Kala Al-Quran Menjadi Pelipur Lara Penyintas Banjir Aceh
Filantropi | 2026-03-18 09:30:15
DTPEDULI.ORG | BANDA ACEH - Gemuruh air bah yang menerjang pada akhir November 2025 lalu memang telah berlalu, namun traumanya masih lekat dalam ingatan Daryati. Warga Alue Kuta, Bireuen ini hanya bisa terpaku menatap hamparan lumpur yang kini menutup jejak rumahnya. Tak ada dinding yang tersisa, tak ada atap untuk bernaung. Baju, perabot, hingga kitab suci Al-Qur'an miliknya lenyap ditelan arus banjir bandang yang terjadi tiga bulan silam.
Saat fajar Ramadhan 1447 H menyapa, Daryati dan ratusan warga lainnya masih harus bertahan di pengungsian. Di saat keluarga lain berbuka puasa di kehangatan rumah, mereka bersahur di bawah tenda darurat dengan alas seadanya. Namun, di tengah keterbatasan itu, ada satu kerinduan yang membuncah, yakni kerinduan untuk kembali mendekap kalam Ilahi di bulan suci.
"Waktu datang bantuan, Aina tidak minta apa-apa. Dikasih jajan pun tidak mau. Dia cuma minta Al-Qur'an sama Bapak relawan," kenang Daryati dengan suara bergetar.
Menyalurkan Cahaya di Tengah Ujian Puasa
Merespons kerinduan para penyintas yang ingin menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan tadarus, DT Peduli bersama Wakaf DT bergerak menyisir wilayah terdampak. Pada Sabtu (21/2/2026), tim menyalurkan Wakaf Mushaf Al-Qur'an di Alue Kuta, Bireuen dan Riseh Teungoh, Aceh Utara. Perjalanan berlanjut pada Minggu (22/2/2026) menuju Lhok Sandeng, Pidie Jaya) dan Manyang Lancok, Pidie.
Kehadiran mushaf baru ini laksana oase di tengah padang pasir bagi warga yang telah kehilangan segalanya sejak musibah November lalu. Di Riseh Teungoh, seorang anak kecil bernama Nazwa Albina dengan malu-malu mendekati relawan. Meski belum lancar membaca, ia memeluk erat mushaf tersebut.
"Ini buat Bunda, biar Bunda bisa baca," ucapnya polos. Bagi Nazwa, membawa pulang Al-Qur'an adalah kado Ramadhan paling berharga untuk ibundanya.
Kekuatan Ibadah di Pengungsian
Bagi para penyintas, Ramadhan tahun ini adalah momentum untuk bersimpuh lebih dalam, memohon kekuatan pascabencana. Fatimah (48), penyintas di Lhok Sandeng, mengungkapkan betapa berartinya bantuan ini. Baginya, kehilangan rumah adalah ujian fisik, namun tidak bisa bertadarus di bulan Ramadhan adalah kesedihan yang tak terperi.
"Terima kasih kepada Wakaf DT dan DT Peduli. Semoga Allah memberi balasan sebanyak-banyaknya, selamat iman bagi saudara-saudara kami yang telah membantu," ujar Fatimah tulus.
Daryati pun menyimpan asa besar. Meski rumahnya belum kembali tegak, ia ingin Ramadhan ini tetap bermakna. Ia berharap anak-anaknya tetap bisa mengaji di bawah bimbingan Teungku Ti di pengungsian.
"Senang sekali. Ini yang diperlukan anak-anak. Kami sangat senang kalau sudah punya Al-Qur'an lagi, karena semuanya sudah hilang kemarin," ungkap Daryati sambil terisak.
Melalui Wakaf Al-Qur'an, para donatur bukan hanya meneguhkan kepedulian di Bulan Ramadhan, tetapi juga mengirimkan harapan bahwa meski rumah telah hanyut, iman tak boleh ikut larut. (Agus ID)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
