran yang siap untuk menangkap peluang.
Dalam sisi permintaan, Muslim semakin menyebar ke penjuru global dan Non-Muslim yang semakin sadar akan kualitas. Bayangkan saat ini ada sekitar 2 miliar umat Muslim di dunia, yaitu hampir seperempat populasi global dan umat Muslim tidak hanya tinggal di negara mayoritas Muslim. Jutaan di antaranya ada di Jerman ada lebih dari 4,2 juta Muslim, di Inggris ada 2,6 juta Muslim, dan di Amerika Serikat ada sekitar 4,45 juta Muslim.
Angka-angka ini bukan hanya sekedar statistik, angka ini adalah konsumen dengan daya beli yang nyata dimana total pengeluaran konsumen Muslim di seluruh sektor, mulai dari makanan sampai pariwisata telah mencapai lebih dari USD 2,43 triliun pada 2023.
Perubahan perilaku konsumen non-Muslim menjadi salah satu sebab dalam peningkatan permintaan industri halal, seperti halnya di Amerika Serikat dimana produk halal semakin diminati kalangan milenial dan Gen Z, mereka menganggap produk halal memiliki kualitas yang lebih tinggi dari proses penyembelihan yang higenis, penanganan yang bersih, prinsip etis yang ketat. Hal inni berkesinambungan dengan tren ethical consumption yang lagi naik daun di mana orang mulai peduli asal makanan mereka dan bagaimana prosesnya.
Tanpa disadari, Halal jadi simbol kualitas dan kepercayaan.
Top produsen industri halal ternyata merupakan negara dengan minoritas Muslim.
Brazil merupakan pengekspor daging halal terbesar di dunia, Thailand merupakan raja makanan olahan halal, dan perusahaan - perusahaan raksasa global seperti Nestle (Swiss), Walmart (AS), dan Unilever justru menjadi pemain imti dalam rantai pasok halal global. Mereka memiliki lini produksi khusus, sertifikasi lengkap, dan jaringan distribusi yang menjangkau seluruh penjuru dunia. Negara-negara non-Muslim melihat ini sebagai peluang bisnis, dan mereka bergerak lebih cepat dibandingkan dengan negara mayoritas muslim.
Sektor yang berpotensi dalam industri halal bukan hanya sektor makanan, tapi masih luas lagi hal yang bisa ditingkatkan dalam industri halal, seperti :
- Kosmetik halal merupakan salah satu sektor dengan pertumbuhan paling cepat dengan nilai USD 87 miliar di 2023 dan diproyeksikan tumbuh hampir 10% per tahun. Semakin banyak konsumen, terutama perempuan yang peduli terhadap kandunngan produk kecantika, seperti kosmetik halal tabf bebas alkoholl dan kolagen babi menjadi pilihan utama bagi perempuan yang memginginkan clean beauty. Korea Selatanm yang sudah dikenal sebagai rajanya industri kecantikan mulai melirik pasar ini.
- Pariwisata ramah Muslim dengan nilai USD 217 miliar seperti di Jepang, Thailand, Korea Selatan berlomba-lomba menjadikan tempatnya sebagai destinasi turis wisata hinngga akomodasi yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan. Strategi ini terbukti berhasil menarik wisatawan dari Timur Tengah dan Asia Tenggara yang memiliki daya beli tinggi.
- Modest fashion dengan nilai USD 327 miliar, tren fashion muslim yang modis dan elegan sudah mendunia. Seperti perancang busana di Paris, Milan, dan London mulai mengeluarkan koleksi modest wear yang memadukan nilai syar’i dengan tren mode global
- Farmasi halal pasca pandemi COVID-19, kesadaran terkait keamanan produk farmasi melonjak, pasar farmasi halal bernilai USD 107,1 miliar ini menawarkan peluang besar bagi pasar global, mulai dari vitamin, suplemen, sampai vaksin yang diproduksi dengan proses halal dan higenis.
Namun, peluang gede dalam industri halal tidak luput dari beberapa hambatan yang perlu kita lalui juga, seperti :
- Standar sertifikasi yang masih beragam merupakan tantangan terbesar. Sampau sekarang belum ada satu standar sertifikasi halal yang diakui secara global, dimana seperti Malaysia (JAKIM) memiliki standarnya sendiri, begitu pula Indonesia (BPJPH), negara lain juga punya otoritas masing-masing sehingga produk yang sudah bersertifikat halal di satu negara belum tentu diakui di negara lain dan perusahaan harus mengurus sertifikasi ulang yang pastinya memakan banyak biaya dan waktu sehingga cenderung ribet dan mahal.
- Rantai pasok yang belum memadai di negara-negara non-Muslim, rantai pasok produk halal belum selengkap di negara mayoritas Muslim. Dari ketersediaan bahan baku bersertifikat halal, fasilitas penyimpanan terpisah untuk menghindari kontaminasi sampai jaringan logistik yang menjaga integritas produk, semua kebutuhan ini membutuhkan investasi besar dan waktu yang tidak sebentar.
- Stigma dan kurangnya edukasi di beberapa negara, industri halal masih memiliki stiga negatif terhadap simbol-simbol Islam, termasuk label halal. Ini dapat menjadi hambatan psikologis bagi produsen yang ingin memasarkan produknya secara terbuka. Ditambah lagi, banyak masyarakat non-Muslim yang belum paham bahwa halal bukan hanya soal agama tapi juga soal kualitas, keamanan, dan etika produksi edukasi masih menjadi tugas besar.
Jadi kesimpulannya, Halal memang untuk semua.
Negara dengan populasi Muslim minoritas bukan lagi sekadar pasar, nemun mereka merupakan produsen, inovator, dan pemain kunci dalam ekosistem halal global. Tantangan memang masih ada, namu dengan harmonisasi standar Internasional, investasi di rantai pasok, dan edukasi yang merata,hambatan-hambatan dapat dilalui. Halal bukan lagi sekedar label keagamaan, halal sudah menjadi bahasa universal mengenai kualitas, kepercayaan, dan gaya hidup yang bertanggung jawab, dan di dunia yang makin terhubung ini istilah “Halal” akan terus menyebar bahkan ke negeri-negeri yang dulu sama sekali asing terhadap konsepnya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
