Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ahmad Dahri

Hari Raya Mubassyiran wa Nadziran

Kolom | 2026-03-21 18:53:46

Hari Raya menjadi momentum mubassyiran (kabar gembira), momentum penanda kembali pada semula, entah dimakna suci atau yang lain.

Namun, ia selalu datang dengan dua wajah, satu penuh pelukan hangat, satu lagi penuh gengsi yang dibungkus rapi seperti kue kering di toples kaca.

Ilustrasi Kumpul Keluarga (sumber freepik)

Di ruang tamu yang dipenuhi beragam kue dan suguhan tawa yang kadang terlalu keras, kita sering lupa bahwa yang berkumpul bukan hanya keluarga, tetapi nadziran (peringatan) dari sebuah ego-ego kecil yang ikut duduk manis, menunggu waktu unjuk gigi.

Yang mafhum kita tahu adalah cerita sukses yang disusun seperti katalog prestasi, kondisi seakan-akan damai rukun sentosa namun penuh riak dalam dinamika perang dingin, dan berbagai pernak pernik dominasi yang lain.

Fatalnya, kadang yang dibahas adalah bab kenaikan jabatan, cicilan rumah yang hampir lunas, show up eksistensi, sampai anak yang sudah hafal alfabet sebelum genap tiga tahun.

Semua disampaikan dengan senyum, tentu saja senyum yang tipis batasnya antara berbagi kabar dan pamer terselubung. Di sudut lain, ada yang hanya mengangguk, sesekali tertawa, sambil menelan pertanyaan-pertanyaan yang terasa nyengkal di ujung tenggorokan.

Hari Raya, yang katanya tentang kembali suci, sering kali berubah menjadi panggung kecil tempat kita saling mengukur. Seolah-olah silaturahmi tak lengkap tanpa sedikit kompetisi.

Padahal, jika dipikir-pikir, siapa yang benar-benar menang dalam perlombaan tak resmi ini? Apakah yang paling banyak cerita, atau yang paling pandai menyembunyikan lelahnya?

Kita sering mengaku datang untuk mempererat hubungan, tapi diam-diam sibuk mempertegas jarak. Jarak antara yang "sudah berhasil" dan yang "masih berproses". Jarak antara yang dianggap membanggakan dan yang sekadar "ya sudah, nanti juga nyusul". Ironisnya, semua ini terjadi di bawah payung kata "keluarga" sebuah kata yang seharusnya paling ramah terhadap ketidaksempurnaan.

Di meja makan, percakapan kadang berubah jadi semacam talk show tanpa moderator. Topiknya berputar cepat, dari politik, ekonomi, sampai gosip tetangga yang bahkan tak hadir di ruangan itu. Masing-masing merasa punya hak penuh untuk berpendapat, dan lebih dari itu, untuk merasa paling benar.

Yang muda memilih diam, bukan karena tak punya suara, tapi karena sadar bahwa suara mereka sering dianggap angin lalu. Yang tua bicara panjang lebar, kadang lupa bahwa didengar tak selalu berarti dipahami.

Namun, di balik semua itu, ada momen-momen kecil yang jujur. Seorang ibu yang diam-diam menambah lauk ke piring anaknya. Sepupu yang tiba-tiba tertawa terbahak karena mengingat kenangan masa kecil. Atau obrolan singkat di teras, ketika dua orang akhirnya berbicara tanpa topeng, tanpa perlu membuktikan apa-apa.

Momen-momen ini seperti jeda yang mengingatkan, mungkin esensi Hari Raya memang masih ada, hanya tertutup oleh kebisingan ego yang terlalu berisik.

Egoisme di Hari Raya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru, dan mungkin tak akan benar-benar hilang. Ia tumbuh dari kebutuhan manusia untuk diakui, dihargai, dan sedikit banyak dikagumi. Tapi masalahnya, ketika kebutuhan itu menjadi terlalu dominan, kita lupa bagaimana caranya hadir dengan tulus. Kita lebih sibuk memikirkan bagaimana terlihat daripada bagaimana merasakan.

Lucunya, sering kali kita pulang dari perayaan dengan perasaan campur aduk. Perut kenyang, hati belum tentu.

Ada yang merasa termotivasi, ada yang justru makin ragu pada dirinya sendiri. Ada yang pulang dengan cerita kemenangan, ada pula yang membawa pulang diam yang panjang. Semua itu terjadi dalam satu hari yang sama, di bawah label yang sama; Hari Raya.

Mungkin, yang perlu kita lakukan bukan menghapus ego karena itu hampir mustahil melainkan menertawakannya sedikit. Menyadari bahwa tidak semua hal harus dibandingkan, tidak semua pertanyaan harus dijawab, dan tidak semua cerita harus dibumbui agar terdengar lebih hebat.

Kadang, cukup hadir, mendengar, dan menerima bahwa setiap orang sedang berjalan di waktunya masing-masing.

Hari Raya bukan tentang siapa yang paling bersinar di ruang keluarga, tetapi tentang siapa yang mampu meredupkan egonya cukup lama untuk benar-benar melihat orang lain.

Dan jika itu terasa sulit, mungkin kita bisa mulai dari hal sederhana; menahan satu pertanyaan yang tak perlu, mengurangi satu cerita yang berlebihan, atau sekadar mendengarkan tanpa menyiapkan balasan.

Karena bisa jadi, dalam kesederhanaan itulah, kita menemukan kembali makna pulang yang sesungguhnya.[]

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image